Internasional
Jenazah 32 Perwira Kuba yang Tewas dalam Serangan AS di Venezuela Dipulangkan
HAVANA, Kaltimtoday.co - Suara terompet dan genderang terdengar khidmat di Bandara Havana, Kamis (15/1/2026), ketika prajurit Kuba dengan sarung tangan putih menurunkan peti berisi abu jenazah 32 perwira militer yang tewas dalam serangan mendadak Amerika Serikat di Venezuela.
Tidak jauh dari lokasi itu, ribuan warga Kuba memadati salah satu jalan paling ikonik di Havana untuk menyambut kedatangan jenazah, di tengah meningkatnya ancaman dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Derap sepatu para prajurit terdengar serempak saat mereka melangkah kaku memasuki markas Kementerian Angkatan Bersenjata dan meletakkan guci berisi abu di atas meja panjang di samping foto para korban. Puluhan ribu orang memberi penghormatan dengan hormat militer atau menaruh tangan di dada, banyak di antaranya basah kuyup di bawah hujan deras.
Pemakaman massal pada Kamis itu merupakan salah satu dari sedikit upacara semacam itu yang pernah diselenggarakan pemerintah Kuba dalam setengah abad terakhir.
Para perwira tersebut merupakan bagian dari pasukan pengamanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat kediamannya digerebek pada 3 Januari dalam operasi militer AS untuk menangkap sang mantan presiden dan membawanya ke Amerika Serikat guna menghadapi dakwaan perdagangan narkoba.
Televisi nasional menayangkan gambar para prajurit yang terluka dalam serangan itu, didampingi Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez, setelah tiba Rabu malam dari Venezuela. Seorang pria yang diidentifikasi media pemerintah sebagai Kolonel Pedro Yadín Domínguez menghadiri upacara dalam kursi roda.
Ia menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan yang tidak seimbang” yang menewaskan 11 rekannya saat tidur. “Saya berkomitmen untuk melakukan apa pun yang perlu dilakukan demi membela rakyat ini dan tetap bersatu menghadapi ancaman Amerika Serikat,” ujarnya.
Ketegangan antara Kuba dan AS meningkat tajam sejak Trump menuntut agar negara Karibia itu “mencapai kesepakatan dengannya sebelum terlambat,” tanpa menjelaskan bentuk kesepakatan yang dimaksud.
Trump juga menyatakan Kuba tidak lagi bisa “hidup dari uang dan minyak Venezuela.” Para analis memperingatkan bahwa penghentian mendadak pengiriman minyak dapat menjadi bencana bagi Kuba, yang kini tengah menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan dan jaringan energi yang rapuh.
“Itu yang selalu menyatukan kami”
Di bandara, pejabat Kuba mengibarkan bendera raksasa ketika Presiden Miguel Díaz-Canel, mengenakan seragam militer, berdiri diam di samping mantan Presiden Raúl Castro, disertai keluarga korban.
Menteri Dalam Negeri Lázaro Alberto Álvarez Casas menyebut para prajurit yang gugur sebagai “pahlawan perjuangan anti-imperialis” yang menghubungkan Kuba dan Venezuela. Menyinggung Amerika Serikat, ia berkata bahwa “musuh berbicara tentang operasi presisi tinggi, pasukan elit, dan supremasi. Sementara kami berbicara tentang wajah-wajah, tentang keluarga yang kehilangan ayah, anak, suami, atau saudara.”
“Imperialisme mungkin memiliki senjata yang lebih canggih, kekayaan materi yang besar, dan bisa membeli pikiran orang yang mudah goyah,” lanjutnya, “tetapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa mereka beli: martabat rakyat Kuba.”
Carmen Gómez, desainer industri berusia 58 tahun, termasuk di antara ribuan warga yang berdiri di tepi jalan ketika iring-iringan sepeda motor dan kendaraan militer membawa jenazah para korban melintas.
“Ini adalah orang-orang yang siap membela prinsip dan nilai mereka, dan kita harus memberi penghormatan kepada mereka,” katanya. “Patriotisme itu yang selalu menyatukan kami.”
Ke-32 anggota militer yang berusia antara 26 hingga 60 tahun itu merupakan bagian dari perjanjian kerja sama pertahanan antara Kuba dan Venezuela. Pejabat Kuba mengatakan mereka berencana menggelar aksi besar di depan Kedutaan Besar AS pada Jumat untuk memprotes kematian para prajurit tersebut.
“Rakyat benar-benar marah dan berduka... banyak yang menganggap para korban sebagai martir dalam perjuangan bersejarah melawan Amerika Serikat,” kata analis dan mantan diplomat Carlos Alzugaray kepada Associated Press.
Pemakaman massal pertama dalam beberapa dekade
Pemakaman besar terakhir di Kuba terjadi pada Oktober 1976, ketika Presiden Fidel Castro memimpin upacara penghormatan bagi 73 korban tewas dalam pemboman pesawat sipil yang didanai kelompok anti-revolusioner di AS. Sebagian besar korban adalah atlet Kuba.
Pada Desember 1989, pemerintah menggelar seremoni untuk mengenang lebih dari 2.000 prajurit Kuba yang gugur di Angola saat membantu mengalahkan tentara Afrika Selatan. Lalu pada Oktober 1997, upacara penghormatan digelar saat jenazah komandan gerilya Ernesto “Che” Guevara dan enam rekannya tiba di Kuba setelah 30 tahun.
Pemakaman besar yang digelar kali ini dinilai sangat penting untuk menghormati para prajurit yang gugur. “Saya tidak berpikir Trump cukup gila untuk datang dan menyerang negara ini, tapi kalau dia melakukannya, dia harus menyiapkan obat pereda sakit kepala untuk menghadapi balasannya,” ujar José Luis Piñeiro, dokter berusia 60 tahun yang pernah tinggal di Venezuela selama empat tahun. “Ini 32 pahlawan yang melawan dia. Bayangkan jika seluruh bangsa ikut berjuang — dia akan kalah.”
Bantuan AS picu reaksi Kuba
Pemulangan jenazah terjadi sehari setelah AS mengumumkan bantuan tambahan senilai 3 juta dolar AS untuk membantu Kuba pulih dari kehancuran akibat Badai Melissa. Penerbangan pertama telah dilakukan Rabu, dan penerbangan kedua dijadwalkan Jumat, sementara kapal dagang akan membawa bahan makanan dan pasokan lainnya.
Pemerintah Kuba menyatakan pada Rabu bahwa semua bantuan akan disalurkan melalui pemerintah pusat. Namun pejabat Departemen Luar Negeri AS, Jeremy Lewin, mengatakan Kamis bahwa Washington bekerja sama dengan Gereja Katolik Kuba untuk mendistribusikan bantuan, agar “bantuan langsung mencapai rakyat Kuba.”
“Tidak ada hal politis dalam kaleng tuna, nasi, kacang, atau pasta,” kata Lewin, sambil memperingatkan agar pemerintah Kuba tidak mengintervensi atau mengalihkan bantuan. “Kami akan memantau, dan kami akan meminta pertanggungjawaban mereka.”
Ia menambahkan bahwa pemerintah Kuba “memiliki pilihan: mundur atau memperbaiki kehidupan rakyatnya.” Lewin juga berkata, “Jika rezim itu tidak ada, Amerika Serikat akan memberi miliaran dolar bantuan, investasi, dan pembangunan. Itulah yang menanti rakyat Kuba di sisi lain rezim mereka.”
Menanggapi pernyataan itu, Menteri Luar Negeri Bruno Rodríguez menuduh pemerintah AS “memanfaatkan apa yang tampak sebagai tindakan kemanusiaan untuk tujuan politis dan manipulatif.”
[TOS | AP]
Related Posts
- Munculnya Delcy Rodríguez sebagai Pemimpin Interim Venezuela Pasca-Penangkapan Maduro
- Setelah Maduro, Siapa Berikutnya? Komentar Trump Picu Kecemasan Terkait Rencananya Terhadap Greenland dan Kuba
- Rencana Trump Ambil Alih dan Revitalisasi Industri Minyak Venezuela Hadapi Hambatan Besar
- Zohran Mamdani Resmi Dilantik, Jadi Wali Kota New York Pertama yang Disumpah di Atas Al-Qur’an
- Timeline Lengkap Operasi Militer AS di Dekat Venezuela dan Serangan ke Kapal Diduga Penyelundup Narkoba









