Opini

Kombinasi Filsafat Stoikisme dan Teori Katarsis sebagai Bentuk Implementasi Self Healing

Oleh: Rifkal Artha Yuda (Mahasiswa S1 Keperawatan UMKT)

Fenomena healing akhir-akhir ini menjadi kata yang popular di kalangan anak muda. Diksi healing sendiri sedang trend di sosial media, dan anak-anak muda lah yang menjadi subjek dalam mempropagandakan kata tersebut. Banyak dari pengguna sosial media mempulerkan kata tersebut melalui cuitan status di berbagai platform sosial media, di antaranya instagram, twitter, dan juga whatsapp. 

Menurut penulis, banyak orang menuliskan kata healing di sosial media hanya untuk mengikuti trend yang sedang ramai diperbincangkan. Padahal jika dilihat lebih dalam, dan dengan seksama dan tempo yang seutuhnya, mereka yang mempopulerkan kata tersebut sebenarnya tidak tau apa makna sebenarnya dari self healing.

Baca juga:  Problem Konsep Kebebasan Paradigma Sexual Consent dalam Penanganan Kekerasan Seksual Permendikbudristek 30/2021

Mereka menggunakan kata tersebut hanya semata-mata agar tidak ketinggalan oleh perkembangan zaman dan yang pastinya sebagai upaya agar tetap menjaga eksistensi di dunia maya. Tetapi di sini, penulis akan membuat narasi diskursus kepada mereka yang memang membutuhkan self healing sebagai upaya untuk melapaskan ikatan emosional yang menggangu.

Secara terminologi, makna healing sebenarnya berkaitan dengan kesehatan mental, yang dalam hal ini dapat penulis definisikan sebagai proses penyembuhan diri dari ketegangan emosional yang bertujuan untuk mendapatkan ketenangan batin serta jiwa. Sebenarnya definisi healing akan berbeda di tiap-tiap orang, semua itu dapat dilandasi dengan berbagai faktor, seperti pengetahuan dan juga pengalaman.  Tetapi sah-sah saja jika ada perbedaan dalam mengartikan makna dari healing itu sendiri, dan semua orang mempunyai kedaulatannya masing-masing dalam mengutarakannya.

Menurut penulis, healing menjadi populer karena banyak yang merasa jenuh akan aktivitas sehari-hari yang menguras waktu, tenaga, dan juga pikiran. Sehingga dengan pelbagai kesibukan tersebut, akhirnya orang-orang mengalami kelelahan emosional. Kelelahan emosional dapat menimbulkan bermacam-macam respon, mulai dari perasaan sedih, terpuruk, khawatir, cemas, hingga tidak bersemangat menjalani aktivitas. Ketika muncul berbagai masalah tersebut, healing merupakan upaya yang sangat direkomendasikan untuk menyelesaikan perasaan gundah gulana yang menyerang sektor psikologis.

Kesehatan mental adalah aspek yang sangat penting, pasalnya ketika kesehatan mental pada manusia dalam keadaan prima, maka hal tersebut akan menopang kesehatan fisiologis yang lebih baik juga dan aktivitas sehari-hari pun akan lebih maksimal. Upaya implementasi healing pun akan berbeda-beda tiap orang, hal ini dikarenakan penyebab yang berbeda-beda dan yang pastinya membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

Ada orang yang melakukan self healing karena disebabkan oleh pekerjaan yang menumpuk sehingga hadirnya kelelahan saat bekerja. Di sisi lain, ada pula yang mengalami trauma berat karena adanya luka yang ditinggalkan oleh masa lalu, dan dalam hal ini diperlukan self healing yang lebih intens.

Dalam upaya self healing, banyak sekali intervensi yang dapat dilakukan agar dapat mendapatkan proses penyembuhan yang optimal, dan di sini penulis menawarkan suatu gagasan yaitu kombinasi filsafat stoikisme dan katarsis sebagai bentuk implementasi healing.

Baca juga:  Problematika Pengawasan Daftar Pemilih Berkelanjutan

 

Filsafat Stoikisme

 

Filsafat stoikisme merupakan sebuah aliran filsafat yang berasal dari Yunani Kuno, didirikan di kota Athena oleh Zeno dari Citium pada sekitar abad ke-3 Sebelum Masehi. Sejarah dari filsafat stoikisme memang panjang sekali, tetapi di sini penulis akan mencoba meringkaskan agar tetap menjawab dari rumusan masalah yang telah disampaikan di atas, yaitu sebagai bentuk healing.

Filsafat stoikisme sangat direkomendasikan untuk mendapatkan keadaan psikologis yang lebih sehat. Stoikisme adalah cara hidup yang menekankan dimensi internal manusia. Seorang stoa dapat hidup bahagia karena ia tidak terlalu memikirkan dan terpengaruh oleh hal eksternal yang tidak dapat ia kendalikan.

Stoikisme adalah upaya untuk memfokuskan pada internal diri manusia, ketika segala sesuatu dapat dikendalikan secara penuh, yaitu meliputi pikiran kita, pendapat kita, serta tujuan kita. Aliran filsafat ini mengajarkan cara agar tetap tenang ketika menghadapi tekanan ataupun situasi yang sulit, dan fokus utamanya yaitu penguasaan diri. Prinsip dasarnya yaitu seseorang fokus mengendalikan apa yang mampu dikendalikan yang utama yaitu pikiran sendiri, dan apapun yang di luar pikiran seperti perilaku maupun tindakan orang lain merupakan hal eksternal yang tidak dapat dikendalikan.

