Gaya Hidup

Punya Nilai Jual Tinggi, Berikut Manfaat Tanaman Porang untuk Kesehatan

Budidaya tanaman porang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Di Kaltim, tanaman dengan nama latin amorphophallus oncophyllus ini rencananya akan dibudidayakan di Desa Bukit Subur, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU yang akan menjadi percontohan sekaligus sebagai komoditas andalan.

Tanaman yang umumnya tumbuh di hutan ini termasuk salah satu tanaman umbi-umbian di Indonesia.

Baca juga:  Banyak yang Percaya, 5 Mitos Tentang Kesehatan Ini Ternyata Salah

Dilansir dari Kompas.com, umbi porang memiliki pasar ekspor, seperti Jepang, China, Taiwan, Vietnam, Australia, dan Korea.

Di pasar ekspor, umbi porang yang diolah menjadi tepung memiliki nilai jual tinggi. Tak hanya memiliki harga jual tinggi untuk ekspor, tanaman yang termasuk jenis iles-iles ini juga memberi segudang manfaat bagi kesehatan.

Penurun Berat Badan

Shirataki, salah satu pangan yang sedang populer digunakan untuk diet ini terbuat dari tanaman porang yang mengandung senyawa glukomanan.

Glukomanan merupakan polisakarida larut dalam air yang dianggap sebagai serat makanan. Glukomanan sangat penting dalam industri makanan karena serat alaminya dapat dijadikan pengganti agar-agar, mempercepat rasa kenyang, serta memperlambat pengosongan perut.

Dalam sebuah studi, 30 pasien obesitas menjalani diet rendah kalori 1.200 kkal selama kurang lebih 60 hari ditambah dengan mengonsumsi senyawa glukomanan. Kemudian, hasil studi tersebut membuktikan bahwa selang empat bulan, tingkat trigliserida dan bobot berlebih dapat turun secara signifikan.

Meski berat badan turun secara drastis, namun bagian menariknya yakni kandungan kalsium, zat besi, dan nutrisi lainnya tetap terjaga dan tidak berubah dalam tubuh.

Mengatasi Sembelit

Glukomanan yang terdapat dalam porang dapat membantu mengatasi masalah sembelit kronis. Hasil penelitian menunjukkan, penderita sembelit yang diberi glukomanan selama 10 hari, frekuensi buang air besarnya bisa kembali normal.

Baca juga:  7 Mitos tentang Corona, Jangan Percaya!

Menurunkan Kadar Kolestrol

Selain efektif untuk menurunkan berat badan, senyawa glukomanan ini juga efektif untuk menurunkan kadar kolesterol pada tubuh. Dalam sebuah studi yang melibatkan 22 penderita diabetes tipe 2 menunjukkan, suplemen konyaku glukomanan dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.

Dalam penelitian tersebut, pasien diberi 3,6 gram suplemen konyaku glukomanan per hari. Dengan penurunan kadar kolesterol jahat dan total dalam darah, risiko penyakit pembuluh darah seperti jantung dan stroke juga ikut menurun.

Hasil pengujian sejenis juga terlihat pada uji konyaku glukomanan tanaman porang pada tikus lab. Tikus yang diberi diet tinggi serat tepung porang, kadar kolesterolnya juga menurun.

Menurunkan Kadar Gula

Dalam sebuah penelitian pada tahun 2011 membuktikan bahwa senyawa glukomanan punya manfaat untuk menurunkan kadar gula darah. Dengan turunnya kadar gula darah dapat menurunkan risiko untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, resistensi insulin, dan diabetes.

Porang juga dapat meningkatkan tingkatan penyerapan nutrisi dalam usus kecil, sehingga sensitivitas tubuh terhadap insulin juga turut meningkat.

Dalam sebuah penelitian lain, ditemukan bahwa konsumsi suplemen yang mengandung senyawa glukomanan juga dapat mencegah pembentukan plak dalam pembuluh darah. Selain itu, pada studi yang dilakukan pada tikus lab ini juga menunjukkan bahwa konsumsi biskuit glukomanan secara rutin dan bertahap sangat efektif untuk menurunkan kadar gula darah.

Baca juga:  Menjanjikan, Petani di Desa Loa Ipuh Darat Kembangkan Pembibitan Tanaman Porang

Mencegah Kanker

Dalam sebuah studi, bahan makanan dari tanaman porang ternyata memiliki manfaat untuk mencegah penyakit kanker paru-paru. Selain itu, tanaman porang ini tak hanya bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kanker dan zat prakanker, tapi juga mencegah kanker.

Selain itu, studi juga membuktikan manfaat konyaku glukomanan bisa menurunkan tingkat keganasan tumor dan kanker. Meski demikian, studi tersebut masih terbatas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.

[RWT]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close