Nasional

Rupiah Kian Tertekan, Kurs Jual Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, dan BCA Tembus Rp 17.800

Network — Kaltim Today 19 Mei 2026 15:21
Rupiah Kian Tertekan, Kurs Jual Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, dan BCA Tembus Rp 17.800
Ilustrasi. (Pixabay)

Kaltimtoday.co - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan berat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Di jajaran perbankan besar nasional, kurs jual mata uang bertenaga super tersebut bahkan telah resmi menembus level psikologis baru di kisaran Rp 17.800 per dolar AS.

Berdasarkan data pergerakan pasar spot Bloomberg hingga pukul 14.44 WIB, mata uang Garuda terpantau melemah sebesar 64 poin atau setara 0,36% ke posisi Rp 17.732 per dolar AS. Tren depresiasi yang terus berlanjut ini dipicu oleh dominasi penguatan indeks dolar AS secara global, meroketnya harga minyak dunia, serta meningkatnya kecemasan para pelaku pasar terhadap ketahanan pos fiskal dalam negeri.

Di sektor perbankan komersial, penetapan nilai tukar bervariasi tergantung pada jenis transaksi yang dilakukan nasabah, baik melalui layanan e-rate, telegraphic transfer (TT counter), maupun transaksi fisik bank notes.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk misalnya, mematok kurs beli di angka Rp 17.500 hingga Rp 17.670, dengan kurs jual bertengger di rentang Rp 17.700 sampai Rp 17.800 per dolar AS. Langkah serupa diambil PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) yang menetapkan harga jual di koridor Rp 17.730 hingga Rp 17.800. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membatasi kurs beli di level Rp 17.590 dan melepas kurs jual di kisaran Rp 17.790, di saat Bank Indonesia (BI) mematok kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) harian di level Rp 17.601 per dolar AS.

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini terjepit oleh kombinasi sentimen negatif domestik dan global. Dari sisi internal, ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai kian menyempit akibat membengkaknya alokasi beban subsidi energi, menyusul harga minyak mentah dunia yang betah nangkring di atas level US$ 100 per barel.

Di samping menyoroti faktor komoditas, para investor dan pelaku pasar kini memilih bersikap defensif (wait and see) sembari menanti rilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait kebijakan suku bunga acuan terbaru guna meredam volatilitas dan ketidakpastian global yang masih tinggi. 

[RWT] 



Berita Lainnya