Daerah

915 Hektare Lahan di Kukar Terbakar, Sanga-Sanga Jadi Wilayah Terparah

Supri Yadha — Kaltim Today 28 Agustus 2026 20:09
915 Hektare Lahan di Kukar Terbakar, Sanga-Sanga Jadi Wilayah Terparah
Kondisi Karhutla di Kecamatan Sangasanga. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Kartanegara (Kukar) sepanjang Agustus 2026 telah menghanguskan lahan lebih dari 900 hektare. 

Hingga 26 Agustus, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat sedikitnya 67 kejadian karhutla dengan total luasan mencapai 915,68 hektare.

Data sementara BPBD Kukar menunjukkan, Sanga-Sanga menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar. Total area yang terdampak mencapai 340 hektare, dengan kebakaran di Kelurahan Pendingin menyumbang luasan terbesar, yakni sekitar 304 hektare.

Setelah Sanga-Sanga, luasan karhutla terbesar tercatat di Muara Kaman dengan sekitar 130 hektare. Kemudian Samboja 126 hektare, Muara Badak 107,25 hektare, Tabang 100 hektare, serta Muara Muntai 74 hektare.

Karhutla juga terjadi di sejumlah kecamatan lain, meski luasan yang terbakar jauh lebih kecil. Muara Jawa mencatat 0,53 hektare, Kota Bangun 1 hektare, Loa Janan 2 hektare, Loa Kulu 3 hektare, Tenggarong 3,15 hektare, dan Tenggarong Seberang 3,5 hektare.

Jika dilihat berdasarkan jumlah kejadian, Samboja justru menjadi wilayah dengan kasus karhutla terbanyak. Sebanyak 21 kejadian tercatat terjadi di wilayah tersebut. Muara Badak berada di urutan berikutnya dengan 20 kejadian.

Sementara itu, Tenggarong dan Sanga-Sanga masing-masing mencatat lima kejadian. Muara Kaman, Sebulu, dan Loa Kulu masing-masing terdapat dua kejadian.

BPBD Kukar menyebut data tersebut masih bersifat sementara. Sejumlah kecamatan hingga kini belum menyampaikan laporan, yakni Kenohan, Muara Wis, Kota Bangun Darat, Samboja Barat, dan Anggana.

Ex officio Kepala BPBD Kukar, Sunggono, mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan secara sembarangan. Menurutnya, aktivitas manusia menjadi salah satu faktor dominan yang memicu terjadinya kebakaran.

“Jadi tadi kan disampaikan oleh Pak Ketua Pengadilan ya, bahwa 99,9 persen penyebab kebakaran ini adalah manusia,” kata Sunggono.

Karena itu, ia meminta masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terlebih saat kondisi lahan relatif kering.

Ia menegaskan, pencegahan karhutla tidak hanya berkaitan dengan menjaga lingkungan saat ini, tetapi juga mencegah dampak yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

“Oleh karena ini bisa dipastikan, kalau kita peduli dengan lingkungan kita, peduli dengan daerah kita, peduli dengan anak cucu kita, tolong jangan bakar hutan kita, jangan membakar sembarangan yang mengakibatkan bencana untuk semua,” pungkasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya