Internasional

Timeline Lengkap Operasi Militer AS di Dekat Venezuela dan Serangan ke Kapal Diduga Penyelundup Narkoba

Kaltim Today
01 Januari 2026 11:03
Timeline Lengkap Operasi Militer AS di Dekat Venezuela dan Serangan ke Kapal Diduga Penyelundup Narkoba
Kapal tanker minyak Evana bersandar di Pelabuhan El Palito, Puerto Cabello, Venezuela, Minggu, 21 Desember 2025. (Foto: AP/Matias Delacroix)

Kaltimtoday.co - Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dengan melancarkan serangkaian operasi militer dan intelijen di sekitar Venezuela serta di perairan Amerika Selatan. Pemerintah AS mengklaim operasi ini menyasar kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkotika, sementara kritikus menudingnya sebagai perluasan kekuasaan perang eksekutif tanpa mandat kongres.

Gedung Putih menyatakan AS berada dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba untuk menghentikan aliran obat terlarang ke Amerika Serikat. Pejabat AS menuduh Maduro mendukung perdagangan narkotika internasional dan menyebutnya menghadapi dakwaan terorisme narkotika di AS. Maduro justru menegaskan operasi militer AS bertujuan menggulingkan dirinya dari kekuasaan.

Berikut garis waktu aksi militer AS, kekhawatiran sejumlah anggota parlemen, dan respons Venezuela:

Januari–Agustus: Landasan Hukum dan Pengerahan Armada

20 Januari

Trump meneken perintah eksekutif yang membuka jalan bagi organisasi kriminal dan kartel narkoba untuk ditetapkan sebagai “organisasi teroris asing”, termasuk geng jalanan asal Venezuela, Tren de Aragua. Komunitas intelijen AS kemudian membantah klaim utama Trump bahwa pemerintahan Maduro bekerja sama dengan Tren de Aragua dan mengorkestrasi penyelundupan narkoba serta imigrasi ilegal ke AS.

20 Februari

Pemerintahan Trump secara resmi menetapkan delapan organisasi kriminal Amerika Latin sebagai organisasi teroris asing, sebuah label yang biasanya digunakan untuk kelompok seperti Al-Qaeda atau ISIS, bukan untuk sindikat kriminal yang berorientasi keuntungan.

19 Agustus

Militer AS mengerahkan tiga kapal perusak rudal terpandu ke perairan lepas Venezuela. Dalam beberapa pekan, kekuatan laut itu membengkak menjadi tiga kapal serbu amfibi dan berbagai kapal lain dengan sekitar 6.000 pelaut dan Marinir, lengkap dengan beragam pesawat tempur.

Pada September, AS menempatkan jet tempur F-35 di Puerto Riko, sementara sebuah kapal selam Angkatan Laut yang membawa rudal jelajah beroperasi di lepas pantai Amerika Selatan.

September: Serangan Pertama dan Sorotan Kongres

2 September

AS melancarkan serangan pertama terhadap kapal yang disebut Trump sebagai pembawa narkoba yang berangkat dari Venezuela dan dioperasikan Tren de Aragua. Trump mengatakan 11 orang di kapal itu tewas dan membagikan potongan video yang memperlihatkan kapal kecil meledak dan terbakar.

10 September

Dalam surat ke Gedung Putih, senator Demokrat menyatakan pemerintahan Trump belum memberikan dasar hukum yang sah untuk serangan tersebut. Senator Jack Reed, Demokrat senior di Komite Angkatan Bersenjata Senat, menegaskan militer AS tidak diberi kewenangan “memburu tersangka kriminal dan membunuh mereka tanpa pengadilan”.

15 September

Militer AS melakukan serangan kedua terhadap kapal yang diduga membawa narkoba dan menewaskan tiga orang. Ditanya bukti apa yang dimiliki AS, Trump mengklaim karung-karung kokain dan fentanil “berserakan di laut”, tetapi militer maupun Gedung Putih tidak merilis gambar pendukung.

19 September

Trump mengumumkan serangan ketiga terhadap kapal yang dituduh menyelundupkan narkoba. Sejumlah senator dan kelompok HAM terus mempertanyakan legalitas serangan, menyebutnya sebagai potensi penyalahgunaan kewenangan eksekutif.

Oktober: “Konflik Bersenjata” dan Eskalasi

2 Oktober

Trump menyatakan kartel narkoba sebagai kombatan tidak sah dan menyebut AS kini berada dalam “konflik bersenjata” dengan mereka, menurut memo internal yang diperoleh Associated Press. Dokumen itu dipandang sebagai klaim luar biasa atas kewenangan perang presiden dan memicu kritik, termasuk dari Senator Republik Rand Paul.

3 Oktober

Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan ia memerintahkan serangan keempat terhadap kapal kecil yang dituduh membawa narkoba.

8 Oktober

Senator Partai Republik menggagalkan rancangan undang-undang yang akan mewajibkan presiden meminta persetujuan Kongres sebelum melancarkan serangan militer lebih lanjut.

14–17 Oktober

Trump mengumumkan serangan kelima pada 14 Oktober yang menewaskan enam orang di kapal kecil. Sehari kemudian, ia mengakui telah memberi wewenang kepada CIA untuk melancarkan operasi rahasia di dalam wilayah Venezuela dan menyatakan tengah mempertimbangkan operasi darat, tetapi menolak menjawab apakah CIA juga diberi mandat untuk menyasar Maduro.

Presiden Nicolas Maduro menghadiri rapat umum peringatan Pertempuran Santa Ines, yang terjadi selama Perang Federal Venezuela abad ke-19, di Caracas, Venezuela, Rabu, 10 Desember 2025. (Foto: AP/Cristian Hernandez)
Presiden Nicolas Maduro menghadiri rapat umum peringatan Pertempuran Santa Ines, yang terjadi selama Perang Federal Venezuela abad ke-19, di Caracas, Venezuela, Rabu, 10 Desember 2025. (Foto: AP/Cristian Hernandez)

Pada 16 Oktober, komandan Komando Selatan AS, Laksamana Alvin Holsey, mengumumkan akan pensiun pada Desember, hanya setahun setelah menjabat. Penarikan dini ini memicu tanya karena biasanya posisi itu berlangsung 3–4 tahun. Di hari yang sama, Trump menyebut militer AS telah menyerang kapal keenam yang diduga membawa narkoba, menewaskan dua orang dan menyisakan dua penyintas di kapal semi-selam. Trump kemudian mengatakan kedua penyintas akan dipulangkan ke Ekuador dan Kolombia untuk ditahan dan diadili di negara masing-masing, langkah yang menghindari perdebatan soal status hukum mereka bila dibawa ke AS.

Pada 17 Oktober, militer AS menyerang kapal ketujuh yang menurut Hegseth membawa “sejumlah besar narkotika” dan terkait dengan kelompok pemberontak Kolombia ELN, menewaskan tiga orang.

20–24 Oktober

Pada 20 Oktober, Ketua Fraksi Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata DPR, Adam Smith, menyerukan diadakannya dengar pendapat soal serangan kapal. Ia menyoroti pengunduran diri Holsey yang dianggap terlalu dini dan “minimnya transparansi” pemerintah terkait penggunaan kekuatan mematikan.

Hegseth kemudian mengumumkan serangan kedelapan pada 21 Oktober di Pasifik timur yang menewaskan dua orang, disusul serangan kesembilan pada 22 Oktober yang menewaskan tiga orang. Pada 24 Oktober, ia memerintahkan kapal induk tercanggih AS, USS Gerald R. Ford, menuju kawasan tersebut dan di hari yang sama menyebut militer melakukan serangan ke-10 yang menewaskan enam orang.

27–31 Oktober

Pada 27 Oktober, Hegseth melaporkan tiga serangan tambahan di Pasifik timur yang menewaskan 14 orang dan menyisakan satu penyintas. Otoritas Meksiko kemudian memimpin upaya penyelamatan, tetapi penyintas itu diduga tewas setelah pencarian dihentikan.

Pada 29 Oktober, militer AS melancarkan serangan ke-14 yang menewaskan empat orang di kapal lain. Di hari yang sama, Senator Mark Warner, Demokrat teratas di Komite Intelijen Senat, mengatakan pemerintahan Trump hanya memberi pengarahan kepada anggota Partai Republik, bukan Demokrat, terkait operasi tersebut, saat Senat tengah mempertimbangkan resolusi kewenangan perang soal serangan di atau dekat Venezuela.

Pada 31 Oktober, Komisaris HAM PBB Volker Türk menyerukan penyelidikan atas serangan-serangan itu. Jubirnya, Ravina Shamdasani, menyampaikan pesan bahwa AS harus menghentikan serangan semacam itu dan mencegah pembunuhan di luar proses hukum terhadap orang-orang di atas kapal.

November: Operasi “Southern Spear” dan Penolakan Pembatasan Wewenang

Sepanjang November, Hegseth dan Komando Selatan mengumumkan serangkaian serangan tambahan:

1 November: Serangan ke-15, tiga orang tewas.

4 November: Serangan ke-16, dua orang tewas.

6 November: Serangan ke-17, tiga orang tewas, di tengah kegagalan Senat meloloskan aturan yang membatasi kemampuan Trump memerintahkan serangan di wilayah Venezuela tanpa persetujuan Kongres.

9–11 November

Pada 9 November, militer menyerang dua kapal di Pasifik timur dan menewaskan enam orang. Esoknya, serangan ke-20 di Karibia menewaskan empat orang.

Pada 11 November, pemerintah Venezuela mengumumkan mobilisasi “besar-besaran” pasukan dan relawan untuk latihan dua hari sebagai respons atas pembangunan kekuatan militer AS. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López menyatakan militer Venezuela “lebih kuat dari sebelumnya dalam persatuan, moral, dan perlengkapan”.

15–16 November

Serangan ke-21 pada 15 November menewaskan tiga orang di Pasifik timur. Pada 16 November, USS Gerald R. Ford tiba di Karibia, menaikkan total personel AS di kawasan itu menjadi sekitar 12.000 orang di hampir selusin kapal Angkatan Laut dalam operasi yang dijuluki Hegseth sebagai “Operation Southern Spear”.

