Samarinda

Pemprov-DPRD Kaltim Tolak Tanda Tangani Kesepakatan dengan Mahasiswa Terkait RUU Cipta Kerja

Kaltimtoday.co, Samarinda – Jam sudah menunjukkan pukul 17:56, pertanda bahwa unjuk rasa harus segera diakhiri. Namun, mahasiswa tetap berada di depan DPRD Samarinda. Mereka pantang pulang sebelum nota kesepahaman yang telah dibawa bisa ditandatangani oleh perwakilan dari Pemprov yakni Gubernur dan dari anggota DPRD Kaltim. Sampai maghrib dan hari mulai gelap, mahasiswa tetap tak pergi.

Sebelumnya, Gubernur Isran Noor dan Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi sudah tiba di DPRD Kaltim sekitar pukul 15.00 Wita. Kemudian, nota kesepahaman yang dibawa mahasiswa sudah difoto oleh Syafruddin, ketua Fraksi PKB dan anggota Komisi III dan diperlihatkan ke gubernur dan wakil gubernur. Setelah melihat nota kesepahaman itu, Isran tak langsung menanda tanganinya. Sebab, menurutnya masih ada beberapa kalimat di nota tersebut yang perlu diperbaiki. Terlebih lagi, harus disertai alasan spesifik terkait pasal-pasal apa saja yang ditolak.

Baca juga:  Kembali Padati DPRD Kaltim, Mahasiswa Minta DPRD dan Pemprov Sepakat Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja

Isran pun sebenarnya ingin perwakilan mahasiswa yang menghampirinya di dalam kantor DPRD Kaltim. Namun rupanya mahasiswa tetap ingin gubernur, wakil gubernur, dan anggota DPRD Kaltim yang menemui mereka langsung di depan gerbang. Sehingga, mahasiswa menolak jika hanya perwakilan saja yang bertemu dengan gubernur, wakil gubernur, dan anggota DPRD Kaltim. Hingga akhirnya Isran buka suara.

Ketika disinggung perihal mahasiswa yang ingin kepala daerahnya menandatangani nota kesepahaman seperti provinsi lainnya di Indonesia, Isran justru menyebut jangan ikut-ikut daerah lain. Menurut Isran, unjuk rasa adalah hak semua orang dan dia menghargai itu. Asal jangan anarkis.

“Saya datang ke sini, siapa tau mereka ingin berkomunikasi dengan saya, ingin menyampaikan tuntutan mereka itu secara tertulis. Saya sebagai gubernur akan mengakomodir bersama pimpinan DPRD Kaltim untuk menyampaikan aspirasi mereka ke pemerintah pusat,” tegas Isran.

Pukul 18:55 Wita, akhirnya Hadi Mulyadi memutuskan untuk menemui massa aksi secara langsung. Hadi dijaga ketat dan posisi berdirinya pun tidak terlalu dekat dengan massa aksi. Kawat berduri nampak masih terlihat di tempat seperti semula. Ketika Hadi diberikan kesempatan untuk berbicara, dia pun menyerukan “Hidup mahasiswa!” yang diikuti seruan para mahasiswa lainnya.

Hadi menyampaikan bahwa dirinya mewakili Pemprov Kaltim sangat menghargai setinggi-tingginya mahasiswa yang telah memerhatikan nasib para buruh dan pekerja. Atas perjuangan mereka yang telah memperjuangkan hak-hak buruh dan penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja, maka Pemprov Kaltim memerhatikannya.

“Tugas kami dalam hal ini menyampaikan dan menyalurkan sepenuhnya dari mahasiswa kepada kami. Kami siap menyampaikannya ke pemerintah pusat,” ungkap Hadi.

Namun, salah satu mahasiswa tetap berseru bahwa mereka akan meninggalkan lokasi apabila nota kesepahaman yang dibawa bisa ditandatangani. Saat mendengar itu, Hadi tetap menyampaikan bahwa pihaknya siap menerima surat yang disampaikan.

“Sebab sesuai arahan gubernur dan kesepakatan bersama anggota DPRD Kaltim, kami siap menyampaikan ke pemerintah pusat. Silakan usulan draftnya disampaikan ke kami,” tegas Hadi.

Baca juga:  Kembali Padati DPRD Kaltim, Mahasiswa Minta DPRD dan Pemprov Sepakat Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja

Sontak terdengar seruan mahasiswa yang berkata “tanda tangannya, Pak!” berkali-kali. Namun keputusan Pemprov Kaltim dan DPRD Kaltim sudah bulat. Nota kesepahaman itu tidak dapat ditandatangani. Terdengar seruan kekecewaan mahasiswa.

Saat itu pula Hadi langsung dibawa masuk oleh aparat demi keamanannya. Sampai sekitar pukul 19.10 Wita, aparat kepolisian sudah mengingatkan mahasiswa untuk membubarkan diri. Sebab kegiatan unjuk rasa ini sudah melewati batas waktu.

[YMD | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close