Daerah

Lewat Seni, Generasi Muda Gaungkan Seruan Perlindungan Lanskap Mahakam

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 11 Januari 2026 18:46
Lewat Seni, Generasi Muda Gaungkan Seruan Perlindungan Lanskap Mahakam
Momen puncak "Menolak Diam": Perwakilan koalisi orang muda membacakan Deklarasi Orang Muda untuk Mahakam di atas panggung Teras Samarinda. (Foto Dok Aura Mahakam)

SAMARINDA, Kaltimtoday.co - Kawasan Teras Samarinda tampak semarak, Sabtu (10/1/2026) dengan berbagai aktivitas bernuansa konservasi. Memperingati Hari Lingkungan Hidup Nasional, ratusan anak muda memadati Festival Aura Mahakam guna menyuarakan satu pesan penting: perlindungan Lanskap Mahakam sebagai nadi vital Kalimantan Timur.

Lanskap Mahakam bukan sekadar hamparan air. Kawasan seluas 77.000 km²—atau lebih luas dari Provinsi Jawa Timur—ini merupakan rumah bagi ekosistem hutan tropis, rawa, serta satwa ikonik seperti pesut Mahakam, orangutan, dan burung enggang. Di baliknya, terdapat 27.923 jiwa Masyarakat Adat dari berbagai sub-suku Dayak yang menggantungkan hidup dan spiritualitas mereka pada alam ini.

Namun, realitasnya kian memprihatinkan. Deforestasi, aktivitas pertambangan, dan ekspansi perkebunan kelapa sawit terus menekan wilayah hulu. Dampaknya dirasakan langsung oleh warga hilir melalui bencana banjir yang kian rutin serta penurunan kualitas air tanah.

Seni sebagai Medium Kritik

Seorang pemuda memainkan alat musik tradisional Sape di depan layar bertajuk "Spirit of Mahakam".
Seorang pemuda memainkan alat musik tradisional Sape di depan layar bertajuk "Spirit of Mahakam". (Dok Aura Mahakam)

Festival bertajuk “Spirit of Mahakam” ini tidak hanya berisi orasi kaku. Sejak sore hingga malam hari, seni visual dan pertunjukan menjadi senjata utama untuk menyentuh kesadaran publik. Seniman visual, Hari Prast—yang akrab disapa "Hari Merdeka"—menegaskan bahwa karya seni seperti mural mampu menghadirkan Mahakam sebagai ruang hidup yang rapuh sekaligus menuntut perlindungan.

“Seni bisa menjadi medium untuk mengekspresikan kepedulian, membangun solidaritas, serta menyuarakan kritik terhadap model pembangunan yang tidak berkelanjutan,” ujar Hari.

Hal senada diungkapkan Erwin Febrian Syuhada selaku panitia acara. Ia menjelaskan bahwa festival ini ingin mengingatkan warga Samarinda bahwa kehidupan mereka tidak terlepas dari nadi Mahakam. “Kami ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa Mahakam bukan sekadar sungai, melainkan sumber kehidupan yang menyokong kita selama ini,” tegas Erwin.

Penampilan tari tradisional Dayak dan dentuman musik Sape memeriahkan panggung Festival Aura Mahakam di Teras Samarinda, Sabtu (10/1/2026).
Penampilan tari tradisional Dayak dan dentuman musik Sape memeriahkan panggung Festival Aura Mahakam di Teras Samarinda, Sabtu (10/1/2026).

Salah satu momen paling emosional adalah pemutaran film dokumenter bertajuk Cerita Penjaga Lanskap. Film ini memotret kontradiksi tajam antara keindahan hutan yang tersisa dengan ancaman lubang tambang yang kian menganga.

Livi Husnia, salah satu pengunjung, mengaku sangat terkesan dengan perspektif peran perempuan dalam menjaga alam yang ditampilkan dalam film tersebut. Ia mengutip satu kalimat yang menurutnya sangat menyentuh realitas krisis lahan saat ini.

“Saya sangat tertarik dengan ungkapan bahwa ‘kita sebagai perempuan bisa melahirkan anak, tapi kita tidak pernah bisa melahirkan tanah.’ Di situlah letak tanggung jawab kita sebagai perempuan dan individu lainnya untuk menjaga bumi,” tutur Livi.

Deklarasi Orang Muda: Menolak Diam

Ratusan pasang mata tertuju pada panggung utama Festival Aura Mahakam. Melalui pemutaran film dokumenter dan diskusi publik, festival ini berupaya membangun kesadaran kolektif mengenai kondisi kritis sungai terbesar di Kalimantan Timur tersebut.
Ratusan pasang mata tertuju pada panggung utama Festival Aura Mahakam. Melalui pemutaran film dokumenter dan diskusi publik, festival ini berupaya membangun kesadaran kolektif mengenai kondisi kritis sungai terbesar di Kalimantan Timur tersebut.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan Deklarasi Orang Muda untuk Mahakam. Dalam pernyataan sikap tersebut, generasi muda secara tegas menolak praktik korporasi yang merusak lingkungan dengan dalih pembangunan. Mereka menuntut keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan yang menentukan nasib tanah kelahiran mereka.

Koordinator Festival, Ridho Pratama, menyatakan bahwa pemuda Kaltim kini menolak bersikap diam melihat kerusakan hutan dan kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan.

“Kami tidak ingin hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku perubahan. Mahakam bukan semata-mata sebuah sungai, melainkan rumah dan sumber kehidupan bagi masa depan kami,” pungkas Ridho.

[TOS]



Berita Lainnya