Kaltim

Unmul Dampingi Pembudidaya Nila di Sabintulung Terapkan Monitoring Kualitas Air Rawa Gambut

Kaltim Today
21 Agustus 2026 10:47
Unmul Dampingi Pembudidaya Nila di Sabintulung Terapkan Monitoring Kualitas Air Rawa Gambut
Anggota TK-PPGE Gambut Sabintulung Berjaya mengikuti praktik penggunaan perangkat monitoring kualitas air dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 di Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman.

Kaltimtoday.co - Pembudidaya ikan nila di Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, mulai melengkapi pengalaman lapangan mereka dengan pengukuran kualitas air dan pencatatan berkala dalam mengelola budidaya di kawasan rawa gambut. Pendampingan ini dilakukan bersama tim Universitas Mulawarman (Unmul) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026.

Ketua TK-PPGE Gambut Sabintulung Berjaya Nurdiansyah mengatakan, kelompoknya sebelumnya belum mengetahui cara memantau kondisi air menggunakan parameter yang terukur.

"Sebelumnya kami belum mengetahui cara memantau kondisi air secara tepat. Kami hanya berpatokan bahwa selama air tersedia, kolam sudah bisa digunakan untuk memelihara ikan," kata Nurdiansyah.

Kebutuhan memahami kondisi perairan menjadi semakin penting setelah sebagian kegiatan budidaya masyarakat beralih dari perairan sungai ke kawasan rawa gambut. Dalam beberapa tahun terakhir, pembudidaya menghadapi perubahan kondisi perairan, termasuk fenomena yang dikenal masyarakat setempat sebagai air bangar, serta sejumlah kejadian kematian ikan.

Pendampingan dari Unmul

Tim Unmul yang diketuai Dewi Embong Bulan mendampingi TK-PPGE Gambut Sabintulung Berjaya dalam penerapan sistem pemeliharaan ikan dua tahap, monitoring kualitas air, serta pencatatan kegiatan budidaya. Kegiatan ini didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Bentuk keramba yang umum digunakan anggota TK-PPGE Gambut Sabintulung Berjaya di Desa Sabintulung.
Bentuk keramba yang umum digunakan anggota TK-PPGE Gambut Sabintulung Berjaya di Desa Sabintulung.

Dalam penerapannya, pembudidaya menggunakan sistem nursery cage–grow-out cage. Benih terlebih dahulu dipelihara pada petak nursery. Seiring bertambahnya ukuran, ikan disortir—individu yang lebih besar dipindahkan ke petak grow-out, sementara yang masih kecil tetap dipelihara di petak awal.

Kegiatan budidaya bersama kelompok ini dimulai pada 27 Juni 2026 dengan 1.200 ekor benih ikan nila berukuran sekitar 4–5 sentimeter, yang dipelihara dalam dua unit keramba, masing-masing berisi 600 ekor.

Monitoring dan Pencatatan Rutin

Bersamaan dengan pemeliharaan ikan, kelompok mulai melakukan monitoring kualitas air terhadap empat parameter: keasaman (pH), suhu, oksigen terlarut (DO), dan kecerahan air. Hasil pengukuran kemudian dicatat dalam logbook, bersama informasi mengenai kondisi ikan, mortalitas, penggunaan pakan, dan kegiatan pemeliharaan lainnya.

Pencatatan ini membuat kondisi budidaya tidak lagi hanya diamati sesaat, tetapi mulai memiliki rekam data yang dapat dibandingkan dari periode ke periode. Pengalaman pembudidaya dalam mengenali kondisi perairan tetap digunakan, kini dilengkapi hasil pengukuran sebagai bahan evaluasi selama masa pemeliharaan.

Pendampingan penggunaan perangkat monitoring turut disertai pelatihan kepada 10 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai pengetahuan peserta meningkat dari 62,1 persen pada pre-test menjadi 93,2 persen pada post-test, dengan seluruh peserta memperoleh nilai akhir lebih tinggi dibanding nilai awal.

Namun, peningkatan pengetahuan itu belum berarti seluruh peserta telah sepenuhnya mandiri menggunakan perangkat monitoring. Dalam evaluasi praktik, delapan dari 10 peserta masih membutuhkan banyak bantuan. Karena itu, pendampingan dan praktik berulang tetap dilakukan untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam menggunakan alat dan mencatat hasil pengukuran.

Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Capai 99 Persen

Monitoring kualitas air dilakukan secara berkala sejak budidaya dimulai. Hingga pemantauan terakhir yang digunakan dalam laporan kemajuan pada 10 Agustus 2026, mortalitas yang tercatat sebanyak 11 ekor dari 1.200 benih—setara tingkat kelangsungan hidup sementara sebesar 99,08 persen.

Angka tersebut masih berupa hasil antara dan belum dapat diperlakukan sebagai hasil akhir budidaya. Tingkat kelangsungan hidup final akan kembali diverifikasi berdasarkan kondisi aktual ikan pada akhir siklus pemeliharaan.

Keramba sistem nursery cage–grow-out cage diterapkan untuk mendukung pemeliharaan ikan nila berdasarkan fase perkembangan ukuran di Desa Sabintulung.
Keramba sistem nursery cage–grow-out cage diterapkan untuk mendukung pemeliharaan ikan nila berdasarkan fase perkembangan ukuran di Desa Sabintulung.

Pendampingan masih akan berlanjut hingga akhir siklus budidaya, yang direncanakan berlangsung sekitar empat hingga lima bulan. Evaluasi berikutnya akan mencakup hasil panen dan biomassa, perkembangan bobot ikan, penggunaan pakan, manfaat ekonomi, serta tingkat kemandirian kelompok dalam melakukan monitoring dan pencatatan budidaya.

Bagi Nurdiansyah, perubahan yang mulai dirasakan kelompoknya terutama terletak pada kemampuan memantau kondisi perairan secara lebih teratur, sehingga perubahan kualitas air dapat diketahui lebih awal.

"Manfaat utamanya adalah kami dapat memantau kondisi air secara berkala dan langsung mengetahui jika terjadi kendala atau masalah pada kualitas air, sehingga tindakan penanganan bisa dilakukan lebih cepat," ujarnya.

[TOS]

 *) Tim Pengabdian kepada Masyarakat: Ketua Tim — Dewi Embong Bulan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman Anggota — Etik Sulistiowati Ningsih, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman Anggota — Deasy Angela, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman. Naskah merupakan materi publikasi Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026.



Berita Lainnya