Seorang yang menganut ajaran stoikisme akan mempunyai prinsip untuk tidak terlalu berekspektasi terhadap pandangan dan penilaian orang lain, karena ketika kita menaruh besar harapan pada orang lain, dan ketika kita tidak mendapatkan hal tersebut maka kekecewaanlah yang akan kita dapatkan. Filsafat stoikisme akan membuat seseorang jauh dari kecemasan karena segala pencapaian akan berfokus pada pemikiran internal diri, bukan dari sisi penilaian orang lain.

Contoh sederhana dari filsafat stoikisme yaitu ketika seorang mahasiswa ingin mendapatkan IPK tinggi, yang dapat dikendalikan yaitu kualitas dan kuantitas belajar meliputi waktu dan usaha yang dikerahkan untuk mencapai hasil yang harapannya maksimal. Sebaliknya, yang tidak dapat dikendalikan yaitu apakah dosen akan memberikan nilai yang diharapkan, dan banyak sekali faktor yang dapat menentukan ini, dan sedikit banyaknya dalam kondisi di luar kendali kita.

Baca juga:  Keluarga Berencana sebagai Asa Pembangunan Manusia Kaltim

Semakin manusia mencoba mengendalikan apa yang di luar kendali diri, maka semakin kecewa dan frustasi ketika apa yang diharapkan dari eksternal tersebut tidak didapat. Maka dari itu, intinya fokus apa yang bisa dikerjakan dan maksimalah untuk menggapainya.

Ketika seseorang berekspektasi lebih, maka akan muncul rasa kekecewaan dan inilah yang membuat kelelahan emosional sehingga seseorang membutuhkan self healing, sehingga filsafat stoikisme merupakan salah satu rekomendasi agar kita dapat menngoptimalisasikan potensi, pikiran dan juga tindakan yang dapat kita kendalikan dan meminimalisir kejadian yang tidak dapat dikendalikan.

 

Katarsis

 

Secara etimologi, katarsis berasal dari bahasa Yunani yaitu kathoros, yang berarti ‘untuk menyucikan’ atau ‘untuk membersihkan’. Istilah ini menjadi substansi pembahasan di bidang psikologis yang di mana berdasarkan teori Sigmund Freud, ketika seseorang mampu melepaskan ikatan emosional diri dengan cara mengartikulasikan segala ketegangan tersebut dengan jelas dan menyeluruh. Katarsis dapat dimaknai sebagai upaya untuk membebaskan ataupun membersihkan jiwa dari ketegangan emosional.

Dalam sejarah, katarsis merupakan intervensi terapeutik untuk mengobati gangguan hiteria, yaitu merupakan kondisi emosional yang berlebihan dan dapat membuat seseorang mengalami halusinasi, kecemasan, dan emosi yang meledak-ledak. Jika memaknai secara substansial, penulis dapat menarik sebuah konklusi inti dari teori katarsis yaitu suatu upaya untuk pembersihan dan pemurnian diri dari ketegangan emosional. Hal ini dapat direlevansikan dengan keadaan yang sedang ramai, yaitu tentang self healing.

Orang yang sedang merasakan ketegangan emosional karena pelbagai faktor-faktor pemicu, perlu melakukan self healing agar semua perasaan tersebut dapat pulih kembali dan kesehatan mental pun akan membaik. Jika dilihat secara definitif dari teori katarsis ini, sebenarnya aktivitas-aktivitas sederhana pun dapat menjadi sebuah implementasi yang baik untuk menunjang kegiatan katarsis, contohnya saja seperti curhat dengan teman atau keluarga ketika sedang mengalami masalah, lalu melakukan hal-hal yang disukai, berolahraga, dan jika perlu berteriaklah, yang terpenting jiwa kita merasa nyaman dan lega karena melakukan aktivitas tersebut.

 

Kombinasi Filsafat Stoikisme dan Katarsis

 

Melihat fenomena healing, perlu adanya implementasi yang baik agar kesehatan jiwa pun semakin membaik, dan di sini, penulis mencoba mengombinasikan antara filsafat stoikisme dan teori katarsis sebagai upaya implementasi untuk mengatasi kejenuhan emosional. Contoh yang dapat dilakukan adalah dengan cara menyadari bahwa segala sesuatu yang ada dalam diri kita merupakan tanggung jawab kita sepenuhnya. Maka dari itu, perlunya mengaktulisasikan potensi diri dan menjauh dari yang tidak bisa kita kendalikan.

Baca juga:  Hak untuk Berpendapat atau Hak untuk Menghina?

Selanjutnya setelah melakukan ajaran filsafat stoikisme, kita perlu melakukan kegiatan-kegiatan untuk menyegarkan otak dan tubuh kita dengan cara beraktivitas sesuai kesukaan kita. Tidak usah muluk-muluk seperti liburan ke Kapadokia untuk melakukan self healing. Menurut penulis, mempunyai waktu bersantai sambil menonton film yang disukai, hal tersebut sudah cukup untuk menyenangkan lini psikologis kita.

Ketika kita sudah mengoptimalisasikan ajaran dari filsafat stoikisme dan mengimplementasikan teori katarsis melalui kegiatan-kegaiatan yang kita senangi, maka kecil kemungkinan kita akan merasakan kejenuhan, dan hal tersebut bisa menjadi rekomendasi self healing yang ideal. Maka dari itu, perlunya upaya preventif agar kita dapat memahami diri sendiri terlebih dahulu, agar ke depannya bisa hidup lebih sehat, bahagia dan bijaksana.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker