Daerah

Persoalan Estetika Bangunan, Dinas PUPR Samarinda Akui Belum Pertimbangkan Kemungkinan Tempias Hujan di Pasar Pagi

Nindiani Kharimah — Kaltim Today 05 Januari 2026 17:07
Persoalan Estetika Bangunan, Dinas PUPR Samarinda Akui Belum Pertimbangkan Kemungkinan Tempias Hujan di Pasar Pagi
Lantai 6 Pasar Pagi Samarinda yang sempat tergenang air akibat hujan deras. (Nindi/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Samarinda - Keluhan pedagang Pasar Pagi Baru yang terdampak tampias Kepala Dinas PUPR Kota Samarinda, Desy Damayanti menjelaskan bahwa persoalan tempias air hujan yang menggenangi lorong lapak di lantai enam bukan hanya soal fungsi, tetapi juga menyangkut wajah arsitektur gedung.

Menurut Desy, desain awal kanopi gedung Pasar Pagi tidak dirancang untuk mengantisipasi angin kencang yang membawa air hujan masuk dari samping. Ia menilai, keputusan menambah kanopi di sisi kanan bukan perkara sederhana karena akan mengganggu proporsi visual bangunan. 

“Ada perencanaan yang memang secara struktur kami tidak menghitung posisi air hujan ketika ada angin besar. Secara estetika dipasang kanopi, sebetulnya tidak bagus. Kalau kami menambah kanopi dari sisi kanan, bangunan tidak akan simetris,” jelasnya saat dikonfirmasi Kaltim Today, Senin (5/1/2026).

Video berdurasi 58 detik yang viral sebelumnya memperlihatkan pedagang di lantai enam meminta solusi atas genangan air di lorong depan lapaknya. Tempias itu, kata Desy, berasal dari hembusan angin dari sisi Jalan Pandai yang cukup dominan, terlebih karena area di sebelah kanan gedung masih kosong, sehingga tidak ada penghalang angin. 

“Tempias yang signifikan itu kan dari sisi kanan Jalan Pandai, karena bangunan di sampingnya kosong. Kiri tidak, karena dari sisi itu banyak bangunan,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak terjadi setiap hujan, melainkan hanya pada kondisi tertentu ketika arah angin cukup kuat. Faktor ini pula yang membuat antisipasi sejak awal desain tidak dimasukkan ke dalam perencanaan. 

“Tapi itu tidak terjadi setiap hujan. Jadi kalau perencanaan, kami di awal memang tidak bisa merencanakan sesuatu yang intensitasnya tidak banyak. Termasuk terhadap angin dari samping dan kekuatan hujan seperti ini,” kata Desy.

Kendati demikian, PUPR tidak menutup mata. Ia menyebut persoalan ini menjadi catatan evaluasi bersama tim teknis internal. Namun, ia mengakui bahwa opsi yang paling memungkinkan secara fungsi adalah pemasangan kanopi tambahan meski dari sisi tampilan masih menyisakan perdebatan. 

“Solusinya memang kanopi, tapi kalau sebelah kiri dipasang, pasti pemilik bangunan protes karena aliran airnya akan turun ke mereka. Jadi yang dipasang pasti sebelah kanan saja,” ungkapnya.

Selain kanopi, Desy menyebut masih ada sejumlah alternatif lain yang tengah dikaji, termasuk opsi penutupan sisi terbuka yang berpotensi mengurangi pencahayaan alami di dalam gedung. Ia menegaskan bahwa setiap opsi memiliki konsekuensi tersendiri, baik dari sisi kenyamanan pedagang maupun visual gedung secara keseluruhan.

Langkah berikutnya, PUPR akan merumuskan hasil evaluasi internal sebelum dibawa ke meja pembahasan yang lebih tinggi. “Opsinya nanti, apakah memilih kanopi atau menutup sisi, ada banyak opsi yang harus kami pertimbangkan. Kami akan sampaikan dulu ke tim teknis, baru kami presentasikan ke TAPD dan Wali Kota,” pungkas Desy.

Desy juga memberi sinyal bahwa jika nantinya solusi tersebut dianggap layak secara estetika oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Wali Kota Samarinda, maka usulan penambahan kanopi bisa saja masuk ke perencanaan resmi. 

[RWT]



Berita Lainnya