Daerah

Titik Api di Kukar Turun Signifikan Jadi 11 Titik, Pemkab Usulkan Water Bombing di Muara Muntai

Supri Yadha — Kaltim Today 01 September 2026 16:36
Titik Api di Kukar Turun Signifikan Jadi 11 Titik, Pemkab Usulkan Water Bombing di Muara Muntai
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri.

Kaltimtoday.co, Tenggarong - Jumlah titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengalami penurunan signifikan. Sempat menyentuh angka 50 titik, jumlah titik api riil di lapangan kini berhasil ditekan hingga tersisa 11 titik.

Kendati demikian, data satelit pada Sistem Informasi Peringatan Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) mencatat kenaikan jumlah titik panas (hotspot) dari 140 menjadi 146 titik. 

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menjelaskan bahwa tidak semua anomali suhu yang terdeteksi sebagai titik panas merupakan kobaran api aktif di lapangan.

“Pembaruan data terkait titik api berkurang sangat signifikan. Di SiPongi memang masih terdeteksi 146 titik panas, tetapi secara riil di lapangan di Kukar saat ini hanya ada 11 titik api dan seluruhnya sudah kami tangani dengan baik,” ungkap Aulia, Selasa (1/9/2026).

Hanya saja, sambung Aulia, ada beberapa titik api yang sulit dijangkau lewat darat, salah satunya di Muara Leka Kecamatan Muara Muntai. Karena penanganannya lewat udara, maka Pemkab Kukar berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kaltim.

“Ini sudah kami koordinasikan dengan BPBD Provinsi, mungkin penanganannya harus dengan menggunakan water bombing, sehingga penanganannya harus lewat atas,” tambahnya.

Di sisi lain, Pemkab Kukar juga membangun koneksi dengan badan usaha yang memiliki sumber daya untuk membantu penanganan karhutla melalui pos terpadu di tingkat kecamatan.

Menurut Aulia, banyak badan usaha yang aktif dan punya resource namun belum terkoneksi dengan jejaring yang telah dibentuk pemerintah. Diharapkan ke depan, penanganan kebakaran hutan dan lahan bisa segera teratasi.

“Kalau sekarang ini kita berharap mereka sudah bisa tune in dengan pos terpadu yang ada di tingkat kecamatan. Misalnya ketika terjadi titik api, semua resource bisa kita arahkan untuk penanganan lebih cepat,” pungkasnya.

[RWT] 



Berita Lainnya