Opini

Selamat Datang Parlemen Samarinda

SEORANG teman bertanya, apakah bapak maju lagi menjadi anggota dewan? Saya jawab InsyaAllah. Doakan ya. Beberapa bulan lalu ada juga seorang tokoh bertanya, kenapa bapak masih membuat iklan dan capek-capek seperti ini? Saya jawab, ini tanggungjawab sejarah bagi saya.

Ya, semua aktivitas kita adalah tanggungjawab kita sebagai pribadi dan juga komunitas organisasi. Ia adalah representasi sejarah dan potret kita sebagai anak sejarah. Bagaimana mungkin saya tak bersemangat, orang yang biasa-biasa saja bersemangat tinggi. Berbagai komunitas dan profesi saja sangat anthusias dengan pencalonannya sebagai kandidat parlemen (man=manusia, parle= ngomong. Bisa juga disebut manusia banyak ngoceh). Karena hari-hari mereka akan terus bicara dan ngoceh. Menyuarakan isi hati perasaan dan emosi diri, warga masyarakat, organisasi, sekolah orangtua, siswa, mahasiswa, pelajar, RT, pelanggan, dan semua bentuk komunitas dan warga anak bangsa di Samarinda.

Bayangkan dari 700-an calon anggota parlemen di Samarinda hanya 6,4 persen yang lolos ke Basuki Rahmat — Sebutan kantor DPRD Samarinda. Maka, pertarungannya adalah satu berbanding 700. Bukan 0,6 persen peluang. Tapi 700-an peluang jika lolos. Ini memang angka kemustahilan yang selalu viral pada interval siklus lima tahunan.

Rumit proses administrasinya. Mulai urus surat RT, ijazah harus sesuai asli. Belum lagi jika harus cocok antara nama ijazah, akte dan KTP. Apalagi yang dari luar daerah. Harus bolak-balik urus tetek bengeknya, seperti foto, surat kesehatan, dan surat SKCK dari kepolisian. Belum lagi surat dukungan untuk bisa lolos dari internal partai dan berbagai tanda tangan bermaterai yang harus dipenuhi untuk pengajuan KPU dan sistem informasi yang harus online dalam website serta beragam halang rintang yang nyaris tak bertepi. Maka semua harus menjalani proses panjangnya kampanye sekira 6 bulan hingga setahun. Begitu demokrasi memaksa setiap orang untuk kenal daerahnya. Wilayahnya. RT-nya, komunitasnya, tempat ngopinya, tempat nongkrongnya, tempat makan baksonya, tempat kumpulnya, tempat main bola, tanding antar klub, dan lain sebagainya.

Secara pemetaan wilayah dan penguasaanya memang harus diuji. Siapa yang punya kans dan kandidat mumpuni. Siapa yang bisa berkomunikasi, siapa yang bisa survive, siapa yang bisa melakukan service excellence kepada warga dan masyarakat.

Hampir semua orang partai dan komunitas, khususnya para calon dan peserta kontestasi melakukan taktik. Total football. Ya, gaya total-nya timnas Belanda. Itu yang tergambar paling tidak. Suasana sekira setahun lalu hingga pencoblosan.

Hari ini (26/8/2019) kita melihat dan menyaksikan para anggota parlemen Samarinda akan dilantik. Ada PDI Perjuangan dengan ciri khasnya yang merah, Gerindra dengan coklat krem, Golkar yang kuning, PKS yang putih hitam, Demokrat biru, Nasdem biru dongker, PAN biru, PKB hijau, PPP hijau serumpun, juga Hanura yang kuning kunyit. Ini warna-warni Samarinda sebagai gambaran warna wajah mereka yang diwakili. Wajah dari orang orang yang lolos dari kontestasi.

Bisakah warna ini membuat indah perwajahan Samarinda? Dapatkah mereka menjadi pahlawan pembangunan bangsa? Mungkinkah akan terwujud corak keberagaman yang saling sinergi antara legislatif dan eksekutif? Bagaimana cara mereka berkonsolidasi untuk saling melengkapi kekurangan yang menguatkan? Siapkah mereka menyambut Kaltim sebagai ibu kota? Apa modal yang didesain untuk menjadi daerah satelit ibukota negara saat migrasi ke Kaltim? Semua belum ada yang dapat menjawabnya.

Paling tidak, wajah baru Samarinda akan diisi oleh orang-orang kawakan seperti Siswadi yang dipastikan akan memimpin DPRD Samarinda, Alphad Syarif sebagai wakilnya. Kemudian ada Angkasa Jaya, Ahmad Vananzda, Anhar, Fakhrudin, Joha Fajal, Kamarudin, Abdul Rofik, Samri, Guntur, Sri Puji Astuti, Laila Fatihah, Damayanti, serta saya sendiri akan mengisi ruang bicara publik. Paling tidak dalam lima tahun kedepan.

Ini adalah momentum menjadikan mereka sebagai kontributor sejarah. Siapakah yang akan mampu mengeksplorasi potensi dan aspirasi warga Samarinda. Setidaknya, hari ini adalah saat mereka akan memulai semua peristiwa sejarah dengan gaya dan performanya masing-masing. Mudahan mereka benar-benar akan melahirkan konsep dan desain baru bagi Samarinda. Sebab kelahirannya dari rahim sejarah Samarinda memang penuh perjuangan. Penuh taktik dan strategi. Penuh penetrasi yang massif, penuh atraksi, penuh irama orkestra yang berbeda-beda. Namun tetap mengusung tujuan mulia, membangun Indonesia, Kaltim, dan Samarinda dengan warta wicara dan rangkaian aksara penuh makna.

Selamat datang parlemen Samarinda. Selamat datang kebaruan konsep dan ide untuk Samarinda tercinta. Dan saya menjadi bagian didalamnya sejak sekarang.

Nursobah
Anggota DPRD Samarinda Periode 2019-2024

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close