Opini

Aman atau Ancaman, Presiden Jokowi Akan Meletakkan Batu Pertama IKN di Kaltim yang Masih Krisis Pangan

Kalimantan Timur perlu terus mengoptimalkan program-program pertanian sebagai trobosan. Tidak hanya fokus pada tambang saja. Harus ada revolusi hijau untuk mempersiapkan kebutuhan pangan di Ibu Kota Negara Baru nantinya.

Sebab pemenuhan kebutuhan pangan di provinsi kaya ini justru masih sangat bergantung pada daerah lain, terutama pulau Jawa dan Sulawesi. Oleh karena itu, pemerintah disarankan untuk mencari trobosan agar daerah Ibu Kota Baru ini bisa berswasembada pangan. Jika tidak, daerah Ibu Kota Negara Baru nantinya bakal terus berada di bawah bayang-bayang krisis pangan.

Baca juga:  Pangdam VI/Mulawarman Pilih Kodim 0906/Tenggarong sebagai Wilayah Cadangan Pangan Nasional

Melihat kondisi Jawa yang sekarang pun sudah mulai kekurangan dan juga mengalami penyusutan lahan karena beralihnya fungsi persawahan untuk perumahan dan industri, Oleh sebab itu, pemerintah perlu khawatir mengenai hal ini jika memang nantinya daerah penyuplai pangan ke Kaltim mengalami krisis maka akan berdampak besar kepada Ibu Kota Baru.

Gambaran Umum Ibu Kota Baru 

Ibu Kota Baru terletak di Kabupaten Penajam  Pasir Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara. Direncanakan memiliki luas 40.000 Ha derngan rencana pengembangan mencapai 180.000 Ha. Anggaran biaya untuk pembangunan Ibu Kota Baru mencapai angka Rp 466 triliun dengan 3 skema pembiayaan.

Dari rencana pemerintah ada sekitar 180 ribu PNS dan 25 ribu anggota TNI Polri yang akan ikut dipindahkan dalam tahap pertama. Dan pada perkembangannya, akan memindahkan sebesar 900 ribu ASN pemerintah pusat. Selain PNS tentu akan ada keluarga PNS yang akan ikut dipindahkan ke Ibu kota Baru. Menurut Bappenas, pada tahap awal akan ada 1,5 juta penduduk yang akan ikut pindah ke Ibu Kota baru. Dengan rincian 800 ribu keluarga PNS (asumsi 2 anak/keluarga) dan sisanya merupakan pelaku bisnis. Dan dari rancangannya Ibu Kota baru bakalan mampu menampung penduduk sebesar 4,5 juta jiwa dan tentu akan terus berkembang.

Fakta Pangan Ibu Kota Baru 

Menurut data BPS, untuk komoditas padi Kalimantan Timur memiliki produksi sebesar 262.434,52 ton pada tahun 2020 atau yang terendah kedua setelah Kalimantan Utara. Jumlah tersebut menurun jika dibandingkan dengan produksi pada tahun 2018, sebesar 262.773,88 ton. Meskipun begitu produktivitas merupakan yang tertinggi kedua di Pulau Kalimantan yakni 35,67 kwintal/ha atau 3,567 ton/ha jauh dari angka produktivitas nasional yakni 5,128 ton/ha. Dan luas panen yang hanya mencapai 73.568,44 ha padahal luas daratan Kalimantan Timur mencapai 12.734.692 ha.

Dengan produksi padi pada tahun 2020 mencapai 262.434,52 ton, maka Kalimantan Timur akan mendapatkan beras 168.010,57 ton. Angka tersebut didapatkan dari hasil perkalian jumlah produksi padi pada 2020 dengan angka koversi GKG 64,02%. Sedangkan kebutuhan penduduk Kalimantan Timur (belum ditambah penduduk ibu Kota Baru) yang menurut proyeksi BPS pada tahun 2025 akan berjumlah 5.040.700 jiwa yang artinya akan membutuhkan 562.441,3 ton/tahun (konsumsi beras perkapita 111,58 kg/tahun).

Baca juga:  Kritisnya Dunia Penyiaran

Dengan desain yang mampu menampung 4,5 juta jiwa maka penduduk Kalimantan Timur akan mencapai angka 9.540.700 jiwa pada tahun 2025. Maka kebutuhan beras akan mencapai 1.064.551,3 ton/tahun (konsumsi per kapita 111,58 kg). angka tersebut sangat jauh terhadap kemampuan produksi beras di Kalimantan Timur yang hanya mencapai 168.010,57 ton atau masih kurang 896.541,3 ton.

Melihat dari fakta pangan Ibu Kota Baru, maka pangan yang dalam hal ini adalah komoditas beras merupakan salah satu sektor yang paling dikhawatirkan atas pindahnya Ibu Kota Negara Baru ke Kaltim. Jika demikian, apakah ini aman atau justru ancaman untuk Kalimantan Timur khususnya sebagai wilayah Ibu Kota Negara.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close