Headline

Alasan Pemkot Samarinda Siap Terapkan Normal Baru: Tidak Ada Transmisi Lokal

Kaltim Today
27 Mei 2020 20:48
Alasan Pemkot Samarinda Siap Terapkan Normal Baru: Tidak Ada Transmisi Lokal

Kaltimtoday.co, Samarinda - Otoritas kesehatan Samarinda memastikan rencana penetapan normal baru di tengah pandemi Covid-19 dilandasi kajian mendalam. Itu sebagai jawaban ke publik atas kekhawatiran bahwa kebijakan normal baru itu bakal menimbulkan lonjakan kasus baru.

Samarinda merupakan daerah pertama di Kaltim yang menyatakan siap memberlakukan normal baru. Sementara daerah lain di Kaltim masih menunggu jumlah kasus Covid-19 menurun.

Sejauh ini, di Samarinda, sudah dilakukan rapat untuk menyiapkan protokol atau aturan mengenai penerapan kebijakan normal baru. Protokol itu antara lain, seperti kewajiban memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, dan mencuci tangan sesering mungkin. Protokol ini rencananya akan berlaku di berbagai lokasi, seperti perkantoran, sekolah, pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan obyek wisata.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kaltim Today (@kaltimtoday.co) pada

Plt Kepala Dinas Kesehatan Samarinda Ismed Kusasi, Rabu (27/5/2020), mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan rekomendasi normal baru dengan berdasarkan perhitungan epidiomologis. Dalam analisa yang dilakukan tim epidimiologis tersebut, saat ini Samarinda sudah melalui fase puncak dan tanpa transmisi lokal.

Dalam pemaparan tim epidimiologi, sejauh ini Samarinda telah mendapatkan 4 klaster utama nasional, yakni klaster Bogor, klaster Sinode, klaster Gowa, dan klaster Magetan.

[irp posts="15025" name="Kenapa Berkumpul di Masjid Dilarang, tapi di Mal dan Bandara Boleh?"]

Samarinda menyelesaikan 4 klaster utama nasional tersebut tanpa transmisi lokal. Sementara 4 klaster ini merupakan penyebab transmisi lokal di 8 kabupaten/kota di Kaltim. Di mana peningkatan PDP konfirmasi positif dari klaster ini masih sangat signifikan, transmisi lokal telah terjadi di 3 level, yakni keluarga inti, keluarga besar, dan non keluarga.

Selain 4 klaster tersebut, Samarinda juga menemukan klaster Kalteng, klaster lokal Kaltim, terutama dari Balikpapan dan Kutai Kartanegara.

"Sampai 27 Mei 2020, di Samarinda juga belum ada bukti ilmiah telah terjadi transmisi lokal yang diverifikasi Dinas Kesehatan Kaltim," tulis laporan tim epidiomologi dari Dinas Kesehatan Samarinda.

Hingga 27 Mei 2020, di Samarinda sudah dilakukan sebanyak 7.320 tes rapid dan swab massal. Rinciannya, 2.123 tes rapid dengan immunofloresensi Assay (IFA). Salah satu alat tes rapid yang dipercaya memiliki akurasi hampir mendekati tes PCR (polymerase chain reaction). Kemudian, 219 tes swab, dan 4.978 tes rapid non-IFA.

Selama masa penyembuhan ini, otoritas kesehatan di Samarinda masih akan melakukan tes swab massal dengan target 2.000 orang. Dilakukan untuk meningkatkan spesifikasi di fase penyembuhan, bahwa yang bukan PDP benar-benar bukan PDP alias mencari hasil swab negatif.

Adapun tes rapid dengan IFA ditarget 2.000 orang. Tes dengan IFA ini untuk pemetaan imunologi.

Rapid dan swab tes massal akan dilakukan secara langsung di beberapa tempat, seperti di fasilitas kesehatan, misal rumah sakit dan puskesmas dan di laboratorium swasta untuk tujuan komersial.

Berdasarkan kajian epidiomologi tersebut, Ismed memaparkan, pihaknya memberikan rekomendasi sebagai bentuk relaksasi. Namun dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Fase pertama relaksasi dimulai 1 Juni 2020. Pada fase ini, semua OPD pelayanan publik, tempat peribadatan, termpat perbelanjaan, tempat hiburan, rumah makan, dan pasar malam dibuka.

Fase kedua dimulai 15 Juni 2020. Pada fase ini, OPD selain fase pertama, tempat pariwisata dibuka. Begitu pun dengan KPU yang akan memproses tahapan pilkada.

Terakhir, fase ketiga yang dimulai 1 Juli 2020. Pada fase ini, sekolah dan seluruh fasilitas pendidikan dibuka.

"Ketentuannya semua wajib pakai masker, jaga jarak, dan terapkan pola hidup sehat," pungkasnya.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Pusat Bumbu Samarinda (@pasarbumbu.smr) pada

Terpisah, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menuturkan, berdasarkan analisa epidemologi, Samarinda siap menerapkan kondisi normal baru. Pihaknya akan segera menerbitkan surat edaran wali kota terkait kebijakan tersebut.

"Secepatnya, tapi tetap matang," ucap Jaang.

Keyakinan Samarinda siap menerapkan tatanan normal baru itu, menurut Jaang, juga didukung fakta bahwa sebaran kasus Covid-19 di Kota Tepian saat ini tidak ada penambahan dan mulai menunjukkan grafik yang cenderung turun.

"Beberapa hari terakhir ini Samarinda tidak ada penambahan, pasien PDP 6 kasus, positif 6 orang dan menunggu hasil swab tidak ada, serta yang sembuh 34 orang," katanya.

Wali kota Samarinda dua periode ini menegaskan, rekomendasi dari Dinas Kesehatan Samarinda masih akan dikaji secara konprehensif dengan sejumlah pihak. Setelah benar-benar matang, baru diterapkan tatanan normal baru di tengah pandemi Covid-19.

[TOS]


Related Posts


Berita Lainnya