Opini

Klarifikasi Isu: Bagian dari Etika atau Demi Kepentingan Semata? 

Oleh: Fawziya Aprelliani (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

Diselimuti oleh canggihnya teknologi informasi, sulit rasanya untuk tidak terikat dengan pembaharuan. Dimana secara perlahan cara konvensional mulai ditinggalkan dan beralih dengan cara yang instan. Sebut saja pada kegiatan sehari-hari, seperti berkomunikasi, bahkan pada sesuatu yang menyangkut dengan etika sekalipun.

Hadirnya media sosial juga membawa dampak yang besar dalam kehidupan manusia. Mudahnya berinteraksi dengan orang yang jauh atau bahkan tidak dikenal, mendapat dan memproduksi informasi, memudahkan kita dalam mengikuti perkembangan setiap harinya. Ketika berinteraksi dengan banyak orang, tentu kita akan mendapat beragam informasi mengenai beragam hal dan menerima dari berbagai sudut pandang. Mengingat ada informasi yang valid dan ada juga informasi yang tidak jelas kebenarannya sehingga menjadi simpang siur. Jika tidak selektif, informasi tersebut dapat menjadi hoax bahkan fitnah.  

Baca juga:  Guru, Makan Gaji Buta?

Berkenaan dengan komunikasi juga media sosial, munculnya sebuah isu merupakan hal yang lumrah terjadi setiap harinya. Mengingat manusia hidup di semesta yang dinamis dan tidak pernah berhenti menggulirkan berbagai fenomena. Ketika sebuah isu hadir, masyarakat tentu akan memberikan reaksi mereka, terlepas dari baik atau buruknya reaksi tersebut. Cakupan informasi di era ini dengan mudah menyebar luas dalam waktu yang relatif singkat, membuat para pengguna media sosial akan dengan cepat menangkap dan menjadikan sebuah isu sebagai bahan yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut. Oknum-oknum, baik yang  bersangkutan maupun tidak ingin ikut memberikan pendapat mereka perihal isu tersebut. Namun sayang, minimnya literasi dari para penerima informasi atau bahkan pembuat informasi  membuat sebuah isu tak jarang memicu permasalahan baru. 

Menilik penyalahgunaan sosial media dalam membawa sebuah isu untuk diperbincangkan, wajib hukumnya kita sebagai pengguna untuk memverifikasi informasi yang diterima. Mengingat tidak ada cara dalam memverifikasi sebuah kebenaran berita selain oknum  yang bersangkutan membuka suara. Valid tidaknya sebuah informasi juga dapat dilihat dari 3  aspek yakni, penanggung jawab isi informasi atau sumber dari informasi baik mereka pihak  pertama atau mereka yang memuat ulang informasi, lalu relevansi isi informasi berkenaan dengan fakta terkait isu, dan representasi informasi.  

Dari penyalahgunaan media sosial yang menyebabkan salah pengertian terhadap sebuah isu inilah, klarifikasi dibutuhkan. Penjelasan terhadap apa yang sedang marak diperbincangkan nyata diperlukan, klarifikasi penting diposisikan menjadi konsep dalam ranah  komunikasi. Sehingga kebenarannya tidak diklaim secara ambigu. Komunikasi yang  bersentuhan dengan problem etis menjadi satu landasan etika dalam berkomunikasi. Agar  selanjutnya tidak menyinggung pihak lain dan berhenti menggulirkan asumsi kearah yang tidak  seharusnya. Mencakup kehati-hatian dan ketelitian dalam menyikapi informasi maupun media  selaku wadah informasinya.  

Namun belakangan ‘klarifikasi’ menjadi momok semata karena diaggap sudah menjadi ‘Template’. Dimana ketika sebuah isu telah berkembang menjadi sebuah konflik akan ada  klarifikasi yang menyertainya. Karena kerap kali terjadi, klarifikasi sering dianggap tidak bersungguh-sungguh. Hal tersebut juga dipicu oleh maraknya pihak yang menginginkan  eksistensi sesaat dengan ikut terlibat kedalam konflik, walau faktanya banyak dari mereka yang  terlibat tidak mengetahui urgensi dari konflik itu sendiri.

Baca juga:  Polemik UU ITE dan Polisi Virtual dalam Mengatur Etika Praktik Komunikasi di Media Sosial

Tak jarang juga klarifikasi dimanfaatkan sebagai ajang pemulihan citra. Biasa dilakukan oleh para tokoh yang memiliki  nama atau pengikut yang banyak. Klarifikasi bukan atas kesadaran dalam hidup sosial yang  bermoral tetapi demi menjaga eksistensi. Atas behavior masyarakat dalam bersosial media tersebut membuat kata ‘klarifikasi’ itu sendiri mulai bergeser makna dan dipandang remeh oleh  masyarakat.  

Perlu diingat pembaharuan memang dapat membantu kehidupan tetapi hal tersebut  membuat kita sebagai pengguna harus semakin jeli seiring perkembangannya. Dan lagi apa yang sedang ramai diberitakan belum tentu benar faktanya dan kita sebagai pengguna juga  perlu untuk memperhatikan etika dalam memberikan pendapat baik dalam menulis ataupun bertutur.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker