Ekonomi dan Bisnis
Wall Street Tutup 2025 di Zona Merah, S&P 500 Naik 16,4% dalam Setahun
Kaltimtoday.co - Wall Street menutup tahun gemilang 2025 dengan koreksi pada perdagangan tipis di sesi terakhir tahun ini. Indeks S&P 500 melemah 0,7%, Dow Jones Industrial Average turun 0,6%, dan Nasdaq komposit tergelincir 0,8% pada Rabu, memperpanjang tren penurunan menjadi empat hari beruntun menjelang libur Tahun Baru.
Volume transaksi terpantau tipis karena banyak manajer investasi besar telah menutup posisi mereka untuk pembukuan akhir tahun. Meski demikian, ketiga indeks utama AS tetap mencatat kenaikan tahunan yang kuat.
Sepanjang 2025, S&P 500 membukukan kenaikan 16,4% dan mencetak 39 rekor tertinggi baru, sekaligus menorehkan tiga tahun beruntun pertumbuhan dua digit. Nasdaq menguat 20,4%, sementara Dow Jones naik 13% dalam setahun.
Reli Wall Street tahun ini ditopang euforia investor terhadap prospek kecerdasan buatan (AI) yang dinilai mampu mengerek profit lintas sektor, di tengah gejolak pasar akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang berubah-ubah dan ketidakpastian arah suku bunga.
S&P 500 sempat anjlok hampir 5% pada 3 April, menjadi hari terburuk sejak crash COVID 2020. Indeks itu kembali jatuh 6% sehari kemudian setelah respons China memicu kekhawatiran perang dagang yang kian memanas dan mengguncang pasar surat utang AS.
Trump pada akhirnya menangguhkan sebagian besar tarif dan menegosiasikan kesepakatan dengan sejumlah negara untuk menurunkan tarif yang diusulkannya, sehingga meredakan kecemasan pelaku pasar. Menurut Sam Stovall, Chief Investment Strategist di CFRA, pasar mulai tenang setelah menilai dinamika tarif tidak serta-merta berujung resesi.
Di sisi fundamental, laporan laba emiten yang kuat dan tiga kali pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve ikut mendorong Wall Street ke level lebih tinggi. Kombinasi optimisme jangka panjang terhadap AI, prospek pertumbuhan laba yang membaik, dan kebijakan pelonggaran suku bunga dinilai menjaga sentimen positif investor.
Namun, demam AI yang mengangkat pasar sepanjang 2025 juga memunculkan kekhawatiran. Analis menilai belum ada kepastian bahwa teknologi tersebut benar-benar akan menghasilkan lonjakan laba dan produktivitas yang sepadan dengan besarnya investasi, sehingga menambah tekanan valuasi pada saham-saham seperti Nvidia dan Broadcom yang menjadi motor penguatan indeks.
Bukan hanya saham AI, valuasi pasar saham AS secara keseluruhan dinilai sudah mahal lantaran harga naik lebih cepat daripada pertumbuhan laba. Di saat yang sama, dampak berkepanjangan perang dagang yang dipimpin AS berisiko menambah tekanan inflasi domestik.
Meski The Fed telah memangkas suku bunga karena kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja, inflasi masih berada jauh di atas target 2%. Saat ini pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari mendatang.
Dari data makro, laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan klaim tunjangan pengangguran mingguan kembali turun, menandakan PHK tetap rendah meski pasar kerja mulai menunjukkan tanda pelemahan.
Seluruh sektor dalam S&P 500 berakhir di zona merah pada sesi perdagangan Rabu, dengan saham teknologi menjadi penekan terbesar. Western Digital turun 2,2% dan Micron Technology melemah 2,5%, meski keduanya termasuk di antara top gainer S&P 500 sepanjang tahun.
Secara keseluruhan, S&P 500 ditutup turun 50,74 poin ke level 6.845,50. Dow Jones merosot 303,77 poin ke 48.063,29, sementara Nasdaq kehilangan 177,09 poin dan berakhir di 23.241,99.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Treasury cenderung naik. Yield surat utang 10 tahun naik menjadi 4,17% dari 4,13% sehari sebelumnya, sementara yield tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan Fed, naik ke 3,48% dari 3,45%.
Perdagangan logam mulia tetap bergejolak di penghujung tahun. Harga perak kembali berbalik turun tajam 9,4% setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 10%; menyusul lompatan 7,7% pada Jumat dan koreksi nyaris 9% pada Senin, perak tetap membukukan kenaikan lebih dari 140% sepanjang tahun.
Emas melemah 1% pada sesi terakhir, tetapi menutup 2025 dengan kenaikan tahunan 63,7%. Di pasar energi, minyak mentah acuan AS (WTI) turun 0,9% menjadi 57,42 dolar AS per barel, sementara Brent sebagai acuan internasional melemah 0,8% ke 60,85 dolar AS per barel.
Sejumlah bursa saham global, termasuk di Jerman, Jepang, dan Korea Selatan, libur pada Rabu untuk perayaan Tahun Baru. Di pasar yang masih buka, pergerakan indeks tercatat variatif.
[TOS | AP]
Related Posts
- Harga BBM Pertamina Turun 1 Januari 2026, Ini Daftar Lengkapnya
- Waduh, Kenaikan Gaji ASN 2026 Masih Tertunda, Ini Penjelasan Purbaya
- Akhir Tahun = Kebut-kebutan Penyerapan Dana APBN: Dari Sudut Pandang Penjaga Gawang Perbendaharaan
- Gerindra Dukung Pilkada Lewat DPRD: Biaya Rp 37 Triliun Bisa Buat Kesejahteraan Rakyat
- Ombudsman Kaltim Bidik Perizinan Tambang Silika, Gandeng Akademisi Awasi Maladministrasi









