Opini

Guru, Jiwa Ragaku

Oleh: Abd. Wahab Syahrani (Guru SMAIT Granada Samarinda, Kepala Sekolah Berprestasi SMA Se Kaltim 2021, Ketua Dewan Pembina JSIT Kaltim, Mahasiswa Prodi Doktor Manajemen Pendidikan Unmul)

Aku dibesarkan di lingkungan pendidikan. Sebab ayahku seorang guru yang sangat berdedikasi dan memiliki loyalitas penuh untuk pendidikan. Untuk menempuh jarak 7-10 km, beliau terkadang hanya naik sepeda dan tidak jarang juga harus berjalan kaki, karena saat itu sepeda motor apalagi mobil masih menjadi barang yang sangat langka, mahal dan juga mewah.

Berbicara pendidikan keluarga, sejak kecil aku dan tiga kakakku dididik dengan penuh ketegasan walau tidak mengabaikan kasih sayang, tentu dengan segala keterbatasan ekonomi saat itu. Aku sendiri bila ditanya mau jadi apa kalau sudah besar, selalu aku jawab mau jadi ennuy (gubernur). Walau akhirnya bayang-bayang dan kuatnya sosok ayah sebagai seorang guru begitu kuat mendominasi cita-citaku.

Aku melihat pengorbanan ayahku, gigih dan tegar menajalani tugas negara sebagai sekaligus menghidupi empat orang anak dengan gaji guru  tahun 80-an yang tentu belum seberapa secara hitungan materi, tapi aku kini yakin bahwa keberkahan Allah di atas segalanya yang terkadang sulit kita buktikan dengan teori matematis. Walau mungkin saat itu pikiran dan pandanganku masih awam tentang mengapa ayahku memilih berprofesi menjadi guru, namun bisa jadi ayahku menjadikan sebuah hadits Nabi sebagai sebuah pijakan.

Baca juga:  Memaknai Perjuangan Kartini dan Pahlawan Wanita Lainnya

Sebagaimana disebut dalam hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah RA:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh.” (HR Muslim).

Ketika berbicara amal jariyah setidaknya kita teringat 3 hal di atas, pertama sedekah jariyah. Mungkin kita sangat terbatas dalam aspek ini, infak dan sedekah kita juga tidak sebanyak para sahabat Nabi. Walaupun mungkin amal ini bisa kita lakukan, sangat terbatas jumlah dan jangka waktunya. Yang kedua adalah doa anak-anak yang sholeh. Tidak semua kita mempunyai anak, dan kalaupun kita mempunyai anak keturunan, terkadang kita juga diuji dengan anak-anak yang belum mampu berbakti kepada orantuanya apalagi mendoakan keduanya. Sehingga satu hal yang bisa diandalkan adalah ilmu yang bermanfaat. Mengapa? Karena ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir sepanjang hayat bahkan ketika yang memberikan ilmu pun sudah meninggal dunia karena kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orang yang mendapatkan manfaat ilmu tersebut. Aspek ketiga inilah yang mungkin menguatkan tekad ayah ku dan tentu penguat bagi diriku sendiri untuk menjadikan profesi sebagai seorang guru menjadi pilihan tepat dalam hidupku.

Ujian Kegagalan Menjadi Pemicu

Saat duduk di bangku SMP, aku pernah mendapatkan nilai yang sangat membuatku terpuruk. Satu mata pelajaran yang sebenarnya aku sendiri merasa bisa untuk menyelesaikan ujiannya. Singkat cerita terjadi konflik antar siswa dan guru yang akhirnya membuat satu mapel fisika di rapor tertulis angka empat. Perasaan sedih, hancur, dan hanya  menangis. Upaya negoisasi dibantu wali kelas mengalami jalan buntu. Dan akhirnya cita-cita untuk masuk ke salah satu SMA faforit di Magelang ketika itu pun pupus sudah. Tetapi justru momen dan keadaan ini menguatkan tekadku untuk membuktikan bahwa sebenarnya aku bisa.

