Nasional
BMKG Rilis 17 Provinsi Alami Kekeringan Ekstrem Panjang, Dominasi Kemarau Tembus 80,7 Persen ZOM
Kaltimtoday.co - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis hasil pemantauan dinamika iklim terkait deret Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem panjang di wilayah Indonesia per pemutakhiran data 10 September 2026. Berdasarkan monitoring tersebut, sejumlah daerah tercatat mengalami periode kering berturut-turut hingga melampaui 100 hari.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati urutan teratas dengan durasi HTH terlama mencapai 131 hari. Posisi selanjutnya diikuti erat oleh Jawa Tengah dengan 130 hari dan Jawa Timur dengan 129 hari.
Kondisi kekeringan berkepanjangan ini terjadi seiring dominasi musim kemarau di sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia. BMKG mencatat sebanyak 564 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 80,7% dari total ZOM nasional masih berada dalam periode kemarau. Sebaliknya, baru 22 ZOM atau 3,1% yang mulai memasuki musim penghujan, sementara sisanya merupakan wilayah dengan pola satu tipe musim.
Daftar Provinsi dengan HTH Terpanjang
Berikut adalah rincian provinsi yang mengalami periode hari tanpa hujan berturut-turut paling lama:
Di urutan pertama hingga sembilan, wilayah-wilayah ini masuk dalam kategori HTH Ekstrem Panjang (di atas 100 hari), yaitu:
- DI Yogyakarta (131 hari)
- Jawa Tengah (130 hari)
- Jawa Timur (129 hari)
- Nusa Tenggara Timur (118 hari)
- Nusa Tenggara Barat (115 hari)
- Bali (113 hari)
- Jawa Barat (110 hari)
- Banten (108 hari)
- Sulawesi Selatan (102 hari)
Sementara itu, wilayah-wilayah berikut masuk dalam kategori HTH Sangat Panjang (di atas 80 hari):
- Maluku (94 hari)
- Sulawesi Barat (91 hari)
- Kalimantan Selatan (89 hari)
- Kalimantan Tengah (89 hari)
- Sulawesi Tenggara (89 hari)
- Gorontalo (89 hari)
- Sulawesi Utara (88 hari)
- Maluku Utara (86 hari)
Selain wilayah dengan kategori di atas 80 hari tersebut, BMKG juga mengidentifikasi banyak kabupaten dan kota lain yang telah mengalami jeda hujan selama lebih dari satu bulan penuh. Menghadapi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak krisis air bersih, ancaman terhadap sektor pertanian,serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
[RWT]
Related Posts
- Hadapi Karhutla, Wabup Berau Dorong Kolaborasi dan Penguatan Armada
- Warga Terdampak Karhutla Dapat Bantuan Rp500 Juta, Gamalis Dorong Pemulihan Petani
- Kabut Asap Kepung Kalimantan, BMKG Perketat Pantauan Hotspot dan Suplai Data Cuaca ke Satgas Karhutla
- Intrusi Air Laut Meningkat, Lima IPA di Samarinda Kurangi Jam Operasional
- Karhutla Lalap 458 Hektare Lahan di Deliniasi IKN, Otorita Pastikan Pusat Pemerintahan Masih Aman Terkendali







