Daerah
Dijaga Puluhan Tahun, Desa Muhuran Jadi Habitat Bermain Pesut Mahakam
Kaltimtoday.co, Tenggarong - Desa Muhuran di Kecamatan Kota Bangun menjadi salah satu habitat bermain bagi hewan endemik Kalimantan Timur (Kaltim) “Pesut Mahakam”. Meski tanpa peraturan tertulis, masyarakat setempat telah menjaga keberadaan mamalia air tawar selama puluhan tahun melalui kesadaran kolektif.
Komitmen yang dijaga itu membuahkan hasil manis. Kementerian Lingkungan Hidup/Balai Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menetapkan Desa Muhuran bersama Desa Sabintulung Kecamatan Muara Kaman sebagai desa konservasi baru Pesut Mahakam, Sabtu (7/2/2026).
Penetapan tersebut bukan hasil pengajuan resmi dari pemerintah desa, melainkan lahir dari praktik perlindungan yang telah dijalankan masyarakat secara konsisten hingga menarik perhatian pemerintah pusat.
Sebelumnya, pemerintah desa hanya menyampaikan informasi keberadaan Pesut Mahakam kepada Yayasan Konservasi Rare Aquatic Spesies of Indonesia (RASI) dalam percakapan informal.
“Kalau pengajuan secara tertulis sih belum ada, kami cuma cerita-cerita sama yayasan RASI bahwa di sini ada pesut, gitu aja. Kami nggak ajukan secara formal gitu,” kata Sekretaris Desa Muhuran, Kasdiannur kepada Kaltimtoday.co, Selasa (10/2/2026).
Ia mengaku tidak mengetahui jumlah pasti pesut yang berada di wilayahnya. Namun, anak Sungai Mahakam yakni Sungai Belayan kerap menjadi area bermain pesut.
Kemunculannya pun tidak setiap hari, melainkan pada momen tertentu, terutama saat volume air sungai meningkat. Pesut Mahakam biasanya terlihat pada pagi hari, meski terkadang muncul menjelang sore.
“Ketika air naik, biasanya Pesut Mahakam masuk di wilayah Desa Muhuran. Nanti main-main di situ saja, cari-cari makan lah kayaknya itu,” sambungnya.
Ia menambahkan, sebagian besar warga Desa Muhuran berprofesi sebagai petani dan nelayan. Aktivitas nelayan tidak bersinggungan langsung dengan habitat pesut karena penangkapan ikan dilakukan di kawasan rawa, bukan di alur Sungai Belayan. Sebab menyadari bahwa keberadaan pesut tidak ditemui di seluruh desa di Kukar maupun Kaltim.
Dengan ditetapkan status sebagai desa konservasi, Kasdiannur berharap, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dapat menyalurkan bantuan atau program-program yang menyasar langsung masyarakat untuk peningkatan ekonomi. Lantaran, sudah lama berkomitmen meninggalkan praktik penangkapan ikan secara ilegal.
“Harapan kami, OPD-OPD terkait bisa menurunkan bantuan ke desa yang menunjang ekonomi masyarakat agar kebiasaan yang sudah lama ditinggalkan (penangkapan ikan secara ilegal) jangan kembali lagi,” tandasnya.
[RWT]
Related Posts
- Populasi Pesut Mahakam Diperkirakan Tinggal 66 Ekor, Kerusakan Lingkungan Ancam Kepunahan
- Pesut Mahakam Mati, KLH Temukan Tiga Perusahaan Batu Bara Beroperasi Tanpa Izin di Anak Sungai Mahakam
- Lebih dari Sains, Jejak Panjang Danielle Kreb Menjaga Nafas Pesut Mahakam
- Populasi Pesut Mahakam Kritis, Peneliti Soroti Ancaman Jaring hingga Kapal Tongkang
- Menteri KLH Kunjungi Desa Pela Kukar, Perkuat Dukungan Konservasi Pesut Mahakam









