Nasional

Pelajar SMK di Nunukan Depresi Berat Setelah Diperkosa Perempuan Berusia 42 Tahun, Berikut Fakta-faktanya

Kaltim Today
24 Mei 2022 12:27
Pelajar SMK di Nunukan Depresi Berat Setelah Diperkosa Perempuan Berusia 42 Tahun, Berikut Fakta-faktanya
Seorang remaja laki-laki di Kaltara mengalami depresi berat setelah diduga diperkosa perempuan paruh baya.

Kaltimtoday.co - Warga Nunukan di Kalimantan Utara dibuat gempar setelah penangkapan seorang perempuan berusia 42 dilaporkan memerkosa remaja laki-laki berumur 16 tahun.

Akibat disetubuhi pelaku, korban yang masih duduk di bangku SMK itu mengalami gangguan mental sampai jatuh sakit hingga harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan.

Pelaku diancam penjara paling singkat 5 tahun

"Pelaku sudah kami tahan. Pelaku dijerat dengan Pasal Perlindungan Anak. Ancaman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, disertai denda sebesar lima miliar rupiah," ungkap Kanit PPA Satreskrim Polres Nunukan, Ipda Martha kepada awak media, Senin (23/5/2022).

Ipda Martha menjelaskan, saat ini penyidik masih mendalami kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan pelaku, terhadap pelajar di salah satu SMK di Nunukan tersebut.

Pelaku, disampaikan Ipda Martha, sudah diringkus polisi setelah orang tua korban melaporkannya ke Polres Nunukan pada Jumat (20/5/2022).

"Pelaku dilaporkan orang tua korban, setelah korban yang sedang mengalami depresi berat bercerita, kalau dirinya depresi karena sudah disetubuhi pelaku. Orang tua korban tidak terima lantas melaporkan kejadian itu ke kami," terang Ipda Martha.

Terungkap dari laporan orangtua korban

Terungkapnya kasus persetubuhan tersebut berawal ketika pihak sekolah menghubungi orang tua korban yang saat itu sedang bekerja di Malaysia. Pihak sekolah memberitahukan kalau kondisi korban sedang sakit dan sangat membutuhkan pendampingan.

"Ibu korban ini bekerja di Malaysia, dikabarkan pihak sekolah kalau korban di asramanya lagi sakit. Sebelum sakit itu korban memang banyak merenung seperti depresi," ucapnya.

Singkat cerita, setibanya ke tanah air, ibu korban langsung menemui Guntur yang sedang sakit. Pihak sekolah menyampaikan, penyebab Guntur sakit karena tidak nafsu makan karena mengalami depresi.

"Ibu korban menerima informasi dari pihak sekolah, kalau korban sempat bercerita dengan salah satu gurunya. Korban mengaku memiliki teman perempuan," katanya.

Diduga karena hal itu, korban yang dikenal selalu ceria belakangan berubah menjadi pemurung. Hingga akhirnya, korban mau bercerita kepada ibunya. Alangkah terkejutnya sang ibu, ketika mengetahui penyebab putranya depresi, karena disetubuhi pacar korban.

"Orang tua korban tidak terima, melaporkan ke kami pada 20 Mei lalu. Kami langsung lakukan penyelidikan dan kami amankan pelaku di rumahnya pada hari itu juga," terangnya.

Pelaku akui bersetubuh dengan korban, bantah memerkosa

Lebih lanjut Ipda Martha menyampaikan, di hadapan penyidik pelaku mengakui telah menyetubuhi korban. Namun hubungan seksual layaknya suami istri itu diakuinya bukan pertama kalinya terjadi.

Pelaku mengaku kalau dirinya menjalin hubungan pacaran dengan korban sejak Febuari lalu. Perkenalan keduanya bermula dari chatingan lewat media sosial tiktok. Hingga akhirnya, keduanya berpacaran dan berulang-ulang kali melakukan persetubuhan.

Pelaku menjelaskan, keperjakaan korban telah dia renggut saat kencan pertama di bulan Febuari lalu. Sejak saat itu, keduanya kerab bertemu dan melakukan hubungan seksual. Pelaku sadar kalau korban dengan alasan suka sama suka.

"Korban ini tinggalnya di asrama sekolah, biasanya kalau korban keluar minta izinnya mau mau ke rumah ibadah, padahal bertemu dengan pelaku di rumah sewa," ucapnya.

Pelaku sudah lama menjadi janda

Diketahui kalau pelaku sudah lama menjanda. Kepada penyidik, pelaku dengan tegas membantah tudingan keluarga korban yang menyebutnya sebagai mantan PSK.

"Pelaku juga membantah memberikan obat kuat kepada korban. Pelaku juga bukan bekas PSK. Namun, pelaku mengakui telah berhubungan seksual dengan korban," sambungnya.

Untuk mengungkap perkara ini, Unit PPA Satreskrim Polres Nunukan telah meminta keterangan sejumlah saksi dari pihak sekolah dan perwakilan Dinas Sosial. Penyidik juga berkoordinasi dengan dokter spesialis anak, kulit dan kelamin serta spesialis ahli jiwa.

"Hingga saat ini korban masih belum bisa kami mintai keterangan karena masih dalam penanganan di rumah sakit. Kami berikan tiga penanganan, mulai dari kejiwaan, dokter anak hingga dokter spesialis kelamin," pungkasnya.

[TOS]

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram "Kaltimtoday.co News Update", caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Berita Lainnya