HeadlineOpini

Kesenjangan Generasi, Ancaman Baru Setelah Pandemi Covid-19

Oleh Mohammad Makmun Qomar, M.Pd (Guru SMP Negeri 12 Samarinda-Asesor Guru Penggerak) 

DALAM upaya menangani Covid-19 yang semakin meluas, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk menerapkan social distancing atau pembatasan sosial. Kebijakan ini melatarbelakangi lahirnya kebijakan sektor pendidikan tentang belajar dari rumah. Belajar dari rumah akhirnya muncul istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran daring.

Keuntungan Pembelajaran Jarak Jauh terjadinya percepatan adaptasi teknologi informasi kepada siswa. Percepatan ini berdampak pada pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh. Dapat dibayangkan kalau tidak ada adaptasi teknologi informasi kepada siswa, Pembelajaran Jarak Jauh hanya sebuah bualan cerita. Dalam adaptasi teknologi informasi ini masih banyak para guru, orang tua, siswa belum siap menerimanya. 

Baca juga:  Menjawab Tantangan Learning Loss Saat Pandemi

Learning gap dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh. Ketidakmerataan fasilitas antar sekolah, kompetensi guru, kepedulian orang tua, siswa, demografi penyumbang terbesar learning gap. Kompetensi guru ada mumpuni dalam penguasaan teknologi informasi dan banyak juga yang sebaliknya. Anak dari keluarga mampu dan tidak mampu, fasilitasnya Pembelajaran Jarak Jauhnya sangat berbeda. Kepedulian orang tua dalam pengawasan Pembelajaran Jarak Jauh di rumah. Kontur demografi yang menyebabkan jaringan internet terbatas.  

Suasana pembelajaran jarak jauh

Pembelajaran Jarak Jauh dengan pembelajaran yang waktunya hampir bersamaan di semua tingkat SD, SMP, SMA. Dalam satu keluarga terdapat  tiga anak di semua tingkatan, mereka berada dalam satu rumah yang sempit, ruangan terbatas, sirkulasi udara tidak baik, padahal mereka membutuhkan ketenangan. Suara dari gawai di semua tingkatan beradu. Suasana seperti ini pasti memancing emosi masing-masing anak. Suasana seperti ini pasti memancing pertengkaran. Apakah mereka dapat belajar dengan efektif. 

Baca juga:  Kelangkaan Oksigen, Derita dalam Musibah

Keadaan anak-anak yang berada di rumah memaksa sebagian orang tua tidak dapat bekerja di luar rumah. Hal ini karena biasanya jam kerja orang tua bersamaan anak-anak belajar. Mereka tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ketika anak-anak ada di rumah maka mereka perlu pengawasan agar tidak terjadi permasalahan di antara mereka. Sehingga permasalahan di rumah semakin menumpuk, kebutuhan makan, gawai, pulsa, listrik, air. Betapa tersayatnya hati orang tua, pendapatan menurun bahkan berada pada titik nol.

Suasana pembelajaran di rumah sangat tidak kondusif. Anak-anak tidak bisa maksimal mengeksplor dirinya. Teman yang biasanya bisa diajak diskusi, menjadi terbatas dan sulit. Buku-buku yang dapat memperkaya pengetahuan sukar diperoleh. Pengembangan kepemimpinan, komunikasi, keagamaan, keterampilan sangat terganggu.

Pengalaman hidup sosial, pendewasaan diri, pengetahuan dan keterampilan sangat jauh dari harapan. Usia sekolah yang seharusnya diasah kreativitas menjadi tumpul. Ide-ide segar out the box sangat berkembang di usia ini, tetapi saat ini terpasung karena fasilitas pendukung yang tidak memadai. Sekolah yang baik, guru yang kompeten masih menjadi tempat dan teman yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Baca juga:  Perlindungan Data Pribadi Sebagai Wujud Pemenuhan Hak Konstitusional

Kehidupan digital mempunyai ketergantungan dengan jaringan internet. Jaringan internet tidak normal membuat pembelajaran sangat terganggu. Pada saat berselancar dengan whatsapp, google meet, google classroom, zoom, atau aplikasi lainnya untuk pembelajaran, sedang jaringan lelet tentu membuat masalah.

Hal yang seharus menjadi mudah malah menjadi  runyam. Siswa kehilangan semangat untuk melanjutkan pembelajaran. Fasilitas jaringan internet yang stabil dan cepat menjadi prasyarat Pembelajaran Jarak Jauh agar mencapai tujuan.

Evaluasi efektivitas Pembelajaran Jarak Jauh sampai sekarang sulit diperoleh. Guru di setiap sekolah mempunyai kriteria masing-masing. Guru yang berada di perkotaan, jaringan internet stabil dan kuat, anak-anak fasilitasnya bagus Pembelajaran Jarak Jauh berjalan baik, walau masih jauh bila dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka.

Bagaimana dengan siswa yang berada di pelosok, jaringan internet lelet dan dukungan fasilitas dari orang tua kurang. Efektivitasnya sangat perlu dikaji.

Akibat Pandemi Berkepanjangan

Covid-19, kapan akan musnah dari negeri ini. Tidak ada seorangpun walau itu presiden mampu memberi jawaban pasti. WHO memprediksi pertengahan 2022 akan mereda dan itu tergantung vaksinasi di setiap negara. Melihat keadaan di awal Juni-Juli 2021 bagaimana India tiba-tiba porak poranda dengan serangan varian delta. Varian tersebut masuk ke Indonesia dan Indonesia lebih parah dibandingkan dengan India. Kematian di bulan Juli sangat menukik, sangat menakutkan. Rencana membuka sekolah Juli 2021 menjadi batal.

Baca juga:  Maraknya Tambang Ilegal, Tak Tegasnya Negara pada Penambang Bengal

Gencarnya program vaksinasi pada masyarakat belum tentu dapat menghentikan laju Covid-19. Ketika protokol kesehatan kendur, tidak menutup kemungkinan Covid-19 sewaktu-waktu dapat meroket lagi. Keadaan yang tidak menentu ini membuat kesulitan para pemegang kebijakan sekolah. Kepala daerah sebagai satgas Covid yang langsung bersentuhan dengan penduduk akan berpikir seribu kali saat akan memutuskan sekolah dibuka kembali. 

Kepala daerah pemegang keputusan kebijakan sekolah tentu tidak serta merta akan melakukan pembukaan pembelajaran tatap muka. Saran masukan dari tenaga ahli menjadi acuan. Ketika pembelajaran tatap muka dilakukan, sedang sekolah belum siap dengan fasilitas yang mendukung protokol kesehatan maka yang akan terjadi adalah masalah penyebaran virus menjadi  meroket lagi. Betapa sangat ruginya kalau keputusan diambil sedang protocol kesehatan di sekolah belum solid dan guru dan siswa masih banyak yang belum vaksin. 

Ancaman Covid-19 akan terus berlanjut entah sampai kapan. Hal ini terus menghantui pengambil keputusan tentang pembukaan sekolah. Sudah lebih 1,5 tahun belajar di rumah, apakah akan diperpanjang lagi. Ketika tidak ada kepastian tentang pembukaan sekolah maka yang akan terjadi ke depan juga sangat menakutkan, lahirlah generasi-generasi yang tidak mempunyai kepekaan, tidak mempunyai kepedulian, tidak mempunyai kesetiakawanan, tidak paham pada kondisi real pada masyarakat.

Mengapa hal ini bisa terjadi karena mereka sudah diberi kepercayaan penuh memegang gawai yang kadang kala disalah gunakan untuk bermain game online yang mentrigger fantasi tanpa batas mereka. Dunia game online adalah dunia semu yang mengasyikan, melenakan dan waktu terbuang sia-sia.

Baca juga:  Merdeka Belajar dan Kemandirian Negeri

Zaman digitalisasi. Siswa-siswi saat ini keuntungan terbesarnya adalah sudah familiar dengan teknologi informasi. Mereka dibesarkan di tengah perkembangan pesat teknologi digital sejak anak-anak. Mereka sudah terbiasa dengan digital zoom, google meet, whatsapp dan aplikasi lainnya. Mereka terbangun dan dibesarkan dengan teknologi. Kalau mereka dapat menggunakan dengan benar teknologi informasi digital tersebut maka mereka akan banyak mendapatkan pengetahuan yang mungkin tidak didapat di sekolah. 

Pembelajaran Jarak jauh menghambat pembelajaran yang berbasis eksperimen dan penelitian di laboratorium. Di rumah tidak terdapat fasilitas dan pembimbingnya secara langsung di rumah. Eksperimen dan penelitian tidak bisa dilaksanakan dengan maksimal. Pembelajaran yang berbasis MIPA menjadi sangat turun hasilnya. 

Baca juga:  Bekantan, Hewan Unik yang Harus Dijaga Keberadaannya

Pembelajaran seni budaya: melukis, menari, menyanyi dan drama tidak bisa maksimal. Guru tidak dapat membimbing, mengarahkan secara langsung. Bimbingan, saran kritik konstruktif sulit dilakukan dengan benar. Evaluasi autentik tidak dapat dilakukan dengan semestinya. Guru tidak dapat merasakan nafas semangat, kesetiakawanan, kepedulian diantara siswa.

Pembelajaran olahraga juga mengalami hal yang sama. Ketrampilan tidak dapat dinilai dengan hanya mengirim video yang berisi konten siswa sedang praktek olahraga. Guru sangat kesulitan mengevaluasi, memberikan masukan titik lemah siswanya. Guru yang gather teknologi kesulitan komunikasi, memberikan konten yang benar tentang materi pelajarannya. 

Saat Pembelajaran Jarak Jauh materi-materi pelajaran yang membutuhkan keterampilan praktek nilainya sangat anjlok. Guru kesulitan melakukan penjelasan materi. Guru kesulitan memberikan refleksi dan penguatan materi. Kendala terbesarnya evaluasi mengalami banyak masalah. Bagaimana menilai proses penciptaan lukisan, tarian, lagu. Bagaimana mengevaluasi yang benar menendang bola dan permasalahan lainnya.

Baca juga:  Pentingnya Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila Sejak Dini

Pembelajaran ekstrakurikuler: keorganisasian, kepemimpinan, kepanduan, kerohanian, kesenian, olahraga, PMR, Karya Ilmiah Remaja hampir tidak dilaksanakan. Pembelajaran ekstrakurikuler adalah pembelajaran menambah energi pelajaran akademis.  Pembelajaran ekstrakurikuler yang kelihatan hasilnya adalah penanaman nilai-nilai karakter siswa. Kalau hal ini tidak dilaksanakan berarti nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, gotong royong, kebersamaan, toleransi, hormat menghormati, demokratis dan lain-lain tidak diperoleh oleh para siswa. Apalagi nilai-nilai keteladanan dari guru, sangat minim.

Kekuatiran jangka panjang yang akan terjadi adalah generation gap atau kesenjangan antar generasi akibat perbedaan karakter, cara komunikasi, cara pandang atas suatu hal. Ketika mereka di suatu masanya nanti sulit diajak diskusi, lemahnya kepemimpinan, lemahnya toleransi, kurangnya disiplin, kurangnya tanggung jawab, keakuannya tinggi. Hal-hal ini menjadi masalah bagi perkembangan kehidupan ini. 

Baca juga:  Menggali Potensi Kampung di Sektor Pariwisata sebagai Solusi Peningkatan Perekonomian Masyarakat Berau di Masa Pandemi

Generasi saat ini, generasi era pandemi Covid. Mereka adalah generasi yang sepuluh tahun ke depan akan mewarnai negeri ini dengan ide dan karya-karyanya. Mereka akan menjadi pemegang, pemimpin negeri ini. Sekarang ancaman learning loss yang berakibat pada generation gap itu sudah mulai kelihatan nyata dengan berbondong-bondongnya tenaga asing masuk ke negeri ini yang sebagian mereka adalah tenaga kasar, yang bisa dikerjakan warga sekitar perusahaan. 

Ancaman Covid-19 terus mengancam secara masif. Membuka sekolah dengan kondisi belum semua guru dan siswa divaksin. Sekolah belum siap dengan pelaksanaan protokol kesehatan. Orang tua dan siswa sudah jenuh dengan Pembelajaran Jarak Jauh. Pemerintah belum menemukan formula yang efektif belajar masa pandemi. Memilih antara dua ancaman yang saling bahaya untuk dipilih salah satu, buah simalakama. Membuka sekolah dengan ancaman makin besar virus Covid-19 meledak lagi atau memilih ancaman learning loss dan generation gap. (*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close