Opini

Komunikasi Multikultural dalam Industri K-pop: Fenomena Hubungan Parasosial Antara Idola dan Penggemar

Oleh: Nindiani Kharimah (Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi 2020, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman)

Berbicara mengenai Korean pop culture atau yang lebih kita kenal dengan istilah K-pop, Indonesia jadi salah satu negara dengan basis penggemar terbesar selain dari negara asalnya, Korea Selatan. Hambatan multikultural seperti perbedaan budaya dan bahasa nampaknya tidak jadi kesulitan yang berarti bagi idola K-pop untuk berkomunikasi dengan para penggemar internasional.

Ada cukup banyak variasi kegiatan yang diciptakan perusahaan hiburan Korea untuk memfasilitasi interaksi antara idola dan para penggemar. Mulai dari yang tidak berbayar sampai yang berbayar layaknya konser, fanmeeting (jumpa fans), fansign (acara tanda tangan album), dan lain sebagainya. Hal ini secara rutin dilakukan untuk menumbuhkan rasa loyalitas fans terhadap seorang idola.

Baca juga:  Kapasitas Overload, Masyarakat Overthinking, HMI Samarinda: Segerakan Pemindahan Sampah TPA Bukit Pinang

Sejak awal pandemi Covid-19, industri musik K-pop telah dipaksa untuk beradaptasi dengan berbagai situasi yang dihadapi penggemar. Pembatasan sosial yang berlaku hampir di seluruh dunia menyebabkan penggemar hampir tak punya kesempatan berinteraksi maupun sekadar melihat idola favorit mereka secara langsung.

Berangkat dari permasalahan tersebut, salah satu perusahaan hiburan K-pop, SM Entertainment menawarkan solusi alternatif agar penggemar dan idola dapat terus terhubung serta berinteraksi satu sama lain. Aplikasi ini diketahui membebankan sejumlah biaya terhadap penggemar agar dapat berkirim pesan dengan sang idola.

Layanan pesan berbayar Dear U Bubble (biasa disebut Bubble) tersebut diluncurkan pertama kali oleh SM Entertainment melalui aplikasi komunitas LYSN pada Februari 2020. Melalui Bubble, penggemar dapat menerima pesan dan foto eksklusif dari idola favorit mereka serta melakukan obrolan pribadi. Bubble memiliki tampilan yang serupa dengan aplikasi perpesanan pribadi populer di berbagai platform media sosial. 

Tak butuh waktu lama, Bubble langsung menempati posisi aplikasi terpopuler di kalangan penggemar K-pop seluruh dunia. Menurut sebuah laporan dari Global Economic, fitur perpesanan ini membantu SM Entertainment memperoleh lebih dari 4,2 miliar won (sekitar 3,5 juta USD) hanya dalam kuartal kedua tahun 2020.

Melihat kesuksesan tersebut, Bubble yang awalnya merupakan layanan eksklusif SM Entertainment untuk para artisnya kini telah memperluas jaringannya. Saat ini artis dari berbagai perusahaan seperti JYP Entertainment, Jellyfish Entertainment, Play M Entertainment, dan lain-lain juga telah bergabung menggunakan Bubble.

Dalam aplikasi Bubble, idola K-pop sering membagikan cerita keseharian mereka, menjawab pertanyaan, membuka dan mengungkapkan perasaan mereka pada penggemar melalui aplikasi ini. Tidak perlu khawatir dengan hambatan bahasa yang ada, sebab aplikasi ini dilengkapi pula dengan fitur terjemahan. Bahkan bukan suatu hal yang sulit untuk menemukan terjemahan yang disediakan secara manual oleh sesama penggemar, tentunya dengan bahasa yang tak terlalu kaku.

Beberapa netizen berkomentar bahwa konten komunikasi antara idola dan penggemar di Bubble layaknya percakapan antara sahabat. Fenomena inilah yang selanjutnya dapat diidentifikasikan sebagai parasocial relationship (hubungan parasosial).

Interaksi parasosial merupakan sebuah hubungan persahabatan atau kelekatan yang terjalin dengan tokoh yang muncul di media, berdasarkan ikatan afektif yang dirasakan oleh seseorang terhadap tokoh media tersebut (Horton & Wohl dalam Harvey & Manusov, 2001). Umumnya hubungan ini akan tetap berlangsung meskipun sang idola tidak mengenal atau menyadari keberadaan penggemar secara personal.

Menurut saya, industri K-pop utamanya perusahaan hiburan Korea telah membentuk suatu kultur khusus antara idola dan fandom mereka. Kultur tersebut jika diperhatikan bahkan tidak dimiliki oleh hubungan antara idola dan penggemar pada industri musik western. Meskipun salah satu pihak tidak saling mengenal dalam kehidupan nyata, namun fandom K-pop telah dikenal sebagai penggemar yang militan terhadap artis yang mereka berikan dukungan.

Dikutip dari laman envimedia.co, terdapat beberapa tingkatan struktur akibat adanya hubungan parasosial ini. Pertama, the building of exposure yaitu tahap pembentukan pengenalan pasar. Kedua the physical attraction, atau sebuah ketertarikan fisik terhadap idola. Ketiga the task attraction and social attraction, ketertarikan tugas yang dimaksud dalam konteks kali ini ialah seperti kegiatan voting dan streaming

Cerita-cerita personal dan perjuangan para idola yang diekspos kepada seluruh penggemar memberikan perasaan cinta dan pengertian terhadap mereka, yang kemudian mengarah pada interaksi sosial yang selalu didambakan para penggemar. Akibatnya, ikatan khusus ini mengarah pada pembentukan hubungan parasosial yang lebih kuat dan rentan untuk berubah menjadi obsesi negatif.

Baca juga:  Independensi dan Peranan HMI dalam Pilkada

Terlepas dari semua hal negatif komunikasi yang hadir antara idola dan penggemar, hubungan parasosial akan terus berkembang dalam industri ini. Sebab, berasal dari hubungan ini pula para penggemar menemukan sumber kebahagiannya. Untuk itu sangat penting bagi penggemar menjadi sosok yang kritis dan mengetahui batasan diri. Tujuan dari mengetahui batasan ini sendiri ialah sebagai langkah mencegah ketergantungan emosional pada idola. 

Sebaliknya bergantung pada orang-orang sekitar yang hadir secara nyata guna memperoleh dukungan dapat menciptakan ruang yang aman. Di mana para penggemar dapat mendiskusikan masalah-masalah penting bagi mereka, menjamin bahwa hubungan dengan idola ini tetap pada tingkat sosial-hiburan, dan tidak tergelincir ke tingkat yang akan merugikan baik bagi idola maupun penggemar.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker