Opini

Mengembalikan Palestina ke Peta Dunia

Oleh: Dian Nur Handayani (Staff Kemuslimahan Pusdima Universitas Mulawarman 2020)

Bumi Palestina ialah tanah yang diberkahi. Namun, kecamuk, perang dan gejolak di atas tanah suci yang menjadi perebutan itu kian semakin menjadi-jadi. Beberapa saat lalu, dunia gempar dengan isu bahwa Palestina dihapus dari Google Maps dan Apple Maps. Kita tahu bawasanya Palestina adalah sebuah negeri yang keberadaan dan wilayahnya diakui oleh 138 dari 196 negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai negara yang merdeka pada tanggal 14 September 2015. 

Sungguh disayangkan, pengakuan dunia internasional terkait hal ini diingkari oleh Amerika Serikat, negara yang tak lain tak bukan menjadi basis bisnis dari Google dan Apple. Dua aplikasi raksasa tersebut dituding telah menghapus Palestina dari maps. Namun justru, kenyataan pahit diungkapkan oleh Guardian (juru bicara Google) pada edisi 10 Agustus 2016 yang mengklaim bahwa, sejak awal kata “Palestina” memang tidak pernah ada dan tak pernah memasukan label “Palestina” ke dalam google maps ataupun peta online lainnya.

Baca juga:  IHT (In House Training) sebagai Sarana Peningkatan Kompetensi yang Menarik bagi Guru di Sekolah 

Pada 2016, Guardian mengungkapkan, tidak pernah ada label Palestina di google maps, namun pihaknya menemukan bug yang menghilangkan label Tepi Barat dan Jalur Gaza dan akan bekerja dengan cepat untuk mengembalikan label tersebut.

Pada mesin pencarian Bing Maps, label “State Of Palestina” masih bisa dijumpai yang batas wilayahnya ditandai dengan garis putus-putus pada wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. 

Sumber : Bing Maps

Berbeda halnya jika menggunakan mesin pencari Google Maps, maka tidak ada tertulis “Palestina” namun justru dengan jelas terpampang Israel.

Sumber : Google Maps

“Sebelum penjajah Zionis itu datang sebagai pengungsi akibat dipersekusi di sejumlah negara Eropa, Palestina adalah negeri yang indah dan damai. Nama Israel sama sekali tidak eksis sebelum 1948,” New York Tribune, 1917.

Tindakan persekusi terhadap Yahudi oleh umat Kristen di seluruh penjuru Eropa yang membuat mereka (Yahudi) merasa tidak aman lagi untuk tinggal di Eropa. Hingga mereka mengungsi ke wilayah Daulah Utsmaniyah.

Beberapa Sultan Utsmani mengizinkan mereka untuk tinggal di wilayah kekuasaannya, kecuali wilayah Palestina. Persekusian terus terjadi, hingga pada abad ke-17, gerakan Zionis berkumpul di Basel, Swiss dan mendirikan sebuah negara independen untuk bangsa Yahudi (yang kelak mereka deklarasikan kemerdekaan Israel pada tanggal 14 Mei 1948) dan melihat Palestina sebagai negara yang tepat untuk mereka. Kemudian gerakan Zionis merancang imigrasi besar-besaran ke Palestina. Yang hingga saat ini, Zionis itu terus menerus mencaplok negeri Palestina dari sang pemiliknya. 

Sumber : Google

Uskup Agung Sebastia Yerussalem, Attalah Hanna juga menyatakan bahwa, penjajahan terhadap Al-Quds [Yerussalamen] memperlakukan kami seolah-olah kami ini tamu dan orang asing di kota kami sendiri”. Attalah Hanna juga menegaskan penolakannya atas penjajahan Israel.

Baca juga:  Guru, Makan Gaji Buta?

“Kami menolak mentah-mentah tindakan penjajahan dan kami tidak akan menyerah,” ujarnya.

Dengan melihat bukti-bukti dan realita yang ada, bawasannya Palestina adalah negeri yang dijajah oleh Yahudi sebagai bangsa yang dahulunya terpesekusi di Eropa dan menjadi imigran. Maka, jangan pernah biarkan tanah suci Palestina dengan mudahnya dicaplok oleh tangan-tangan Zionis. Mari meningkatkan konstribusi dan partisipasi dalam dukungan untuk mengembalikan Palestina menjadi negeri yang aman damai serta mewujudkan pembebasan Palestina yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia dan mengembalikan tanah suci Palestina kembali dalam peta dunia.(*)

*) Opini penulis ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close