Nasional

Narkoba Semakin Marak Selama Pandemi Covid-19, Kemenpora Latih 3.400 KIPAN

Kaltimtoday.co, Jakarta – Di tengah Pandemi Covid-19, penyalahgunaan narkoba semakin marak. Aparat Kepolisian maupun BNN tak henti-hentinya mengungkap berbagai kasus narkotika.

Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN Andjar Dewanto mengungkap, tahun ini, BNN telah mempetakan ada 129 jaringan peredaran narkotika di Indonesia, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Baca juga:  Lokasi Ibu Kota, Isran: Tetap di Bukit Soeharto, tapi Bukan di Hutan Lindung

“Setidaknya 129 jaringan telah kami petakan, sebagian telah terungkap melalui smart power, pengedar sudah semakin canggih, kita harus lebih modern,” ungkap Andjar Dewanto saat menyampaikan materi Pelatihan Kader Inti Pemuda Anti Narkoba yang berlangsung secara virtual, 9-19 Juni 2021.

Berdasarkan data BNN 2019, jumlah prevalensi pengguna narkoba di Indonesia sejumlah 1,80 persen, atau sekitar 3,4 juta pengguna.

Baca juga:  Seleksi CPNS 2019 Sudah Dibuka, Berikut Jadwal Resmi dari BKN

Sebagian besar adalah kelompok usia 15-28 tahun.

Andjar Dewanto mengatakan, jumlah ini adalah yang terlihat di permukaan, jika didalami lagi, jumlahnya dapat lebih besar lagi.

“3,4 juta jumlah prevalensi pengguna, ini jumlah yang berada di permukaan, kita tahu narkoba ini sangat terselubung, jumlah aslinya bisa jadi 5-20 kali lipat dari angka prevalensi tersebut,” ujar Andjar Dewanto.

Baca juga:  Antisipasi Bencana, BNPB Minta Kepala Daerah Kurangi Tidur

Menurut Andjar Dewanto, sistem penegakkan hukum belum dapat menimbulkan efek jera bagi para bandar dan pengedar narkotika.

Andjar Dewanto mengaku sangat miris. Banyak bandar dan pengedar yang sudah divonis masih dapat mengendalikan peredaran narkoba dari balik jeruji besi.

Baca juga:  Isran Noor Setujui Stadion Palaran Dikelola Pihak Ketiga

“Ada beberapa bandar yang sudah kami tangkap dan divonis mati, kami tanya kenapa masih menjual narkoba, jawabannya sangat mencengangkan, katanya saya sudah divonis mati enggak mungkin dua kali divonis mati. Mereka semakin nekat setelah divonis, karena butuh uang,” bebernya.

Melihat para bandar yang tidak pernah kapok sekalipun sudah divonis mati, Asdep Peningkatan Wawasan Pemuda Kemenpora Arifin Majid mengatakan, satu-satunya cara adalah membentengi generasi muda dengan berbagai pemahaman anti narkoba, agar tidak mudah terpapar.

Baca juga:  Awas! Jangan Asal Comot, Ada Lisensi Hak Cipta

“Pelatihan KIPAN yang kami lakukan adalah bentuk ketahanan sosial, agar masyarakat tidak mudah terpapar, karena para pengedar tidak pernah berhenti,” ujarnya.

Pelatihan Kader Inti Pemuda Anti Narkoba digelar secara virtual sejak 9-19 Juni 2021.

Menurut Arifin, berdasarkan penyampaian BNN, usia pemuda menjadi kelompok masyarakat yang terbesar dalam penyalahgunaan narkotika, ini akan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan bonus demografi yang sedang berlangsung saat ini.

Baca juga:  LAPOR WAL! Aplikasi Pengaduan Masyarakat Jika Ada ASN yang Mudik

“Bayangkan 30-50 orang meninggal setiap harinya karena narkoba, karena itu Kemenpora selaku leading sektor kepemudaan terus menggalakkan edukasi anti narkoba di kalangan pemuda,” ucapnya.

Arifin menyatakan, Kemenpora tahun mencanangkan pembentukan 3.400 Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) melalui Pelatihan secara virtual yang berlangsung sejak 9-19 Juni 2021. Kegiatan tersebut diikuti oleh utusan 34 provinsi. Khusus dari Kaltim, ada 100 orang yang ikut serta dalam kegiatan ini.

Baca juga:  Kemenag Bantah Umrah Ditunda Sepanjang 2020

“Ini tugas kami dalam rangka mendukung upaya mewujudkan Indonesia Bersih Narkoba (Indonesia Bersinar) yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi, Pemuda Bersih Narkoba atau Pemuda Bersinar merupakan perwujudan dari program Indonesia Bersinar (bersih narkoba) yang dicanangkan pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Rehabilitasi BNN Haryanto menambahkan, tren penyalahgunaan narkoba dikalangan pelajar dan mahasiswa usia 15-28 tahun sebesar 3,2 persen. Itu artinya dalam 1.000 pemuda terdapat 32 orang pernah mengkonsumsi narkoba.

Baca juga:  Minim Literasi Keuangan, Masyarakat Rugi Rp 117 Triliun Sepanjang 2011-2021 akibat Investasi Bodong

Haryanto menegaskan, tidak ada satu kecamatan pun di Indonesia yang terbebas dari narkoba.

“Data kami mencatat narkoba sudah masuk ke seluruh penjuru negeri, tidak ada satu kecamatan pun yang luput dari peredaran narkoba, karena itu peran pemuda harus diperkuat, minimal mereka bisa menjaga diri mereka sendiri dari paparan narkoba,” pungkasnya.

[TOS]

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker