Gaya Hidup

Sering Dituduh Bikin Asam Urat Kambuh, Ini Fakta Medis Tahu dan Tempe

Network — Kaltim Today 02 Juli 2026 15:19
Sering Dituduh Bikin Asam Urat Kambuh, Ini Fakta Medis Tahu dan Tempe
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Penderita asam urat sering kali diminta untuk lebih selektif dalam memilih menu makanan sehari-hari guna menghindari serangan nyeri sendi. Salah satu jenis makanan yang sering memicu perdebatan dan dianggap sebagai penyebab kambuhnya asam urat adalah tahu dan tempe. 

Sebagai produk olahan dari kacang kedelai, tahu dan tempe memang mengandung senyawa purin sehingga muncul anggapan bahwa keduanya dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Namun, berbagai penelitian medis terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut keliru karena kedua makanan ini justru aman dikonsumsi.

Fakta ini diperkuat oleh penelitian besar dari Harvard Medical School yang dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine. Studi yang dipimpin oleh dr Hyon K Choi terhadap lebih dari 47.000 pria selama 12 tahun membuktikan bahwa konsumsi purin nabati tidak meningkatkan risiko serangan asam urat.

Para ilmuwan menemukan bahwa senyawa purin yang berasal dari tumbuhan memiliki dampak yang berbeda dengan purin dari hewan. Risiko tinggi memicu kekambuhan asam urat justru datang dari konsumsi daging merah, jeroan, serta beberapa jenis makanan laut (seafood).

Lembaga kesehatan Mayo Clinic juga menjelaskan bahwa proses pengolahan kedelai menjadi tahu dan tempe turut menurunkan kadar purinnya. Tahapan perendaman, perebusan, hingga proses fermentasi pada tempe terbukti melarutkan sebagian kandungan purin ke dalam air sehingga kadarnya menjadi lebih rendah.

Selain kadar purinnya yang berkurang, protein nabati dalam kedelai juga memiliki efek urikosurik ringan. Berdasarkan penjelasan Arthritis Foundation, efek urikosurik ini berarti protein kedelai berpotensi membantu organ ginjal meningkatkan pembuangan zat asam urat dari dalam tubuh melalui urine.

Oleh karena itu, tahu dan tempe dapat menjadi alternatif sumber protein yang sangat baik untuk mengurangi atau menggantikan konsumsi daging merah. Kedua bahan pangan ini kaya akan serat, vitamin, dan mineral, serta rendah lemak jenuh sehingga aman mendukung pola makan sehat.

Kendati aman, cara pengolahan tahu dan tempe tetap harus diperhatikan agar manfaat kesehatannya tidak hilang. Penderita asam urat sangat disarankan untuk menghindari metode menggoreng dengan minyak berlebih atau menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang.

Penggunaan minyak goreng yang berlebihan dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh pada makanan yang dapat mengganggu fungsi optimal ginjal dalam membuang asam urat. Sebagai alternatif, tahu dan tempe sebaiknya diolah dengan cara dikukus, direbus, dipanggang, dibacem, atau ditumis menggunakan sedikit minyak.

Selain cara memasak, perhatikan juga bahan campuran di dalam masakan. Kerap kali kadar asam urat melonjak bukan karena tahu atau tempenya, melainkan karena hidangan tersebut dimasak bersama bahan tinggi purin lain seperti jeroan, ampela, atau kuah santan yang kental.

Alih-alih menjauhi tahu dan tempe, penderita asam urat sebaiknya lebih fokus membatasi makanan yang sudah terbukti menjadi pemicu utama. Beberapa di antaranya adalah jeroan seperti hati dan ginjal, daging merah berlebih, sarden, teri, kerang, serta minuman beralkohol terutama bir.

Batasi juga konsumsi makanan atau minuman manis yang memiliki kandungan fruktosa tinggi. Untuk menjaga kadar asam urat tetap stabil secara jangka panjang, masyarakat juga disarankan untuk konsisten menjaga berat badan ideal, memperbanyak minum air putih, dan rutin berolahraga. 

[RWT] 



Berita Lainnya