Nasional
Presiden Prabowo: Pangan Adalah Masalah Hidup dan Mati Bangsa
Kaltimtoday.co - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ekonomi atau komoditas perdagangan biasa. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan pangan erat kaitannya dengan keberlangsungan hidup dan kedaulatan suatu bangsa.
Hal tersebut disampaikan Presiden saat memberikan sambutan dalam peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
“Selalu saya katakan, pangan adalah masalah hidup dan mati suatu bangsa. Saya tidak memandang pangan sebagai sekadar komoditas. Pangan adalah masalah hidup suatu bangsa,” tegas Presiden Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Presiden menyoroti keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan di tengah berbagai tantangan global. Pencapaian ini dinilai sebagai hasil kerja keras pemerintah, para petani, serta seluruh pihak di sektor pangan nasional.
Prabowo mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian yang mampu merealisasikan target swasembada lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya. Saya minta swasembada dalam 4 tahun. Mereka bisa hasilkan dalam 1 tahun. Saya terima kasih,” ujarnya.
Sebagai kepala negara, Prabowo memandang ketahanan pangan sebagai tanggung jawab langsung yang tidak dapat ditawar. Pemenuhan kebutuhan pangan bagi ratusan juta rakyat Indonesia merupakan amanah besar yang menentukan masa depan bangsa.
“Saya yang bertanggung jawab kalau bangsa ini lapar. Saya yang bertanggung jawab,” ucapnya dengan tegas.
Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa pandangannya mengenai pentingnya pangan juga dipengaruhi oleh pengalamannya selama menjalani karier militer. Sebagai mantan komandan pasukan, ia memahami betul bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh persenjataan, melainkan juga ketersediaan logistik.
“Sebelum kita berangkat operasi, kita cek berapa beras yang kita punya. Kalau pasukan tidak ada beras, kalau pasukan tidak makan, tidak bisa perang,” kenang Prabowo.
Presiden menggarisbawahi bahwa urusan pangan tidak boleh semata-mata diukur berdasarkan pertimbangan efisiensi ekonomi atau opsi harga yang lebih murah melalui impor. Hal paling krusial adalah memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga dalam situasi apa pun, terutama di tengah ketidakpastian global.
Saat ini, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan mulai mendapat perhatian dari dunia internasional. Di tengah pembatasan ekspor pangan oleh sejumlah negara, Indonesia justru mulai diminta untuk memasok kebutuhan pangan global.
“Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita. Minta beli beras dari kita,” ungkap Presiden.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa kepentingan rakyat Indonesia dan kesejahteraan petani domestik tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Setiap kebijakan harus mampu menjaga keseimbangan antara solidaritas internasional dan perlindungan dalam negeri.
“Jangan nyetop, tapi jangan jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa lama ini. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu,” tuturnya.
Presiden menilai keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki kemampuan besar untuk mandiri. Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun rasa percaya diri terhadap kemampuan nasional.
“Kita juga harus berani untuk mengiklankan diri kita sendiri. Bukan mengiklankan kebohongan tapi kebenaran,” pungkas Presiden Prabowo.
[TOS]
Related Posts
- Warga Samarinda Tewas di Lubang Tambang PT ECI, Korban di Kaltim Bertambah Jadi 53 Orang
- DAU Juni Cair, Pemkab Kukar Mulai Salurkan Gaji ke-13 ASN Secara Bertahap
- Kader Gerindra Samarinda Kompak Dorong Helmi Abdullah Maju Pilwali 2029
- Kawal Transparansi Pendidikan, Ombudsman Kaltim Buka Posko Pengaduan SPMB dan PMBM Ajaran 2026/2027
- Istana Ungkap Rencana Said Iqbal Masuk Kabinet Prabowo, Bahas Posisi Sektor Buruh







