Uncategorized

Perkuat Militer, Tahun Depan Kemenhan Rekrut Mahasiswa dan ASN Bentuk Komponen Cadangan

Komcad Bersifat Sukarela, Resimen Mahasiswa Diharapkan Jadi Penyokong Utama

Kaltimtoday.co, Jakarta – Mulai tahun depan, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akan menyelenggarakan pelatihan untuk komponen cadangan (Komcad). Sasaran utama adalah kalangan mahasiswa dan Aparat Sipil Negara (ASN). Lebih khusus lagi, anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) di kampus-kampus diharapkan menjadi penyokong utama.

Apakah ini bermakna militerisme masuk kampus? Sekretaris Jenderal Kemenhan Laksamana Madya Agus Setiadji menolak kekhawatiran itu. Menurut Agus, konsep bela negara dalam komcad sesuai UU PSDN berbeda dengan wajib militer. Pasalnya, komcad bersifat sukarela.

“Kalau konsep-konsep yang lain itu adalah wajib. Kalau di Singapura wajib. Kalau komponen cadangan sukarela, kalau dia mau masuk komponen cadangan silakan. Tidak juga silahkan,” ujar Agus.

Pernyataan itu disampaikan Agus usai berbicara dalam seminar Bela Negara dalam Lingkup Kampus pada Era 4.0., pada Sabtu (7/12) yang berlangsung di di kampus Institut Pertanian Stiper, Yogyakarta.

Agus menggarisbawahi peran mahasiswa akan cukup dominan dalam pembentukan Komcad. Dalam skema bela negara, ada tiga komponen yang tersedia, yaitu komponen utama, komponen cadangan dan komponan pendukung. Komponen utama adalah TNI, sedangkan komponen cadangan adalah sumber daya yang sudah disiapkan melalui mobilisasi. Komponen pendukung memaksimalkan dua komponen itu dalam pelaksanaan fungsinya.

Dalam pembentukannya, kata Agus, akan dilaksanakan program pelatihan selama tiga bulan pada awal 2020. Bagi mahasiswa, kegiatan ini dapat diikuti tanpa meninggalkan program perkuliahan reguler. Peserta akan mengenakan seragam komponen cadangan, mengikuti pendidikan dasar militer, menjalani program khusus dan menerima uang saku. Mereka yang berumur minimal 18 tahun dapat mendaftarkan diri, dan dapat aktif sebagai Komcad hingga usia 48 tahun.

“Kami berharap, para mahasiswa terutama yang tergabung dalam resimen mahasiswa menjadi sumber utama Komcad. Kami berharap Komcad ini menjadi penguat komponen utama, sehingga saat kondisi kritis atau perang, bisa dimobilitasi untuk memperkuat komponen utama,” tambah Agus.

Penyesuaian Konsep Bela Negara

Tentu saja, karena berada di era yang berbeda, konsep bela negara yang ditanamkan dalam Komcad akan mengikuti kebutuhan saat ini. Penguasaan teknologi menjadi prioritas, termasuk pemahaman bahwa perang di masa depan bukan sekadar perang fisik seperti di masa lalu.

Rektor Instiper Harsawardana setuju dengan pandangan, bahwa yang disebut perang di masa depan tidak sama dengan gambaran di masa lalu.

“Bahwa perang ke depan itu juga mengikuti teknologi. Inilah yang menurut saya menjadi sangat penting bagi kita semua. Dan memang kondisi ini juga akan menjadi lebih buruk bilamana mahasiswa dan perguruan tinggi tidak memahami, sebenarnya kerangka perang di era 4.0 itu seperti apa,” ujar Harsawardana.

Perang ideologi, perang asimetris, dan perang informasi menurut Harsawardana adalah beberapa hal yang harus turut diantisipasi dalam pendidikan bela negara. Dalam bentuknya yang lebih modern, dunia kampus harus turut memikirkan hal itu. Harsawardana menyambut baik prakarsa kerja sama antara Kemenhan dan Kemendikbud, yang akan menghadirkan bela negara sebagai salah satu mata kuliah pilihan di perguruan tinggi.

Di lingkup perguruan tinggi, mahasiswa anggota Menwa tentu akan lebih siap secara fisik sebagai Komcad. Namun menurut Harsawardana, jika telah masuk menjadi bagian dari kurikulum perkuliahan, Komcad semestinya dapat diakses secara setara oleh semua mahasiswa.

Menghindari Militerisme di Kampus

Dirjen Potensi Pertahanan Kemenhan, Bondan Tiara Sofyan, dalam seminar yang sama mengatakan, ada dua syarat dasar yang harus dipenuhi sebagai anggota Komcad, yaitu syarat administratif dan kompetensi. Pada bagian kompetensi, persyaratannya akan ditentukan sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.

Resimen Mahasiswa Satuan 13 Instiper Yogyakarta dalam salah satu kegiatannya. (Foto: Menwa Instiper)

Tes psikologi akan diterapkan, begitu pula tes kesamaptaan atau fisik. Kemampuan fisik ini penting, mengingat Komcad adalah kegiatan kemiliteran, sehingga jika tidak siap dikhawatirkan akan menimbulkan korban.

Tiara menegaskan markas komando komcad tidak akan didirikan di kampus-kampus seperti menwa pada masa lampau.

“Mako-nya Komcat pada tahap awal akan ada di bawah Kodam. Dan tidak membentuk batalyon sendiri. Tidak membentuk resimen sendiri. Jadi nanti semua Komcad seragamnya sama,” tegas Tiara.

Tiara menambahkan, Kemenhan akan melakukan sosialisasi program ini pada Januari 2020. Pada tahap awal, yaitu program pelatihan selama tiga bulan, pelaksanaannya akan dipusatkan di masing-masing Komandi Daerah Militer (Kodam). Pada tahap selanjutnya, pelatihan akan menjadi bagian terintegrasi dengan pendidikan tinggi yang masuk ke dalam kurikulum.

“Jadi, misalnya nanti ada mata kuliah Dasar-Dasar Kemiliteran untuk menjadi mata kuliah pilihan, di kampus yang akan menjadi percontohan,” tambah Tiara.

Dalam posisi tidak aktif, Komcad tidak diperkenankan memakai seragam dinasnya. Komcad dari kalangan mahasiswa tidak diperkenankan memakai seragam di kampus untuk menekan kesan militerisme. Dengan keikutsertaan kalangan mahasiswa di Komcad, menurut Tiara, akan diputuskan ke depan, apakah Menwa tetap aktif atau tidak di lingkungan kampus.

[TOS | VOA]

Facebook Comments

Tags

Related Articles

Back to top button
Close