Nasional
Rupiah Melemah Bikin Harga Kedelai Impor Meroket, Pedagang Siasati Jual Tahu Tempe Ukuran Mini
Kaltimtoday.co - Efek domino dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini mulai menghantam sektor riil di pasar-pasar tradisional. Lonjakan harga komoditas kedelai impor yang menjadi bahan baku utama memaksa para perajin serta pedagang tahu dan tempe memutar otak agar tidak gulung tikar akibat tergerus biaya produksi.
Salah satu strategi bertahan hidup yang kini masif diterapkan oleh para pedagang adalah dengan memperkecil dimensi atau ukuran tahu dan tempe. Langkah "jalan tengah" ini terpaksa diambil demi menjaga stabilitas harga jual di tingkat konsumen agar tidak memicu gejolak daya beli.
Kondisi pelik ini salah satunya dirasakan oleh Bayu, seorang pedagang tahu dan tempe di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur. Ia mengeluhkan harga kedelai impor yang melonjak tajam dan merusak kalkulasi modal usahanya dalam beberapa bulan terakhir.
“Sebelum naik itu per kilonya Rp 7.000 ya. Sekarang udah hampir mau Rp 10.000-an lah,” ungkap Bayu saat ditemui di lapak dagangannya, Jumat (22/5/2026).
Bayu mengalkulasikan, kenaikan harga bahan baku tersebut otomatis mendongkrak ongkos produksi hingga menginjak angka 30 persen. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, menaikkan harga eceran dinilai sebagai langkah yang sangat berisiko dan ditakuti bakal membuat pelanggan lari.
“Kalau dinaikin harganya enggak mungkin juga, pembeli juga pada protes. Jadi paling mengakalinya dengan ukuran tempe dikecilin dikit lah, biar sama-sama menguntungkan,” imbuhnya.
Hingga saat ini, Bayu masih berupaya mempertahankan banderol harga lama, yakni Rp 10.000 untuk satu papan tempe dan Rp 5.000 untuk 10 biji tahu. Namun, konsumen harus mafhum jika ukuran komoditas protein tersebut kini jauh lebih ramping dibanding biasanya.
Double Hit: Harga Kemasan Plastik Ikut Melejit
Tekanan finansial yang dihadapi pedagang kecil ternyata tidak berhenti pada komoditas kedelai saja. Bayu membeberkan beban operasionalnya kian membengkak lantaran harga plastik pembungkus transparan di pasaran ikut terkerek naik secara ugal-ugalan.
“Harga plastik juga naik. Dahulu Rp 12.000 sekarang sampai Rp 20.000,” keluhnya.
Kombinasi kenaikan berbagai komponen usaha ini tak pelak membuat margin keuntungan pedagang terkikis habis. Kendati demikian, ia memilih tetap bertahan dan berjualan setiap hari mengingat profesi ini merupakan urat nadi utama penghasilan keluarganya.
“Pengurangan (pendapatan) pasti. Cuman ya namanya pedagang, ya udah dijalani aja. Kenyataannya harganya lagi naik,” tuturnya pasrah.
Fenomena hilangnya ukuran ideal tahu dan tempe di pasar ini menjadi potret nyata bagaimana gejolak makroekonomi dan fluktuasi nilai tukar valuta asing (valas) tidak lagi sekadar menjadi angka di papan bursa efek, melainkan sudah berdampak langsung ke meja makan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Mengingat, tahu dan tempe merupakan instrumen pangan subtitusi protein yang paling ramah di kantong masyarakat Indonesia.
Menghadapi situasi yang kian mencekik, para pedagang kecil menaruh harapan besar kepada pemerintah pusat dan Bank Indonesia untuk segera mengambil langkah stabilisasi nilai tukar agar harga pangan pokok bisa kembali normal dan aktivitas niaga di pasar tradisional kembali bergairah.
[RWT]
Related Posts
- Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dolar AS, Mensesneg Sebut Pemerintah Terus Pantau dan Koordinasi Intensif
- IHSG Anjlok Tajam Tinggalkan Level 6.000, Analis: Investor Pertanyakan Kredibilitas Kebijakan Ekonomi Indonesia
- PSGO Sebar Dividen Rp 113,1 Miliar Usai Laba Bersih Tumbuh 26,3 Persen
- BI Diminta Turunkan Bunga SRBI demi Sehatkan Pasar SBN dan Struktur Pasar Keuangan
- Menkeu Purbaya Ungkap Alasan Prabowo Ambil Alih Penyampaian KEM-PPKF RAPBN 2027







