Samarinda

Setiap Manusia Potensi Alami Gangguan Jiwa, 2030 Mendatang Penyakit ini Jadi Beban Utama Dunia

Kaltim Today
11 Oktober 2019 20:12
Setiap Manusia Potensi Alami Gangguan Jiwa, 2030 Mendatang Penyakit ini Jadi Beban Utama Dunia
Wakil Direktur Pelayanan RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda, Dr Jaya Mualimin

Kaltimtoday.co, Samarinda - Penyakit kesehatan jiwa rupanya bukan hal yang biasa. Gangguan mental seperti ini nyatanya bisa dialami oleh siapapun tak mengenal profesinya. Bahkan di prediksikan, hal ini pada 2030 mendatang menjadi beban penyakit nomor satu di dunia. Bahkan untuk saat ini, perhitungan terakhir yang diambil dari hasil survei global, sebanyak 800.000 jiwa per tahunnya, selalu ada upaya orang melakukan percobaan bunuh diri. Dan setiap 40 detik setiap harinya, selalu ada orang yang meninggal dunia akibat mengalami penyakit kejiwaan.

Gangguan penyakit ini salah satunya ialah rasa putus asa berlebih, yang menyebabkan depresi. Saat berada di posisi ini, seseorang bisa tanpa pikir panjang untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan potensi lain yang tak kalah buruk dari penyakit gangguan jiwa adalah, pengidapnya melakukan tindak pidana pembunuhan.

"Badan kesehatan dunia memperkirakan 2020 mendatang beban penyakit kejiwaan menjadi urutan nomor dan sepuluh tahunnya lagi menjadi nomor satu di dunia," ucap Wakil Direktur Pelayanan RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda, Dr Jaya Mualimin, saat dijumpai di ruang kerjanya, Jumat (11/10/2019) siang tadi.

Memperingati hari kesehatan jiwa se dunia, yang jatuh pada Kamis (10/10/2019) kemarin. Pihak lembaga kesehatan kejiwaan satu satunya di tanah Benua Etam ini telah melakukan beberapa upaya, agar potensi terburuk dari gangguan mental ini tak semakin parah di lingkungan masyarakat.

"Kita memperkenalkan penyakit mental ada pada masyarakat dan itu mudah untuk dicegah," imbuh Dr Jaya.

Cara pencegahannya, kata Dr Jaya, ialah dengan melakukan pengobatan secara medis. Selain itu peran serta lingkungan dan keluarga juga harus mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap perkembangan anak. Perilaku bullying yang diterima anak pada lingkungannya pun turut berperan besar.

Perceraian orang tua pun tak ketinggalan menjadi pemicunya. Dalam internal kehidupan keluarga bisa dipastikan selalu ada konflik. Namun hal tersebut harus berujung pada penyelesaian. Jadi jangan sampai hal seperti itu tertunda. Hal tersebut merupakan faktor eksternal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan.

Sedangkan faktor internalnya ialah, jika seseorang tidak mengalami keterbukaan dan cenderung menyimpan semua persoalannya sendiri. Pernikahan pun juga termasuk di dalamnya. Karena jika terlambat menjalaninya, maka hal tersebut juga bisa berpotensi memicu depresi berlebih.

"Fungsi manusia itu berpasangan dan anak sebagai faktor pelengkap kegembiraan di dalamnya," timpalnya.

Sementara dijelaskannya lebih jauh, dari sudut pandang medis, yang menjadi penyebab terjadinya gangguan mental seperti depresi karena banyaknya peningkatan aktifitas kimia penghubung sel neuron satu dengan yang lain. Ataupun sebaliknya, jadi penyebab Tidak konsentrasi dan halusinasi. Pesan yang disampaikan pikiran di lakukan oleh anggota tubuh lain. Semisal, tolong ambilkan handphone itu, tapi yang diambil justru buku di dekatnya. Untuk mereka yang telah mengidapnya, maka perlu proses lama untuk menyembuhkannya atau bahkan bisa jadi seumur hidupnya dihabiskan untuk masa penyembuhan.

"Pencegahan lebih baik dari mengobati dan penyakit gangguan jiwa lebih mudah dan murah mengobatinya dengan cara mendeteksi perubahan perilaku kemudian dibawa ke tenaga ahli buat dilakukan terapi," pungkasnya.

[JRO | RWT]


Related Posts


Berita Lainnya