Daerah

Jalan Penghubung Sejumlah Desa di Muara Kaman Kondisinya Rusak Parah, Tanah dan Berlumpur

Supri Yadha — Kaltim Today 03 April 2026 20:01
Jalan Penghubung Sejumlah Desa di Muara Kaman Kondisinya Rusak Parah, Tanah dan Berlumpur
Kondisi jalan penghubung di Muara Kaman. (Istimewa)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Akses jalan penghubung sejumlah desa di Kecamatan Muara Kaman kondisinya memprihatinkan. Jalan tanah ini berubah menjadi lumpur dan berair saat hujan, sehingga sulit dilalui kendaraan biasa dan hanya bisa dilewati mobil double cabin.

Jalan rusak ini pun mendapat perhatian dari DPRD Kukar, yang turun langsung melakukan sidak ke lapangan, Kamis (2/4/2026). Turut dihadiri sejumlah Kepala Desa (Kades), salah satunya Kades Rantau Hempang, Maman Sulaeman. 

Maman menjelaskan, terdapat dua lokasi yang menjadi titik peninjauan. Lokasi pertama adalah jalan penghubung Desa Rantau Hempang, Benua Puhun, Teratak hingga Desa Selerong di Kecamatan Sebulu.

Sementara lokasi kedua berada di wilayah Seberang Mahakam, tepatnya Desa Muara Kaman Ulu, Muara Kaman Ilir, Rantau Hempang, Benua Puhun, Teratak hingga Jambe.

Ia menyebut, panjang jalan dari Rantau Hempang menuju Selerong mencapai kurang lebih 14 kilometer. Dari total tersebut, sekitar 6 kilometer di antaranya, khususnya dari Benua Puhun menuju Selerong, menjadi titik dengan kerusakan paling parah.

“Dari 14 km, yang titik paling rawan sekali antaranya itu dari Benua Puhun, sekitar perusahaan menuju ke Selerong, antaranya 6 km lagi yang lebih parahnya,” kata Maman, Jumat (3/4/2026).

Ia menerangkan, sebelum tahun 2000-an jalan tersebut belum tersedia. Masyarakat kemudian berinisiatif mengusulkan pembukaan akses jalan tembus ke Selerong kepada pemerintah daerah.

Kondisi jalan saat Sidak bersama Anggota DPRD Kukar. (Istimewa)

Pada 2004, usulan pembangunan jalan diajukan dengan nilai Rp15 miliar, namun yang disetujui sebesar Rp8,7 miliar. Pembangunan jalan tersebut kemudian terealisasi pada 2005–2006 dengan panjang sekitar 16,5 kilometer.

Karena kondisinya masih berupa tanah timbunan, pada 2008–2009 kembali diusulkan peningkatan jalan menggunakan agregat sepanjang 16 kilometer dengan anggaran sekitar Rp23 miliar. Selanjutnya, usulan semenisasi juga diajukan, namun realisasinya belum merata.

“Sekitar 2013-2014 terealisasi semenisasi, cuma tidak sampai hingga ke Selerong, hanya di Rantau Hempang saja semenisasinya,” ucapnya.

Saat ini, kondisi jalan kembali memburuk. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur dan sulit dilalui. Aktivitas kendaraan perusahaan yang mengangkut sawit juga turut memperparah kerusakan.

Menurut Maman, jika jalan tembus Selerong dalam kondisi baik, akses menuju Kecamatan Tenggarong akan menjadi lebih dekat dibandingkan melalui Kecamatan Kota Bangun.

Ia memperkirakan jarak dari Rantau Hempang menuju Jalan Mangkurawang Tenggarong melalui Selerong hanya sekitar 50 kilometer. Sementara jika melalui Kota Bangun, jaraknya bisa mencapai lebih dari 100 kilometer.

“Kalau jalan itu bagus, banyak masyarakat dari berbagai desa tetangga lebih memilih lewat Selerong jika mau ke Tenggarong, tidak perlu lagi lewat Kota Bangun,” tuturnya.

Sementara untuk akses di wilayah Seberang Mahakam, Maman menyebut pada 2023 lalu lima desa, yakni Muara Kaman Ulu, Muara Kaman Ilir, Rantau Hempang, Benua Puhun, dan Teratak, sempat bertemu dengan Bupati Kukar saat kegiatan Liga Bola Sabintulung. Dalam pertemuan tersebut, mereka mengajukan permohonan perbaikan jalan yang disetujui oleh Bupati saat itu, Edi Damansyah.

Namun hingga kini, realisasi pembangunan belum juga dilakukan. Pada 2024, pembahasan kembali dilakukan di tingkat kecamatan dengan melibatkan konsultan dan Dinas Pekerjaan Umum, yang saat itu menyetujui rencana pembangunan jalan tersebut.

Meski demikian, kondisi jalan tanah yang berlumpur masih belum mengalami perbaikan. Bahkan, masyarakat telah merelakan tanaman seperti pinang dan pisang ditebang karena terdampak rencana pembangunan.

“Tanaman masyarakat yang menghasilkan banyak ditebang, ternyata sampai sekarang pun tak ada kunjung datang pembangunan. Makanya kemarin semua RT pada datang saat Sidak bersama DPRD di lapangan,” ungkapnya.

Maman berharap, Pemkab Kukar dapat menunjukkan kepedulian dan niat tulus untuk membangun jalan. Keberadaan akses ini sangat dibutuhkan bagi masyarakat di tanah hulu.

“Jangan memilih atau memilih sekat-sekat yang diuntungkan. Kita tidak lagi bahasanya antara itu siapa, ini siapa. Sekarang kita menyatu untuk pembangunan wilayah Kukar lebih baik lagi, terutama untuk masyarakat yang ada di tanah hulu,” tandasnya.

[RWT]



Berita Lainnya