Internasional
AS Peringatkan Iran 'Semua Opsi Tersedia' dalam Pertemuan Darurat PBB
NEW YORK, Kaltimtoday.co - Setelah berminggu-minggu ketegangan yang terus memuncak, pejabat Amerika Serikat dan Iran akhirnya berhadapan pada Kamis (15/1/2026) di Dewan Keamanan PBB. Dalam pertemuan tersebut, utusan AS memperbarui ancaman terhadap Republik Islam Iran, meskipun Presiden Donald Trump berupaya meredakan tensi antara kedua negara yang berseteru tersebut.
AS bersama para aktivis oposisi Iran mengecam tindakan keras dan berdarah pemerintah Teheran terhadap aksi protes nasional, yang menurut para aktivis telah menewaskan sedikitnya 2.677 orang.
"Rekan-rekan, izinkan saya mempertegas: Presiden Trump adalah orang yang bertindak, bukan sekadar bicara tanpa henti seperti yang kita lihat di PBB," ujar Mike Waltz, Duta Besar AS untuk PBB, kepada dewan tersebut. "Beliau telah menegaskan bahwa semua opsi tersedia (all options are on the table) untuk menghentikan pembantaian ini. Tidak ada yang seharusnya lebih memahami hal ini selain kepemimpinan rezim Iran."
Pernyataan Waltz muncul saat bayang-bayang balasan militer AS atas kematian para demonstran masih menyelimuti kawasan tersebut, meski Trump sempat memberi sinyal deeskalasi dengan mengatakan bahwa pembunuhan tersebut tampak mulai mereda. Hingga Kamis, aksi protes yang menantang teokrasi Iran tampak semakin tertekan, namun pemutusan jaringan internet dan komunikasi yang diperintahkan negara masih berlangsung.
Seorang diplomat mengatakan kepada The Associated Press bahwa pejabat tinggi dari Mesir, Oman, Arab Saudi, dan Qatar menghabiskan waktu 48 jam terakhir untuk menyampaikan kekhawatiran kepada Trump. Mereka memperingatkan bahwa intervensi militer AS dapat mengguncang ekonomi global dan mengganggu stabilitas kawasan yang sudah bergejolak.
Dalam pertemuan tersebut, Hossein Darzi, Wakil Duta Besar Iran untuk PBB, mengecam AS atas apa yang ia klaim sebagai "keterlibatan langsung Amerika dalam mengarahkan kerusuhan di Iran menuju kekerasan."
"Di bawah dalih kosong berupa kepedulian terhadap rakyat Iran dan klaim dukungan hak asasi manusia, Amerika Serikat mencoba mencitrakan diri sebagai teman rakyat Iran, sembari secara bersamaan meletakkan dasar bagi destabilisasi politik dan intervensi militer dengan narasi 'kemanusiaan'," kata Darzi.
AS meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan ini dan mengundang dua aktivis oposisi Iran, Masih Alinejad dan Ahmad Batebi, untuk memaparkan pengalaman mereka sebagai target rezim Republik Islam.
Dalam momen yang mengejutkan, Alinejad menyapa perwakilan Iran secara langsung.
"Anda telah mencoba membunuh saya tiga kali. Saya telah melihat sendiri calon pembunuh saya di depan taman saya, di rumah saya di Brooklyn," katanya, sementara pejabat Iran tersebut terus menatap lurus ke depan tanpa mengakuinya.
Pada Oktober lalu, dua orang yang diduga anggota sindikat kriminal Rusia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara karena menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Alinejad di rumahnya di New York tiga tahun lalu atas nama pemerintah Iran.
Sementara itu, Batebi menceritakan luka sayatan dalam yang diberikan penjaga penjara di Iran kepadanya sebelum menaburkan garam di atas luka tersebut. "Jika Anda tidak percaya, saya bisa menunjukkan tubuh saya sekarang juga," katanya kepada dewan.
Kedua aktivis tersebut mendesak badan dunia dan dewan keamanan untuk berbuat lebih banyak guna menuntut pertanggungjawaban Iran atas pelanggaran HAM. Batebi memohon kepada Trump agar tidak membiarkan rakyat Iran berjuang sendirian.
"Anda mendorong orang-orang untuk turun ke jalan. Itu hal yang baik. Tapi jangan tinggalkan mereka sendirian," ucapnya.
Rusia menjadi satu-satunya anggota dewan yang membela tindakan Iran sembari mendesak AS untuk menghentikan intervensi.
Protes Meredup, Korban Jiwa Terus Bertambah
Video demonstrasi mulai berhenti mengalir keluar dari Iran, menandakan melambatnya laju protes di bawah penjagaan ketat aparat keamanan di kota-kota besar.
Di ibu kota Iran, Teheran, sejumlah saksi mata mengatakan bahwa dalam beberapa pagi terakhir tidak terlihat lagi bekas api unggun yang menyala di malam hari atau puing-puing di jalanan. Suara tembakan yang sempat terdengar intens selama beberapa malam juga mulai memudar.
Tindakan keras terhadap demonstrasi tersebut telah menewaskan sedikitnya 2.677 orang, menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS. Angka yang dilaporkan pada hari Kamis ini menunjukkan peningkatan 106 jiwa dari hari sebelumnya, dan organisasi tersebut memperkirakan jumlah korban akan terus merangkak naik. Jumlah kematian ini melampaui gelombang protes atau kerusuhan mana pun di Iran dalam beberapa dekade terakhir, mengingatkan pada kekacauan seputar Revolusi Islam 1979.
Lembaga tersebut, yang didirikan 20 tahun lalu, dinilai akurat selama bertahun-tahun masa demonstrasi dengan mengandalkan jaringan aktivis di dalam Iran yang mengonfirmasi setiap kematian yang dilaporkan.
Mengingat komunikasi yang sangat terbatas di Iran, AP belum dapat mengonfirmasi jumlah korban secara independen. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan angka resmi jumlah korban jiwa.
Sanksi Baru bagi Pejabat Senior Iran
Dalam perkembangan lainnya pada hari Kamis, AS mengumumkan sanksi baru terhadap pejabat Iran yang dituduh menekan aksi protes. Demonstrasi ini dimulai akhir bulan lalu dipicu oleh kondisi ekonomi negara yang lesu dan anjloknya nilai tukar mata uang. Negara-negara maju anggota G7 dan Uni Eropa juga menyatakan tengah mempertimbangkan sanksi baru untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah teokrasi Iran.
Di antara mereka yang terkena sanksi AS adalah sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang dituduh oleh Departemen Keuangan sebagai salah satu pejabat pertama yang menyerukan kekerasan terhadap demonstran. G7 juga memperingatkan bahwa mereka bisa menjatuhkan lebih banyak sanksi jika tindakan keras Iran terus berlanjut.
Kepala Uni Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan blok 27 negara tersebut sedang menjajaki penguatan sanksi "untuk mendorong agar rezim ini berakhir dan agar terjadi perubahan."
[TOS | AP]
Related Posts
- Zohran Mamdani Resmi Dilantik, Jadi Wali Kota New York Pertama yang Disumpah di Atas Al-Qur’an
- Refleksi Thanksgiving di Juneau, Alaska: Kehangatan di Tengah Suhu Minus
- Tarif Turun, Indonesia Harus Beli Produk AS Senilai Rp 369 Triliun
- Timur Tengah Memanas, Iran Serang Pangkalan Militer AS di Qatar, Tak Ada Korban Jiwa
- Indonesia Mulai Evakuasi WNI dari Iran di Tengah Gencatan Senjata Iran-Israel









