Daerah
Zetizen Inspiring Talks: Anak Muda Kaltim Jadi Penjaga Budaya dan Pendidik Pedalaman

Kaltimtoday.co, Samarinda Anak muda Kaltim kembali menunjukkan bahwa energi mereka mampu menjadi motor perubahan. Hal itu tergambar dalam kegiatan Zetizen Inspiring Talks: Anak Muda Masa Depan Kaltim yang digelar di Fugo Hotel Samarinda, Sabtu (30/8/2025).
Dua narasumber dihadirkan, yakni Hariyansa, Founder Yayasan Gubang Kutai Kartanegara, serta Olivia Novina Damayanti, Founder 1000 Guru Samarinda. Keduanya berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana peran generasi muda menjaga budaya dan membawa pendidikan ke pelosok.
Hariyansa, atau akrab disapa Anca, membagikan pengalamannya mendirikan Yayasan Gubang yang telah berdiri selama 25 tahun. Berangkat dari keprihatinan melihat anak-anak muda di Tenggarong yang makin jauh dari akar budaya, ia merasa perlu untuk membuat wadah pelestarian seni.
“Generasi muda sekarang banyak terpengaruh budaya luar. Karena itu, kami berupaya mengemas seni dengan cara kekinian supaya tetap menarik dipelajari,” ujarnya.
Meski dalam perjalanannya ia kerap menemui penolakan dari sesama pelaku seni, Anca tidak menyerah. Ia menganggap seni sebagai jalan dakwah yang bisa dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja.
“Seni itu seperti air, bisa mengalir ke mana saja tanpa batasan usia. Bahkan ketika kita tua, seni tetap bisa dijalani sepanjang ada kemauan,” jelasnya.
Ia pun menegaskan pentingnya seni sebagai ruang ekspresi sekaligus kritik sosial yang elegan.
Sementara itu, Olivia Novina Damayanti menceritakan perjalanan 1000 Guru Samarinda, sebuah komunitas yang ia dirikan bersama anak-anak muda Kaltim sejak 2015. Selama satu dekade, mereka konsisten menggelar sejumlah program strategis seperti Traveling and Teaching (TNT), Teaching and Giving (TNG), hingga Smart Center (SC) untuk memberikan pendidikan tambahan, donasi, hingga nutrisi sehat bagi anak-anak pedalaman.

Olivia Novina Damayanti, Founder 1000 Guru Samarinda saat mengisi sesi Zetizen Inspirinh Talks. (Nindi/Kaltimtoday.co)
“1000 Guru Samarinda bukan berarti beranggotakan seribu guru. Filosofinya adalah bahwa siapapun bisa menjadi pendidik tanpa harus bergelar guru,” jelas Olivia.
Dalam satu dekade terakhir, sebanyak 582 relawan telah menorehkan kontribusinya ke 32 sekolah pedalaman, lima panti asuhan, dan satu pondok pesantren di lima kabupaten/kota Kaltim. Total sudah 1.965 anak yang merasakan dampak program ini.
Olivia menutup dengan pesan inspiratif bagi anak muda yang masih ragu untuk berkontribusi. “Kerikil kecil ketika dilempar ke sungai pasti menimbulkan gelombang, walaupun kecil. Begitu juga tindakan kita. Sekecil apapun, pasti memberi dampak,” katanya.
Kisah keduanya menunjukkan bahwa jalan pengabdian bisa beragam: ada yang melalui seni budaya, ada pula lewat pendidikan dan sosial. Namun benang merahnya sama, yaitu semangat anak muda Kaltim untuk tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor penting dalam menjaga identitas sekaligus membangun masa depan daerahnya.
Dengan semangat itu, pesan yang muncul dari Zetizen Inspiring Talks kali ini jelas: masa depan Kalimantan Timur ada di tangan anak mudanya—mereka yang berani mencintai budaya, peduli pendidikan, dan tak gentar melangkah meski dengan langkah kecil.
[NKH]
Related Posts
- Menyambung Suara Komunitas: Suara Zetizen Diluncurkan, Gaungkan Semangat Jurnalisme Konstruktif
- Masa Pengenalan Mahasiswa Baru Berakhir, Rektor UMKT Minta Mahasiswa Selesai Pendidikan Hanya Empat Tahun
- Satu Hari Menuju Zetizen Talk: Kolaborasi Komunitas untuk Kaltim Lebih Baik
- Achmad Efendi, Akademisi dan Aktivis yang Ikut Meramaikan Bursa Calon Ketua KNPI Kaltim
- ETLE Statis Samarinda Masih dalam Pembaruan, ETLE Mobile Banyak Temukan Pelanggaran Helm