Daerah

9 Kecamatan Terancam Gagal Panen, Kukar Siapkan Langkah Antisipasi

Supri Yadha — Kaltim Today 13 Agustus 2026 19:35
9 Kecamatan Terancam Gagal Panen, Kukar Siapkan Langkah Antisipasi
Ilustrasi gagal panen. (Dok. Unair)

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Kemarau mulai menguji ketahanan lahan pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar). Sedikitnya sembilan kecamatan kini masuk dalam pemetaan wilayah terdampak kekeringan, dengan sejumlah persawahan bahkan berisiko mengalami puso jika pasokan air tidak segera dipenuhi.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar membentuk satuan tugas (Satgas) terpadu untuk memetakan titik-titik yang mengalami kekurangan air sekaligus menentukan penanganan sesuai kondisi masing-masing wilayah.

Sembilan wilayah yang telah teridentifikasi terdampak yakni Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu, Loa Janan, Sebulu, Muara Kaman, Marangkayu, Samboja, serta satu kecamatan lainnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani mengatakan, langkah awal Satgas adalah memastikan kondisi kekeringan secara faktual di lapangan.

Pemetaan dilakukan berdasarkan laporan dari masing-masing wilayah yang kemudian diolah secara spasial. Data tersebut digunakan untuk mengetahui posisi lahan pertanian, sumber air terdekat, jarak sumber air dengan persawahan, hingga sarana pengairan yang tersedia.

“Dari data lapangan itu kita susun rencana aksinya,” kata Rifani, Kamis (13/8/2026).

Data awal tersebut masih perlu diverifikasi langsung. Karena itu, tim terpadu diterjunkan secara serentak ke sembilan kecamatan untuk melihat kondisi persawahan sekaligus menginventarisasi potensi sumber air yang dapat dimanfaatkan.

Petugas di lapangan akan mencatat sejumlah kebutuhan teknis, mulai dari sumber air, jaraknya dengan lahan pertanian, kondisi saluran irigasi, sarana-prasarana pengairan hingga keberadaan pompa.

Dari hasil analisis awal, Distanak Kukar menemukan sejumlah lahan yang berpotensi mengalami puso apabila tidak segera mendapatkan pasokan air. Namun, tingkat ancaman kekeringan berbeda di setiap wilayah.

Sebagian tanaman dinilai masih relatif aman karena telah melewati fase kritis kebutuhan air. Sementara tanaman yang masih berada pada fase membutuhkan pasokan air tinggi menjadi perhatian utama.

Tenggarong Seberang menjadi salah satu wilayah dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Selain itu, kawasan Bukit Biru di Kecamatan Tenggarong juga terindikasi terdampak cukup parah dengan luasan lebih dari 100 hektare.

“Kalau laporannya parah Tenggarong Seberang. Tenggarong itu Bukit Biru terindikasi memang parah dengan luas di atas 100 hektare,” sebutnya.

Di sisi lain, kondisi di Loa Janan, khususnya Loa Duri Ulu dan Loa Duri Seberang, relatif lebih terkendali. Sejumlah lahan di wilayah tersebut telah melewati fase kritis pertumbuhan tanaman.

Meski demikian, penanganan tetap dilakukan untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan air. Salah satunya dengan menormalisasi saluran air yang menghubungkan kawasan persawahan dengan sungai.

Pemkab Kukar menggandeng dunia usaha untuk melakukan normalisasi saluran sepanjang kurang lebih 700 meter. Saluran tersebut sebelumnya tersumbat rumput, gulma dan material lainnya sehingga menghambat aliran air.

“Lebih kurang 700 meter dan kendalanya saluran itu tersumbat oleh rumput dan sebagainya, gulma dan sebagainya. Nah, itu sudah selesai dinormalisasi oleh teman-teman perusahaan,” tuturnya.

Dengan saluran yang telah dinormalisasi, air sungai saat pasang diharapkan dapat masuk lebih lancar. Kondisi tersebut juga memungkinkan pompa bekerja lebih optimal untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.

Rifani menyebut kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi kondisi tersebut adalah fenomena El Nino.

Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus. Sementara peluang hujan pada September masih relatif kecil.

“Kemungkinan sampai November, November baru ada hujan,” imbuhnya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu menyiapkan skema penanganan yang tidak hanya mengandalkan langkah sementara. Sejumlah opsi seperti penyediaan selang, pompa dan pemanfaatan sumber air akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi.

Namun, tantangan di setiap wilayah berbeda. Ada kawasan yang masih bisa mengandalkan pasang air sungai, sementara sejumlah lokasi lainnya tidak terjangkau pasang dan tidak memiliki sumber air yang memadai.

"Nanti kita mau lihat teman-teman dari PU juga. Analisisnya seperti apa, kajiannya seperti apa, baru kita bisa menemukan," pungkasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya