Opini

Etika Berkomunikasi sebagai Seorang Public Relations

Oleh: Dheandra Audya Mulyono (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman)

Manusia yang hidup sebagai makhluk sosial tentu tidak pernah terlepas dengan komunikasi dalam kehidupannya. Namun, apakah dalam berkomunikasi kita hanya sekadar berbicara? Tentu saja tidak. Di dalam komunikasi terdapat sebuah etika, yang dimana etika merupakan nilai dan norma yang menjadi pedoman dan standar manusia dalam bertindak serta bertingkah laku. Kaitannya dengan komunikasi, etika komunikasi telah mencakup nilai dan norma yang menjadi pedoman ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Komunikasi menjadi hal yang krusial dalam kehidupan manusia, maka penting bagi kita untuk mengetahui etika dalam berkomunikasi. Etika komunikasi pada dasarnya memerlukan kejujuran, kemampuan dalam memilah kata-kata, menjaga kerahasiaan informasi dan tidak membahas hal yang sifatnya pribadi di depan umum.

Baca juga:  Menyalahi Syariah L98T, Negara Harus Bertindak

Pada sebuah organisasi atau perusahaan bahkan usahawan yang menjalankan bisnis, pemerintahan, ekonomi, politik dan lain sebagainya, pasti memerlukan kepiawaian dalam hal etika berkomunikasi. Khususnya bagi seseorang yang berprofesi sebagai public relations atau yang kita kenal dengan humas yang bekerja pada suatu instansi atau perusahaan. Kita mengetahui bahwa seorang public relations dituntut mampu membangun citra positif di mata publik sehingga mampu membentuk opini publik. Kepiawaian public relations dalam membangun citra positif suatu instansi atau perusahaan tidak hanya sekedar lip service semata, namun juga harus memiliki kemampuan dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Dalam praktiknya, tak jarang kita menemukan public relations yang masih menggunakan cara yang tidak etis dalam membangun citra organisasi atau perusahaan yang menaunginya. Dengan menghalalkan berbagai cara agar citra organisasi atau perusahaan tidak jatuh dan dapat dipandang baik di mata publik, tentu bukan hal seharusnya tidak dilakukan oleh public relations yang profesional. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang public relations dalam menjalankan tugasnya tanpa harus menggunakan cara yang justru mampu merugikan organisasi atau perusahaan itu sendiri.

Menurut buku Ethics in Public Relations A Guide to Best Practice, Patricia J. Parsons (2008: 20-21) menyatakan bahwa terdapat lima prinsip yang perlu kita ketahui terkait etika seorang public relations, yakni pertama, veracity (to tell the truth) dimana konsep ini menyatakan bahwa seorang public relations mampu menyampaikan kebenaran terhadap suatu informasi sebagai tahapan awal dalam berperilaku etis. Kedua, Non-maleficence (to do not harm) yang merupakan prinsip dasar perilaku moral dimana dalam penyampaian informasi dan tindakan yang dilakukan kita tidak boleh menyakiti orang lain walaupun tanpa kita sadari kita melakukannya secara tidak sengaja.

Ketiga, beneficence (to do good) dimana konsep ini merupakan bentuk lain dari konsep non-maleficence namun memberikan keuntungan lebih seperti mencari kesempatan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menguntungkan dalam proses pembuatan keputusan. Misalnya, ketika membuat suatu event atau kegiatan yang bekerja sama dengan sponsor dimana nantinya hasil dari event tersebut dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Baca juga:  Tambahan Upeti Rakyat (Tapera)

Keempat, confidentiality (to respect privacy), pada konsep ini seorang public relations dituntut mampu mengetahui dan menghormati wilayah pribadi orang lain dengan tetap menjaga kerahasiaan informasi. Terakhir, fairness (to be fair and socially responsible) yang menekan pada keadilan dan tanggung jawab sosial. Pada konsep ini memberikan pemahaman bahwa public relations selayaknya dapat menghormati setiap individu dan masyarakat agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang adil bagi semua pihak dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Perubahan era komunikasi yang serba digital seperti saat ini justru semakin mudah kita menemukan orang yang mengabaikan etika dalam komunikasi. Dalam hal ini seorang public relations harus mampu mengendalikannya dengan merambah pada media sosial yang ada guna menjaga citra positif yang telah dibangun terhadap suatu organisasi, perusahaan atau instansi. Namun disamping itu, masih banyak public relations yang bertugas secara profesional dengan mengaplikasikan etika dalam komunikasi untuk mencapai target yang diinginkannya sehingga permasalahan dan krisis yang sedang dihadapi dapat ditangani sesuai dengan nilai-nilai norma yang berlaku.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker