Daerah
BI Kaltim Dorong Digital Farming, Hasil Panen Padi Melonjak Jadi 6,95 Ton per Hektare
Kaltimtoday.co, Kukar - Panen Demplot Padi LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) dan Digital Farming di Gapoktan Mandiri menjadi bukti penerapan teknologi pertanian mampu meningkatkan produktivitas padi di Kalimantan Timur. Program hasil kolaborasi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, akademisi, dan kelompok tani ini diharapkan menjadi model dalam mendukung ketahanan pangan di Bumi Etam.
Melalui penerapan teknologi budidaya, mulai dari pembibitan, pemupukan, pengendalian hama, hingga penggunaan drone sprayer, hasil panen meningkat signifikan. Produktivitas yang sebelumnya mencapai 4,8 ton per hektare kini naik menjadi 6,95 ton per hektare atau meningkat sekitar 44,8 persen.
Selain meningkatkan hasil panen, teknologi tersebut juga mampu menekan biaya produksi dan membuat proses pemupukan maupun penyemprotan pestisida jauh lebih efisien.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, mengatakan keberhasilan program ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak. Menurutnya, konsep LEISA mengoptimalkan sumber daya lokal sehingga produktivitas meningkat tanpa harus bergantung pada penggunaan input eksternal yang tinggi.
“Di samping meningkatkan produksi, juga menekan biaya. Dengan penggunaan drone sprayer, pemupukan dan penyemprotan pestisida yang sebelumnya memerlukan waktu 6 sampai 8 jam per hektare kini hanya sekitar 10 menit per hektare,” ujar Jajang.
Ia menambahkan, masih terdapat tantangan berupa ketersediaan air yang perlu menjadi perhatian bersama. Meski demikian, capaian produktivitas 6,95 ton per hektare dinilai sudah menunjukkan keberhasilan program dan diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah Kalimantan Timur sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengapresiasi para petani atas capaian produksi yang meningkat usai penerapan Bioinvigorasi hingga LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) Digital Farming.
"Peningkatannya sangat luar biasa. Kita harus punya target lebih, ketika produksi sekarang minimal 4 ton per hektare, kalau bisa nanti minimal bisa 7 ton per hektare," jelasnya.
Kaltim saat ini telah memiliki 28.000 hektare sawah aktif. Per Agustus kemarin, panen sudah mencapai sekitar 200 ribu keatas ton gabah kering. Tahun depan, pemerintah provinsi berencana akan mengoptimalkan lahan sawah, dengan menambah belasan ribu hektare sawah baru. Tujuannya, agar Kaltim bisa mencapai target swasembada beras nantinya.
"Ada tambahan 12.000 hektare cetak sawah baru. Artinya, kita akan memiliki kurang lebih sekitar 40.000 hektare sawah aktif pada tahun 2027," tuturnya.
Seno Aji ingin keberhasilan demonstrasi plot LEISA dan Digital Farming tidak berhenti pada tahap uji coba semata. Menurutnya, hasil evaluasi menunjukkan metode tersebut mampu menekan biaya produksi melalui pengurangan penggunaan pupuk kimia yang digantikan pupuk organik, sekaligus mengurangi serangan hama.
“Kami ingin tidak hanya berhenti di demplot saja, melainkan ada replikasi ke wilayah-wilayah lain juga. Sehingga, ada peningkatan produktivitas lebih tinggi lagi," tutupnya.
[RWT]
Related Posts
- Kapolri Lapor ke Prabowo: 138 Tersangka dan 8 Korporasi Diproses Kasus Karhutla
- Posko Siaga Darurat BPBD Kaltim Dioptimalkan, Pantau Hotspot dan Percepat Penanganan Karhutla
- Program B50 Dinilai Jadi Peluang Strategis Hilirisasi Sawit dan Ketahanan Energi
- Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Penutupan 4 Bandara Diperpanjang hingga Sore Ini
- Otorita IKN dan BNPB Gelar Water Bombing untuk Padamkan Karhutla di Nusantara