Singkat cerita, selain sebagai ketua OSIS prestasi demi prestasi di bangku SMA terus aku torehkan bahkan sampai menjadi siswa berprestasi terbaik di kabupaten ketika itu. Sehingga saat lulus SMA, momentum yang sangat tepat untuk mewujudkan cita-citaku sekaligus sebagai wahana menguji diri dalam bidang yang aku sempat terpuruk. Yah, aku memilih masuk di FKIP Fisika Universitas Mulawarman pada tahun 1998 dan Lulus S1 pada 2003

Kapan Aku Memulai sebagai Guru 

Sebenarnya profesi “guru” sudah aku perankan sejak duduk di bangku kelas 2 SMP. Saat itu sepulang sekolah, setiap habis sholat ashar aku bersama beberapa temanku menjadi guru TK/TPA di sebuah Masjid Agung. Dan itu aku jalani hingga lulus SMA. Pada saat kuliah pun di semester tujuh di masa tugas kuliah sudah mulai berkurang, aku mengajar di salah satu SMA Muhammadiyah Samarinda, tahun 2001. Hingga akhirnya saat selesai kuliah 2003 aku diterima menjadi guru SDIT Cordova.

Berbagai prestasi siswa bimbinganku menoreh prestasi sampai tingkat nasional, yang juga mengantarkan ku mendapatkan anugerah Guru Berprestasi pada 2005 oleh Gubernur Kalimantan Timur. Di sekolah ini aku mengajar hingga  2006 pada saat yang sama aku masih mengajar di SMA Muhammadiyah dan juga mengajar Mata Kuliah Ilmu Tajwid di salah satu PT Swasta di Samarinda. Hingga akhirnya berdirilah SMPIT Cordova, dan aku diminta oleh Yayasan untuk menggawangi pertama kali sekolah tersebut sebagai guru IPA juga mendapat tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah.

Hingga berakhir tugas di sekolah ini aku mengajar IPA dan menunaikan tugas sebagai kepala sekolah dari tahun 2006-2016. Ya, 10 tahun. Tidak disangka Allah berkehendak, SMA IT Granada berdiri dan aku diminta juga untuk merintis dan mengawali sekolah ini, dan sejak 2016 itulah aku mutasi ke SMAIT Granada sebagai seorang guru fisika dan kepala sekolah, hingga saat ini. Jutaan untaian hikmah tentu aku rasakan, suka duka perjalanan menjadi seorang guru adalah bumbu penikmat dan tangga menuju kebahagiaan sebagai seorang guru.

Baca juga:  Belajar Online, Disdikbud Kukar Minta Guru Tingkatkan Kompetensi Mengajar

Di momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2022 ini, aku mengajak seluruh bapak ibu seperjuangan, bapak ibu dewan guru yang sangat mulia, untuk terus memaknai peran dan tanggung jawab kita sebagai guru. Guru seyogyanya  adalah aktualisasi diri kita sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa. Ia bukan sekadar pekerjaan biasa, bukan juga pekerjaan sambilan, apalagi rutinitas belaka, tetapi ia adalah panggilan jiwa, untuk menentukan masa depan negeri tercinta.

Silahkan status apapun dilekatkan kepada kita, entah pahlawan tanpa tanda jasa, “Oemar Bakri” kata Iwan Fals, atau apapun. Namun satu hal yang pasti, guru adalah pahlawan yang penuh dengan jasa. Untuk generasi muda yang saat ini belum menentukan masa depan dan belum memutuskan akan menjadi apapun, maka pilihan menjadi guru adalah pilihan yang juga akan mengantarkan kalian pada kesuksesan dunia dan akhirat, InsyaAllah. Selamat Hari Guru Nasional 2022. Hidup Guru.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram “Kaltimtoday.co”, caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker