Opini

Peran Public Relations Dalam Manajemen Isu dan Krisis di Organisasi

Oleh: Yuda Ferdianto Putra (Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

DALAM suatu hubungan masyarakat tentu saja terdapat nilai-nilai yang dikaji dalam menciptakan efektivitas kehidupan. Nilai-nilai ini menjadi bagian dari fungsi public relations sebagai sarana penghubung masyarakat yang mampu mengkomunikasikan berbagai hal hingga terciptanya efektivitas kerja. Melansir mengenai public relations adalah sebuah pihak yang berperan dalam membangun hubungan baik dengan konsistensi strategis antara masyarakat dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Dalam pembicaraan perihal public relations ini tidak lepas dari pembahasan tentang manajemen isu dan krisis.

Menurut Caywood, 1997 yang dimaksud dengan manajemen isu adalah sebuah proses manajemen yang tujuannya membantu melindungi pasar, mengurangi risiko, menciptakan kesempatan-kesempatan sebagai sebuah aset organisasi bagi manfaat keduanya, organisasi itu sendiri serta stakeholder utamanya, yakni pelanggan atau konsumen, karyawan, masyarakat dan para pemegang saham.

Baca juga:  Ancaman Keberadaan Populasi Pesut Mahakam

Public relations Indonesia sendiri mengartikan manajemen isu sebagai fungsi manajemen yang mampu mengevaluasi sikap masyarakat, baik dari segi internal maupun eksternal atau mengidentifikasikan problematik yang patut untuk dikhawatirkan ke arah perbaikan. Pengelolaan manajemen isu ini sangat penting untuk diperhatikan demi menghindari terjadinya krisis. Pada dasarnya manajemen isu adalah proses identifikasi dan penyelesaian isu.

Manajemen isu ini digunakan untuk meminimalisir suatu keadaan darurat atau permasalahan yang kemungkinan akan mengakibatkan kerugian. Dalam mengidentifikasi isu diperlukan beberapa tahap dasar yakni yang pertama adalah analisis situasi. Analisis ini bisa dilakukan dengan metode SWOT, PESTEL, dan model Porter. Metode SWOT sendiri adalah analisis berdasarkan beberapa aspek yakni strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (kesempatan), dan threat (ancaman). Kemudian juga ada metode PESTEL. Metode ini menggunakan analisis political (politik), economic (ekonomi), social (sosial), technologi (teknologi), enviromental (lingkungan), dan legalisasi. Sedangkan metode yang terakhir adalah metode Porter yakni menganalisis kekuatan tawar menawar terhadap supplier. Selepas analisis situasi sudah terkumpul semuanya, praktisi public relations (PR) akan membuat Issue Sunburst Diagram. Diagram ini berfungsi sebagai pemetaan isu secara keuangan, sosial, legalitas, lingkungan, dan lain sebagainya. Barulah prediksi mengenai kerugian bisa dianalisis.

Tahap selanjutnya public relations harus membuat daur hidup isu, hal ini dimaksudkan supaya apakah isu ini sudah menjadi kasus atau bahkan telah menjadi krisis, batasan-batasan isu ini harus segera ditindaklanjuti supaya peluang isu tersebut kemungkinan akan terselesaikan dengan baik tanpa harus ada problematik di lingkungan masyarakat. Tahap paling akhir adalah menyusun strategi resolusi yang termasuk dalam kategori rencana mitigasi. Membuat perencanaan implementasi yang mencakup rencana stakeholder engagement, rencana advokasi, dan rencana komunikasi untuk persiapan penyusunan lampiran proses penyelesaian isu. Dan saat laporan isu tersebut tuntas bisa dikatakan bahwa isu selesai tanpa terjadi kasus bahkan krisis.

Baca juga:  Bawaslu Panggil KPU Samarinda Terkait Laporan Warga Soal Data Verifikasi Faktual

Manajemen isu menjadi penting bagi keefektifan organisasi karena semua organisasi saling berhubungan dan bergantung dengan publik dan organisasi lain. Menjadi tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan kajian model manajemen isu sehingga dapat dipelajari sebagai sebuah disiplin ilmu yang lebih aplikatif. Keterlibatan public relations dalam manajemen isu memungkinkan implementasi model komunikasi dua arah, baik asimetris maupun simetris dan mengurangi penggunaan model komunikasi satu arah, keagenan pers dan informasi publik.

Di beberapa organisasi, keterlibatan public relations dalam merencanakan upaya organisasi terlibat dalam proses kebijakan publik dikenal dengan istilah “public affairs”. Suatu isu yang telah menjadi krisis harus dikendalikan dengan baik supaya krisis tersebut bisa berhenti. Krisis digambarkan sebagai sebuah kejadian atau peristiwa yang tidak diharapkan dan dapat berpotensi menimbulkan terjadinya kekacauan dan perubahan dalam suatu lingkungan. Dalam sebuah organisasi, terjadinya krisis akan membahayakan image dan reputasi.

Dalam menghadapi isu dan krisis ini diperlukan beberapa upaya terkait yang bisa dilakukan oleh public relations beserta organisasi terkait untuk memutus isu dan krisis tersebut supaya lebih cepat terselesaikan. Adapun upaya ini terdiri dari upaya preventif dan upaya kuratif. Untuk upaya preventif sendiri bisa dilakukan dengan cara menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada suatu organisasi dan melakukan pembentukan kepercayaan dapat ditempuh dengan cara membina hubungan baik dengan media massa.

Untuk upaya kuratif sendiri bisa langsung diatasi oleh organisasi dengan mengidentifikasi krisis, mengisolasi krisis, dan menangani krisis. Untuk menanggapi krisis sendiri diperlukan sebuah informasi yang lengkap, teknik pengambilan keputusan yang baik, sikap mental yang mendukung, pengetahuan dan pengalaman yang memadai, pelatihan manajemen krisis ataupun teknik decision making. (*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co News Update”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker