Kaltim

Groundbreaking Proyek Metanol di Kutai Timur, Wamen ESDM: Tonggak Hilirisasi Batubara

Kaltim Today
02 September 2026 09:58
Groundbreaking Proyek Metanol di Kutai Timur, Wamen ESDM: Tonggak Hilirisasi Batubara
Wamen ESDM Yuliot Tanjung saat groundbreaking proyek gasifikasi batubara di Bengalon, Kutai Timur, Senin (31/8/2026).

Kaltimtoday.co - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung secara resmi melakukan groundbreakingProyek Strategis Nasional Gasifikasi Batubara menjadi Metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park, Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Senin (31/8/2026).

Proyek yang dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical—perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal—ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 93 hektare. Langkah strategis ini diproyeksikan menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya mengubah paradigma ekspor bahan mentah menuju industrialisasi bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

Dalam arahannya, Wamen ESDM Yuliot Tanjung menegaskan bahwa Kalimantan Timur memegang posisi yang sangat vital sebagai salah satu lumbung energi nasional. Kehadiran fasilitas ini diyakini mampu memperkuat rantai pasok industri domestik sekaligus mendongkrak daya saing Indonesia di kancah global.

"Proyek BEC diharapkan menjadi contoh keberhasilan hilirisasi batubara yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri," ujar Yuliot Tanjung di hadapan jajaran pejabat daerah dan petinggi korporasi energi.

Yuliot Tanjung menambahkan, inisiatif ini dirancang untuk menciptakan efek berganda yang luas, mulai dari skala regional hingga nasional, demi mengawal terwujudnya visi Indonesia Maju 2045.

Selama ini ketergantungan Indonesia terhadap pasokan metanol luar negeri masih cukup tinggi. Tercatat sepanjang 2025, kebutuhan metanol nasional yang menyentuh angka 1,3 juta ton masih harus dipenuhi melalui jalur impor dengan nilai mencapai Rp 7,1 triliun per tahun.

Melalui operasional fasilitas pengolahan di Bengalon yang ditargetkan mulai commissioning pada 2029 mendatang, Indonesia diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun berstandar International Methanol Producers and Consumers Association Grade. Pabrik ini akan menyerap sekitar 7,70 hingga 7,78 juta ton batubara berkalori rendah sekitar 3.400 kcal/kg per tahun.

Transformasi ini tidak hanya mengamankan ketahanan energi nasional, tetapi juga berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 7,1 triliun setiap tahunnya. Komoditas metanol yang dihasilkan nantinya akan diserap langsung untuk memenuhi kebutuhan sektor petrokimia, formaldehida, hingga mendukung pengembangan energi hijau seperti FAME dan program biodiesel B50.

Dari sisi kesiapan infrastruktur, proyek ini telah memasuki tahap engineering melalui penyusunan Front-End Engineering Design serta kesepakatan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning bersama PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. Fasilitas ini nantinya juga dilengkapi dengan teknologi pengendalian emisi yang terintegrasi dengan sistem Carbon Capture and Storage.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyambut baik dan memberikan dukungan penuh atas berjalannya proyek ini. Mewakili Gubernur Kaltim, Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto menekankan pentingnya keberlanjutan proyek hingga tahap produksi nyata.

Aspek kesejahteraan masyarakat lokal turut menjadi sorotan utama dalam pelaksanaan proyek ini. Pada tahap konstruksi awal, proyek diperkirakan menyerap 2.000 tenaga kerja yang akan melonjak hingga 5.000 pekerja pada puncak konstruksi, serta 800 pekerja profesional pada fase operasional.

Pemprov Kaltim secara tegas meminta agar porsi tenaga kerja lokal diprioritaskan agar masyarakat lingkar tambang dapat merasakan langsung manfaat ekonomi dari investasi strategis tersebut.

[TOS]



Berita Lainnya