Nasional

Bukan Debu Biasa: Abu Vulkanik Picu Gangguan Paru hingga Risiko Atap Ambruk

Network — Kaltim Today 07 September 2026 09:41
Bukan Debu Biasa: Abu Vulkanik Picu Gangguan Paru hingga Risiko Atap Ambruk
Ilustrasi warga mengenakan masker untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai menyelimuti sejumlah kawasan permukiman. (Chat GPT/AI)

Kaltimtoday.co, Jakarta - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terus meluas ke berbagai daerah. Pemantauan citra satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi pergerakan partikel abu telah melingkupi wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat termasuk Bogor dan Sukabumi hingga ke Provinsi Bengkulu. 

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Masyarakat maupun wisatawan diinstruksikan untuk tidak mendekati kawah dalam radius 3 kilometer serta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan hujan abu lebat. 

Partikel abu vulkanik memiliki karakteristik yang jauh lebih berbahaya dibanding debu jalanan biasa. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung silika tajam menyerupai pecahan kaca mikro yang bersifat abrasif dan merusak organ luar maupun dalam.

"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan debu biasa karena mengandung silika yang seperti serpihan kaca tajam. Ini bisa merusak organ yang terkena, seperti mata, hidung, mulut, maupun kulit," terang Dicky, Senin (7/9/2026).

Berikut dampak risiko abu vulkanik yang perlu diwaspadai:

1. Gangguan Saluran Pernapasan

Partikel mikro abu dapat masuk ke paru-paru dan memicu batuk kering, sesak napas, hingga nyeri dada akut, terutama bagi pengidap asma.

2. Iritasi dan Radang Mata

Gesekan partikel dapat menggores kornea serta memicu konjungtivitis dengan gejala mata merah, perih, dan fotosensitivitas (sensitif cahaya).

3. Iritasi Kulit

Kontak langsung dengan partikel asam dapat memicu gatal dan ruam pada jaringan kulit yang terbuka.

4. Penurunan Jarak Pandang

Pekatnya kabut abu di udara menekan visibilitas pengendara, meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

5. Kerusakan Komponen Kendaraan

Partikel abrasif dapat menyumbat filter udara dan mengikis ruang pembakaran mesin kendaraan bermotor.

6. Risiko Struktural Bangunan

Endapan abu pekat yang menumpuk di atap rumah berpotensi menambah beban struktur hingga memicu keruntuhan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyarankan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan serta menutup rapat ventilasi hunian. Apabila harus keluar rumah, warga diimbau mengenakan masker respirator berstandar N95, kacamata pelindung, serta pakaian lengan panjang untuk meminimalkan paparan partikel silika. 

[RWT] 



Berita Lainnya