Daerah
Pemkot Pastikan Tak Ada Pekerja Anak di Bontang
Kaltimtoday.co, Bontang - Publik kerap bingung membedakan pekerja anak dan anak yang bekerja. Membedakan dua hal ini dinilai cukup penting, agar publik tak salah mengartikan ketika mendapati ada anak yang bekerja di Bontang. Terlebih berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan Bontang, tak ditemukan kasus pekerja anak yang eksploitatif dan membahayakan.
Plt Kabid Pemenuhan Hak Anak dan Perlindungan Khusus Anak, Trully Tisna menjelaskan, ada perbedaan mendasar antara pekerja anak dan anak yang bekerja, yakni pada sifat dan dampaknya. Pekerja anak, dia menjelaskan, adalah anak-anak yang bekerja di luar waktu normal yang mestinya dimiliki untuk belajar dan bermain. Mereka bekerja terlalu lama, dieksploitasi, di sektor berbahaya, seperti batu bara, kimia, atau prostitusi; yang mana tempat-tempat ini berpotensi mengganggu perkembangan dan pendidikan anak, serta melukai mereka baik secara fisik maupun mental.
Sementara anak yang bekerja umumnya bekerja dalam waktu terbatas, pekerjaan ringan, dan tidak mengganggu anak dalam memperoleh hak dasarnya– sekolah, belajar, dan bermain. Anak yang bekerja ini, bisa jadi bekerja karena diminta membantu orangtua dalam waktu yang wajar, atau datang dari kesadaran diri anak sendiri karena melihat kondisi ekonomi keluarga.
"Tidak bisa dipungkiri, anak yang bekerja di Bontang masih sering dijumpai. Tapi kalau pekerja anak, seperti yang dipaparkan Disnaker, itu tidak ada di Bontang," bebernya. Hal serupa pun terjadi ketika ada anak bekerja sambilan misalnya di toko, di kedai atau jadi kurir, selama masih sekolah, belajar, dan punya waktu bermain, itu masih termasuk anak yang bekerja.
Trully juga mengajak publik sama-sama terlibat dalam menjaga, memantau keberadaan anak di sekitar mereka. Ini merupakan tanggung jawab moral bersama sebagai warga kota. Misalnya ketika ditemukan ada anak bekerja terlalu lama, di sektor berbahaya, apalagi dicurigai tak bersekolah, masyarakat juga harus peduli. Ikut menanyakan si anak, jangan dibiarkan.
"Anak-anak, kan, tanggung jawab kita bersama. Bukan pemerintah saja. Kita juga harus saling peduli," tandasnya.
[RWT]
Related Posts
- Di Tengah Stunting Kaltim 22,2 Persen, Kukar Sukses Capai Angka 12 Persen
- Usai NSP Dicabut, Yayasan Ibadurrahman Hanya Terima Siswa MTs dan MA, Tak Lagi Buka Santri Baru
- Job Fair Kukar 2026 Ubah Mekanisme Rekrutmen, Target 80 Persen Peserta Langsung Bekerja
- Article 33 Hadirkan Project Manager Kaltim Today, Dampingi Pembuatan Kampanye Digital Transisi Batu Bara Berkeadilan yang Berdampak
- Kortastipidkor Polri Gandeng Pegadaian hingga FBI Verifikasi Uang Asing dan 74 Kg Emas Sitaan









