Samarinda

Pendidikan Perdamaian Jadi Semangat Syifa Wakili Indonesia ke Turki di Global Peace Summit 2020

Kaltimtoday.co, Samarinda – Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2020 ini, mestinya mampu membuat semangat para anak muda bisa bangkit kembali. Dewasa ini, anak muda mampu berekspresi secara bebas dan mengeksplorasi banyak hal yang mereka suka melalui beragam cara.

Salah satunya seperti yang dilakukan Syifa Nur Aini. Perempuan asal Samarinda itu berhasil mewakili Indonesia di kancah internasional dalam gelaran Global Peace Summit di Turki pada 15-18 Oktober lalu. Syifa tentu tak menyangka bisa menginjakkan kaki di sana. Namun berkat motivasi serta tekad bulat yang dia bawa dari Kota Tepian, Syifa ingin mendeklarasikan kedamaian menurut versinya.

Baca juga:  Lolos ke Tingkat Nasional, Dua Siswa SD Samarinda Ikuti Lomba KSN Bidang Matematika

Kaltimtoday.co berkesempatan untuk mewawancarai Syifa mengenai pengalamannya di sana. Secara umum, Global Peace Summit merupakan agenda yang mewadahi pemuda-pemudi lebih dari 100 negara untuk mengembangkan ide demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan serta mengadvokasi perdamaian di tiap negara untuk melawan kekerasan ekstrem, kebencian dan segala bentuk diskriminasi. Alhasil, para peserta diberi kesempatan untuk membawa solusi dan project tertentu demi memperkuat suara mereka sehingga tercipta keadilan sosial dan lingkungan yang harmonis di masyarakat.

Ketika mendapatkan informasi mengenai Global Peace Summit, Syifa langsung mencari tahu lebih lanjut dan memutuskan untuk mendaftar pada Agustus lalu. Dia ingat, kala itu salah satu syarat pendaftaran yang diminta adalah membuat esai motivasi dan biografi singkat. Penyeleksian panitia pun berdasarkan 2 hal krusial itu. Alhasil, Syifa lolos seleksi dan menjadi salah 1 dari 200 orang terpilih. Dia mewakili Indonesia bersama 4 orang lainnya ke Turki. Umumnya, lingkup agenda Global Peace Summit membahas mengenai perdamaian secara global.

“Di Global Peace Summit 2020 itu ada beberapa topik. Beberapa di antaranya ada peace education, global citizenship, youth engagement in politics, dan lain-lain. Dari topik yang ada, aku tertarik dengan peace education. Topik itu juga yang memotivasiku. Aku ingin mempertajam ilmu pendidikan perdamaianku. Mengingat salah satu perkataan Nelson Mandela juga bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia,” ungkap Syifa pada Rabu (28/10/2020).

Perempuan kelahiran 2000 itu mendapat banyak pengalaman berharga selama menjalani kegiatan tersebut di Turki. Terlebih lagi dia bisa bertemu dengan peserta dari negara lain. Bagi Syifa, suatu kehormatan di mana dirinya bisa membangun jaringan baru dengan pemuda-pemudi hebat dari berbagai belahan dunia. Apalagi semuanya dibarengi dengan kemauan dan tujuan yang sama yakni membangun perdamaian di tengah masyarakat. Diceritakan Syifa, kala itu perwakilan dari Indonesia menyampaikan beberapa project yakni Jatmiko Indonesia dan World Student Organization (WSO).

Khusus untuk Jatmiko Indonesia adalah semacam kelas bahasa Inggris gratis untuk pelajar Indonesia. Sebab masih lumayan banyak yang belum begitu lancar berbahasa Inggris. Program ini dibentuk agar dengan bahasa Inggris, pemuda-pemudi Indonesia lainnya juga bisa bersaing di dunia internasional. Terutama dalam hal menyuarakan perdamaian. Sedangkan WSO adalah sebuah organisasi yang didirikan atas kepedulian kaum muda terhadap isu-isu global yang sedang naik daun. WSO berusaha menghubungkan siswa di seluruh dunia untuk mendapatkan solusi atas masalah–masalah yang ada.

“Aku banyak dapat wawasan baru selama di Turki. Aku jadi tahu ada fenomena Islamofobia di Eropa, situasi terkini di Palestina, lalu di Irak juga banyak anak-anak yang tidak punya identitas akibat pemerkosaan, dan masih banyak lagi,” lanjut mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul) itu.

Baca juga:  Meneguhkan Kembali Peran Pemuda dalam Momentum Sumpah Pemuda

Ditanya perihal rencana ke depan yang akan dilakukan Syifa, dia berkomitmen untuk ikut serta dalam menyukseskan project-project yang dibuat oleh teman-temannya dari perwakilan Indonesia maupun dari negara lain. Sebelum mengikuti Global Peace Summit ini, Syifa sudah melakukan beberapa hal di Samarinda.

Perempuan berhijab yang juga tergabung di International Student Buddy Unmul itu kerap mengampanyekan kepada pelajar asing yang tengah menimba ilmu di Samarinda bahwa masyarakat Indonesia selalu hidup berdampingan dengan damai sehingga jarang terjadi konflik. Meskipun terdapat banyak sekali suku, budaya, adat, hingga agama.

“Hal tersebut juga yang aku sampaikan ke teman-teman di Global Peace Summit terkait bagaimana sikap saling menghargai dan toleransi orang-orang di Indonesia,” pungkas Syifa.

[YMD | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close