Opini

Pandji di Samarinda dan Harga Mahal Sebuah Komedi Politik

Kaltim Today
15 Juni 2026 08:26
Pandji di Samarinda dan Harga Mahal Sebuah Komedi Politik
Penulis, Muhammad Sarip.

Oleh: Muhammad Sarip (Sejarawan Publik)

“Menurut keyakinan saya, mengucapkan ‘menurut keyakinan saya’ tidak bisa mengamankan saya dari laporan hukum.”

Begitu pernyataan Pandji Pragiwaksono dalam Stand Up Comedy Show di Plenary Samarinda Convention Hall, Sabtu malam 13 Juni 2026. Karena itulah, panitia melarang audiens untuk merekam dan menyebarkan video show Pandji.

Pada konser band, reputasi tiket penonton paling mahal relatif identik dengan Dewa 19. Sementara di pertunjukan komedi tunggal, rekor tiket termahal dipuncaki oleh Pandji Pragiwaksono. Harganya lebih mahal ketimbang tiket Raditya Dika, yang fansnya lebih banyak.

Sejumlah Gen Z yang hadir di gedung area kompleks GOR Kadrie Oening mengaku FOMO setelah viralnya Mens Rea. Show Pandji 2025 ini tayang di aplikasi streaming Netflix, yang berbuntut enam laporan hukum ke Polda Metro Jaya pada Januari 2026.

Para penonton FOMO ini tidak menonton komedi Pandji yang lain. Mereka hanya mengetahui jokes Pandji dari Mens Rea. Saya memperoleh pengakuan dari beberapa Gen Z, bahwa jokes Pandji yang sebagian besar bernuansa politik tidak relate bagi mereka. Mereka lebih menyukai Raditya Dika yang apolitis.

Memang untuk bisa menikmati komedi politik, penonton harus memiliki pengetahuan dasar yang cukup tentang ilmu politik, tata negara, sejarah, dan humaniora lainnya serta aktif menyimak berita nasional dan daerah. Jika tidak memahaminya, sulit mencerna kelucuan dari komedi politik.

Ini merupakan penampilan pertama Pandji di Samarinda setelah 14 tahun. Sebelumnya, dia tampil di ibu kota Kalimantan Timur pada tur Stand Up Comedy Show 2012 yang berjudul Merdeka dalam Bercanda.

Warga Kaltim dari berbagai kota dan kabupaten antusias menonton show Pandji 2026. Bertajuk Kaltim Paradox: Political Humor, materi komedi yang mengkritik kebijakan Gubernur Kaltim lebih banyak datang dari lima opener lokal. Kelima komika itu adalah Rifky Bleek dari Balikpapan, Khulaifi Thamrin dari Samarinda, Ceril orang Timur, Budi Hardian dari Samarinda, dan Damlie dari Penajam.

Sementara Mr Gamayel yang tampil sebelum Pandji lebih memilih bermain aman. Dia tidak ikut menyinggung kepala daerah. Namun, sang polisi-komika ini malah berani menjadikan sebuah kebijakan Kapolri sebagai setup.

Pandji sendiri selain menjadikan para politikus di Kaltim yang bernama belakang Mas’ud sebagai materi, juga banyak membahas pemerintah pusat. Pendiri komunitas Stand Up Indo itu juga mengingatkan bahwa situasi kepemimpinan saat ini merupakan hasil pilihan mayoritas rakyat. Karena itu, edukasi politik harus dimulai dari rakyat itu sendiri.

Adapun pernyataan Pandji bahwa sebelum tampil dia menyerahkan draf materi kepada kepolisian, entah fakta atau gimik, tampaknya menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang. Bahkan orang yang tidak menontonnya berasumsi bahwa materi Pandji sudah disensor atau difilter oleh aparat sehingga show tidak lucu lagi. 

Tidak! Yang terjadi justru sebaliknya. Narasi kewajiban menyetor naskah itu adalah setup untuk joke bahwa ternyata aparatnya terkena prank. Pandji justru membawakan materi yang tidak tertulis di naskah. 

Saya menyaksikan, Pandji di Samarinda ini tetap kritis dan oposisional terhadap rezim, baik nasional maupun daerah. Kalau serius disensor, tidak akan muncul joke yang misalnya tentang gestur Sekretaris Kabinet Republik Indonesia.

“Pokoknya ada!”

Pandji menutup show dengan kombinasi act out dari henshin atau atraksi transformasi figur superhero kamen riders dan punchline berbasis kutipan pidato populer Presiden Prabowo Subianto. Pecah!

Total tujuh komika ditambah dua MC, Yogi dan Iqsan yang aslinya juga komika founder Stand Up Indo Samarinda, acara tepat waktu tanpa molor, bahkan dimulai lebih cepat 10 menit sebelum rundown, dan semuanya sukses mengajak penonton tertawa; maka menurut keyakinan saya, harga tiket yang mahal itu relatif worth it.

Namun, klaim Pandji bahwa materinya adalah baru kali pertama disampaikan di Samarinda, menurut keyakinan saya tidak sepenuhnya valid. Sebagian bit sudah pernah saya simak di konten Youtube, misalnya cerita kocak di balik 6 pelaporan ke Polda. Juga bit tentang penampilan individu yang pro-kontra terhadap Mens Rea pada acara show debat di TV publik.

Meskipun begitu, mayoritas penonton tetap tertawa. Entah mereka tidak pernah menonton konten pengulangan tersebut, atau mungkin saja mereka tetap bisa menikmati joke yang berulang.

Pandji bilang di waktu mendatang akan mempertimbangkan tur ke Samarinda sebagai satu dari opsinya. Semoga terealisasi.

Evaluasi untuk panitia, ke depannya jika ada lagi heckler, alias penonton yang berulang kali berteriak mengganggu show, sebaiknya bertindak tegas saja sesuai tata tertib, dikeluarkan dari venue. Heckler dari tribun sering beraksi ketika komika membahas kebijakan kepala daerah.

Sudah benar sikap seorang anggota Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Kaltim yang hadir, yakni Sudarno. Dia duduk tertib di kursi VIP tidak menginterupsi ataupun mengganggu jalannya pertunjukan, meskipun atasannya dirujak para komika.

Publik mesti sadar dan paham bahwa Stand Up Comedy adalah ragam kesenian lawak, bukan mimbar bebas, bukan aksi unjuk rasa, bukan seminar atau forum panel ahli. Komunitas yang hobinya bercanda, tidak perlu disikapi serius. Sebaliknya, pejabat publik yang seharusnya bekerja serius untuk kepentingan rakyat, jangan bercanda dengan uang rakyat dan nasib masyarakat umum. (*)


*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co


Berita Lainnya