Di hari yang sama, Trump mengatakan AS “mungkin tengah mengadakan pembicaraan” dengan Maduro dan bahwa “Venezuela ingin berbicara”, sembari menambahkan bahwa ia bersedia berbicara dengan siapa saja dan menunggu perkembangan.

Desember: Investigasi, Drone CIA, dan Sanksi

4 Desember

Laksamana Frank “Mitch” Bradley hadir dalam rapat tertutup di Capitol ketika anggota parlemen mulai menyelidiki serangan-serangan itu, menyusul laporan bahwa ia memerintahkan serangan lanjutan yang menewaskan para penyintas dari serangan 2 September. Senator Republik Tom Cotton kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa Bradley dengan tegas membantah menerima perintah untuk “tidak memberi ampun” atau “membunuh mereka semua”.

Anggota Demokrat menyebut rekaman lengkap serangan itu mengganggu. Adam Smith menggambarkan para penyintas sebagai “dua orang tanpa baju yang berpegangan pada haluan perahu terbalik yang tak dapat bergerak, mengapung di air — hingga rudal datang dan membunuh mereka”. Di hari yang sama, Komando Selatan melaporkan serangan ke-22 di Pasifik timur yang menewaskan empat orang.

10–16 Desember

Pada 10 Desember, AS menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela yang membawa sekitar 2 juta barel minyak berat. Jaksa Agung Pam Bondi mengatakan kapal itu bagian dari jaringan pengiriman minyak ilegal yang mendukung organisasi teroris asing, sementara pemerintah Venezuela menyebut penyitaan itu sebagai “tindakan perampokan terang-terangan dan pembajakan internasional”.

Pada 15 Desember, Komando Selatan mengumumkan tiga serangan tambahan di Pasifik timur yang menewaskan delapan orang. Sehari kemudian, Hegseth menyatakan Pentagon tidak akan merilis video utuh serangan 2 September, kendati tekanan dari Kongres meningkat.

Di hari yang sama, Trump mengatakan ia memerintahkan blokade terhadap seluruh “tanker minyak yang dikenai sanksi” yang keluar-masuk Venezuela, dengan alasan minyak negara itu digunakan untuk membiayai perdagangan narkoba, terorisme, dan kejahatan lain. Ia berjanji akan terus memperkuat kehadiran militer hingga “Venezuela mengembalikan minyak, tanah, dan aset” ke AS, meski tidak menjelaskan dasar klaim tersebut.

17–22 Desember

Pada 17 Desember, militer AS melaporkan serangan lain di Pasifik timur yang menewaskan empat orang. Di Capitol, mayoritas Partai Republik di DPR menolak dua resolusi yang didukung Demokrat untuk membatasi kewenangan Trump menggunakan kekuatan militer terhadap kartel narkoba dan Venezuela, menyusul kegagalan serupa di Senat.

Pada 18 Desember, militer menyatakan telah melakukan dua serangan tambahan di Pasifik timur yang menewaskan lima orang. Pada 20 Desember, Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem mengatakan Penjaga Pantai AS dengan bantuan Pentagon menghentikan kapal tanker minyak kedua di lepas pantai Venezuela.

Pada 22 Desember, Trump mengonfirmasi bahwa Penjaga Pantai tengah mengejar tanker minyak lain yang disebut administrasinya sebagai bagian dari “armada gelap”. Di hari yang sama, militer menyatakan telah menyerang kapal lain yang dituduh menyelundupkan narkoba di Pasifik timur, menewaskan empat orang.

29–31 Desember

Pada 29 Desember, Trump mengatakan AS menyerang sebuah fasilitas tempat kapal-kapal penyelundup narkoba “mengisi muatan”, tanpa menjelaskan apakah militer atau CIA yang melakukan serangan itu, maupun di mana lokasinya. Militer juga melaporkan serangan lain di Pasifik timur yang menewaskan dua orang di kapal yang dituduh menyelundupkan narkoba.

Sehari kemudian, dua narasumber yang mengetahui operasi rahasia itu mengungkapkan bahwa CIA berada di balik serangan drone pada area dermaga yang diyakini digunakan kartel narkoba Venezuela. Serangan tersebut menjadi operasi pertama yang diketahui langsung menghantam wilayah Venezuela sejak kampanye serangan dimulai pada September, meski otoritas Venezuela belum mengakui kejadian itu. Di hari yang sama, militer melaporkan tiga serangan tambahan: tiga orang tewas di kapal pertama, sementara orang-orang di dua kapal lain melompat ke laut dan kemungkinan selamat.

Pada 31 Desember, AS menjatuhkan sanksi pada empat perusahaan yang beroperasi di sektor minyak Venezuela dan menetapkan empat kapal tanker tambahan sebagai properti yang diblokir dan bagian dari “shadow fleet” yang diduga membantu menghindari sanksi. Militer AS juga mengumumkan dua serangan lagi terhadap kapal-kapal yang dituduh menyelundupkan narkoba di jalur peredaran yang sudah dikenal, menewaskan lima orang.

[TOS | AP]



Berita Lainnya