Opini

R.A Kartini di Zaman Now

Oleh: Juaini Harmaen (Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia Baznas)                                      

”Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya  dosa diperbuat orang atas nama agama itu”. – R.A Kartini

Itu adalah sepanggal kata-kata mutiara dari seorang tokoh pahlawan wanita legendaris di Indonesia. Buah pemikiran, pengorbanan serta pengabdian terhadap bangsa Indonesia tidak bisa terbalaskan dengan apapun juga. Oleh sebab itu, kita sebagai generasi zaman now harus mengetahui sosok beliau.

Biografi R.A Kartini 

Raden Ajeng Kartini atau dikenal sebagai R.A Kartini adalah tokoh pahlawan nasional yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita. R.A Kartini juga dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. R.A Kartini memiliki nama lengkap Raden Adjeng Kartini Djojo Adhiningrat ini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah.

Baca juga:  Menjaga Kedewasaan Berdemokrasi dalam Panasnya Suhu Politik Pilkada Serentak 2020

Dikutip dari kemdikbud.go.id, Kartini dilahirkan di tengah keluarga bangsawan dari seorang ayah yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Sementara ibunya bernama M.A. Ngasirah, bukan berasal dari keturunan bangsawan melainkan hanya rakyat biasa, anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Jepara.

Silsilah keluarga Kartini dari garis keturunan ayahnya merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI. Sekitar 24 tahun beliau hidup, walaupun tidak panjang usia beliau akan tetapi namanya selalu harum sampai sekarang. 

R.A  Kartini Zaman Now

Pemikiran R.A Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita melihat perbandingan antara wanita Eropa dan wanita pribumi. Hingga pada akhirnya ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi, karena kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah. Selain itu, pemikirannya juga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi.

Menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum. Selanjutnya, beberapa pemikiran yang tertuang dalam gagasan-gagasan tulisannya juga berisi tentang makna ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan, serta peri kemanusiaan dan juga Nasionalisme.

Di era sekarang ini banyak sekali terjadi persoalan persoalan yang terjadi di negara kita Indonesia. Akhir-akhir ini beredar luas video seseorang yang mengaku nabi. Video tersebut sangat melukai hati umat muslim dimana pun berada terutama masyarakat muslim Indonesia.

Baca juga:  Refleksi Hari Anak Nasional 2020: Anak Terlindungi, Indonesia Maju

Rasa kekesalan, kekecewaan dan kemarahan perempuan Indonesia terhadap kejadian tersebut harus disertai dengan meneladani sosok pribadi dan pemikiran R.A Kartini yang bijak dan santun. Pada momentum hari memperingati R.A Kartini kita jadikan pemicu semangat kita untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia di tengah banyaknya perbedaan.

Ke depan saya mengajak kaum perempuan untuk dapat memanfaatkan teknologi, tidak hanya secara maksimal, tetapi juga bijaksana dalam merawat kebhina eka tunggal ika di Indonesia. Dalam memanfaatkan media sosial contohnya, saya menggarisbawahi pentingnya membuka diri dan melakukan pengembangan diri untuk selalu belajar kepada generasi muda agar lebih memahami.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close