DPRD BERAU
DPRD Berau Apresiasi Penerapan Bahasa Banua Jadi Muatan Lokal Tingkat SMP
BERAU, Kaltimtoday.co - Penerapan Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendapat respons positif dari Sekretaris Komisi I DPRD Berau, Frans Lewi. Ia menyebut kurikulum khusus tersebut akhirnya dapat terealisasi setelah melalui perjalanan panjang.
Menurut Frans, melalui pelajaran mulok tersebut, para siswa diharapkan dapat lebih memahami dialek khas yang diucapkan oleh salah satu etnis asli di Berau. Selain menambah ilmu pengetahuan, langkah pemerintah daerah ini juga dinilai mampu menjadi sarana efektif untuk melestarikan budaya serta kearifan lokal.
"Sekarang kebudayaan itu, kalau tidak ada yang mengawal bisa termakan zaman, sehingga pengenalan bahasa khas daerah ini sangat baik untuk dikenalkan dari generasi remaja," ujar Frans Lewi.
Dinas Pendidikan setempat melaporkan telah menyiapkan koordinator serta menunjuk guru-guru yang dianggap linier dengan mata pelajaran tersebut untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik. Selain itu, materi pembelajaran kini telah dirangkum ke dalam buku paket khusus.
Dalam proses pembuatannya, penyusunan buku paket tersebut melibatkan berbagai tokoh asli Kabupaten Berau. Keterlibatan para tokoh adat bertujuan agar kosakata daerah yang digunakan di dalam buku sesuai dengan penuturan bahasa sehari-hari.
"Kalau kedua unsur tersebut sudah terpenuhi, baik dari guru maupun materi, itu saya rasa perlu didukung agar mapel ini bisa berjalan konsisten. Karena kemarin saya memandang memang perlu keduanya terpenuhi dulu, sebelum penerapan muloknya," kata Frans menambahkan.
Legislator dari Partai Hanura itu menilai kebijakan untuk memulai penerapan mulok dari tingkat SMP sudah sangat tepat. Apabila program ini berjalan dengan baik, maka satuan pendidikan lain yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan bisa menerapkannya secara perlahan.
"Pada tahun ajaran 2026/2027 bisa saja SMP. Nanti kalau memang kebijakan ini berjalan baik dan tidak ada halangan, tingkatan di bawahnya kayak SD itu bisa juga diajarkan, namun dengan materi yang lebih sederhana tentunya," ucap Frans.
Sebelumnya, Frans juga memberikan saran agar muatan pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek bahasa daerah semata. Ia berharap materi pelajaran dapat diperluas dengan memasukkan unsur budaya lain seperti kuliner, seni, hingga tradisi khas guna memperkaya wawasan siswa.
"Kalau dikemas dengan baik, ini bisa menjadi pelajaran yang menarik dan tidak membosankan bagi siswa," tutur Frans.
[TOS | ADV DPRD BERAU]
Related Posts
- Berbekal Cita Rasa Khas Nangka, Kopi Liberika Kaltim Siap Harumkan Nama Daerah di IBRC 2026
- Pupuk Kaltim Raih Penghargaan AREA 2026, Pertegas Komitmen Bangun Ekonomi Inklusif
- Komisi IV DPRD Samarinda Tindak Lanjuti Aduan Dugaan Kejanggalan SPMB
- Perwira TNI Aktif Diduga Terlibat Korupsi Proyek Motor Listrik BGN, Kejagung Limpahkan Berkas Jampidmil
- Mengenal KKP Eksisting dan Domestik: Instrumen Strategis Menuju Pembayaran Nontunai di Satuan Kerja









