Gaya Hidup

Terapi Plasma Darah Obati Corona, Benarkah? Berikut Faktanya

Metode terapi plasma darah disebut mampu obati virus Corona. Beberapa negara menerapkan metode tersebut sebagai langkah pengobatan sementara untuk menyembuhkan pasien COVID-19.

Di Indonesia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang farmasi, PT Bio Farma (Persero) akan mengembangkan plasma darah pasien COVID-19 yang telah pulih sebagai salah satu metode untuk penyembuhan pasien COVID-19.

Namun, apa sebenarnya terapi plasma darah tersebut? Bagaimana bisa mengobati pasien COVID-19? Berikut faktanya:

1. Uji coba sedang dilakukan di beberapa negara

Amerika Serikat merupakan negara pertama yang menguji coba terapi plasma darah akhir Maret 2020, di bawah koordinasi Food and Drug Administration (FDA).

Elliott Bennett-Guerrero, peneliti penggunaan plasma darah atau konvalesen pada pasien COVID-19 di Stony Brook Medicine, Amerika Serikat mengatakan, terapi plasma darah COVID-19 dilakukan sampai kita dapat mengembangkan vaksin yang dapat terbukti aman, dan efektif, dan dapat diproduksi dalam jumlah massal. Hingga saat ini metode dan produk plasma darah tersebut masih dalam ranah investigasi.

Selain Amerika, sejumlah negara pun tengah menguji coba keampuhan dari terapi plasma darah, seperti Iran, India, Inggris, dan Indonesia.

2. Sudah dilakukan sejak 1890

Terapi plasma darah konvalesen diketahui telah digunakan sebagai pengobatan sejak tahun 1890-an, yakni ketika darah dari korban sembuh diberikan kepada pasien difteri.

Metode ini juga sempat diberikan kepada penderita flu 1918 (dikenal dengan Flu Spanyol), yang merenggut banyak korban jiwa, seperti dilansir Los Angeles Times.

Studi selama pandemi flu tahun 1918 juga menunjukkan bahwa terapi itu adalah pengobatan yang efektif. Bahkan, terapi itu digunakan untuk mengelola puluhan penyakit pada abad itu, misalnya campak dan cacar air.

3. Diambil dari darah penyintas COVID-19

Cara kerja dari metode terapi plasma darah adalah menyedot darah dari darah penyintas COVID-19 dan mentransfusikannya ke orang yang terinfeksi Corona.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir menjelaskan, plasma darah dari pasien COVID-19 yang telah sembuh mengandung anti bodi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memerangi virus yang ada dalam tubuh pasien COVID-19.

Namun, pendonor harus memenuhi syarat terlebih dahulu. Mulai dari usia hingga riwayat penyakit penyerta.

Selain itu, darah pasien yang sembuh dari COVID-19 harus telah menjalani perawatan lebih dari 28 hari.

Selanjutnya petugas kesehatan juga akan memastikan bahwa darah yang diambil dinilai sudah berisikan antibodi yang kuat karena diproduksi dari kekebalan tubuh dari pasien yang sembuh.

4. Pernah dilakakan pada pasien yang terjangkit virus Ebola, SARS, MERS-CoV, dan H1N1

Terapi plasma darah memang pernah diterapkan dalam pengobatan virus Ebola, SARS, MERS-CoV, dan H1N1.

Namun, Direktur medis di Pusat Medis Universitas Nebraska Scott Koepsell Koepsell mengatakan, Ebola berbeda dengan COVID-19. Pada pasien Ebola, plasma dapat membantu mencegah perdarahan berbahaya yang disebabkan oleh virus.

Dalam setiap wabah, plasma darah konvalesen memiliki satu sisi positif, yakni tersedia segera setelah seseorang sembuh.

Meski terapi plasma darah menjadi opsi, Koepsell berkata obat yang terstandarisasi khusus untuk penyakit COVID-19 merupakan pilihan utama dan harus tersedia dalam waktu cepat. Selain itu, kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi pandemi merupakan hal penting di kemudian hari.

Oleh karena itu, hingga saat ini efektivitas tentang metode terapi plasma darah untuk pengangan COVID-19 terus dipelajari.

Di Indonesia, Lembaga Biologi Molekuler Ejikman sedang berkerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mengembangkan metode ini demi melawan virusCorona.

[NON | RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker