Bontang

Dirjen PAS Kemenkumham Puji Pembinaan Lapas Bontang

BERKAT BINAAN PERUSAHAAN: Warga binaan diberikan wadah untuk menyalurkan kemampuannya baik dalam bentuk bengkel, tempat potong rambut, kebun, menjahit, beternak, dan lainnya. MEGA/KALTIMTODAY

Kaltimtoday.co, Bontang – Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menjadi salah satu cita-cita pemasyarakatan dari Ditjen Pemasyarakatan. Setiap lembaga pemasyarakatan (lapas) diharapkan bisa menghasilkan PNBP untuk menambah pendapatan negara demi pembangunan Indonesia.

Untuk mewujudkan hal itu, setiap Lapas, tentu harus memiliki strategi pemasyarakatan yang menghasilkan. Di antaranya membina para warga binaan dalam hal kepribadian dan keterampilan. Namun, strategi tersebut tak bisa dijalankan sendiri. Sehingga butuh kerja sama antar lembaga pemerintah juga perusahaan yang ada di kota tersebut.

Seperti yang dilakukan Lapas Kelas III Bontang. Lapas ini bahkan sudah menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga pemerintahan juga perusahaan yang ada di Bontang. Hal tersebut, menjadi penilaian lebih saat Direktur Jenderal Pemasyarakatan meninjau langsung kondisi Lapas Bontang.

Dirjen PAS Kemenkum HAM RI Sri Puguh Budi Utami menuturkan, hubungan kemitraan dengan beberapa perusahaan di Bontang, menjadi salah satu solusi agar revitalisasi penyelenggaraan pemasyarakatan ini bisa diwujudkan, dan Lapas membutuhkan mitra yang lebih dari itu.

“Kebetulan Lapas Bontang didukung oleh wali kota, wakil wali kota, ketua DPRD, juga dari Badak LNG. Itu tentunya menjadi kemitraan yang ideal sekali,” kata Utami.

Diharapkan, konsep seperti itu diterapkan dan menjadi contoh bagi lapas lainnya, baik di Tenggarong, Samarinda dan lainnya. Konsep kemitraan seperti itu, disebutkan Utami sudah ada sejak 1963 lalu. Harapannya 2020, pihaknya bisa menciptakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

“Hanya itu cita-cita kami,” ujarnya.

Jika PNPB sudah bisa dihasilkan, maka, lanjut Utami, para warga binaan yang berada di minimum sekuriti adalah mereka yang berhasil dibina baik kepribadian dan keterampilannya.

Disinggung mengenai kondisi Lapas Bontang yang masuk over kapasitas, Utami menyangkalnya. Bersama seluruh jajarannya sudah berkomitmen bahwa over isi dianggap bukan masalah. Karena kalau dianggap sebagai masalah, Lapas tak akan maju.

“Kami harus melihat bahwa mereka yang ada di dalam (warga binaan) adalah sumber fondalitas, SDM modal utama untuk pembangunan Indonesia, mereka harus termasuk bagian dari sumber daya yang diberdayakan,” bebernya.

“Karena kalau saya ngomong over isi menjadi hambatan untuk melangkah, tapi kalau melihat ini peluang, maka mereka (wb) akan lebih kreatif dan membangun kerja sama dengan pihak terkait dengan lebih baik. Bisa membangun lapas minimum sekuriti misalnya,” sambungnya.

Makanya, lanjut Utami, pihaknya selalu mengingatkan jajarannya agar jangan melihat isi lebih sebagai satu masalah. Karena  pemerintah sangat terbatas anggaran dan perlu dibagi kemana-mana.

“Nah kami (lapas) jangan menjadi beban. Ayo tunjukan kemitraan menjadi solusi,”pungkasnya.

Salah satu hasil kemitraan dari Badak LNG yakni kebun buah naga, kolam lele, bengkel las yang menghasilkan mebeler dari drum, bengkel otomotif, dan lainnya. Sementara hasil kemitraan dengan Pemkot Bontang yakni rencana pembuatan sumur untuk sumber air di Lapas, dan beberapa pembangunan lainnya.

[RIR | TOS]
Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close