Opini
Dari Bully Menjadi Pujian: Momentum Politik Bahlil Lahadalia di Ruang Digital
Oleh: Muhammad Kholid Syaifullah (Direktur Eksekutif Survlus Data Indonesia)
DALAM politik modern, ruang publik tidak lagi hanya dibentuk oleh mimbar resmi, konferensi pers, baliho, atau panggung kampanye. Hari ini, ruang publik banyak bergerak di layar ponsel. Percakapan politik lahir dari potongan video, komentar netizen, meme, satire, hingga perdebatan spontan di media sosial.
Di sana, citra seorang tokoh bisa jatuh dalam hitungan jam, tetapi juga bisa naik dengan cepat ketika momentum politik berhasil dimanfaatkan dengan tepat. Fenomena Bahlil Lahadalia menarik dibaca dari sudut itu. Ia pernah menjadi figur yang cukup sering menjadi bahan kritik, sindiran, bahkan bully di media sosial.
Sebagian publik menilai dirinya tidak cukup kompeten, sebagian lain melihatnya sebagai representasi politik kedekatan dengan kekuasaan, khususnya karena ia kerap dipersepsikan sebagai orang dekat Joko Widodo. Setelah dilantik sebagai Menteri ESDM pada 19 Agustus 2024 dan kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada 21 Agustus 2024, sorotan terhadap Bahlil semakin besar.
Posisi ini membuat setiap tindakan, ucapan, dan ekspresi politiknya tidak lagi hanya dibaca sebagai tindakan personal, tetapi juga sebagai wajah kekuasaan dan wajah partai. Namun politik tidak pernah statis. Tokoh yang hari ini ditertawakan bisa saja besok dipuji. Tokoh yang hari ini dianggap lemah bisa saja mendapat ruang legitimasi baru ketika publik menemukan alasan untuk menilai ulang dirinya.
Dalam konteks Bahlil, salah satu titik balik itu tampak ketika ruang bully yang sebelumnya bernada negatif mulai bergeser menjadi ruang yang lebih cair, bahkan dalam beberapa bagian berubah menjadi bentuk penerimaan. Bahasa Bahlil sendiri, “mengolah” bullyan, menjadi menarik. Sebab di dalam politik, tidak semua serangan harus selalu dilawan dengan kemarahan. Ada kalanya serangan justru dapat diubah menjadi panggung.
Di sinilah politik bekerja bukan hanya sebagai soal kekuasaan formal, melainkan juga sebagai seni membaca momentum.
Politik Adalah Soal Momentum
Dalam politik, momentum sering kali lebih menentukan daripada sekadar niat baik. Banyak tokoh memiliki kapasitas, tetapi gagal membaca waktu. Banyak tokoh memiliki panggung, tetapi gagal mengubah panggung itu menjadi simpati. Sebaliknya, ada tokoh yang semula berada dalam tekanan opini negatif, tetapi mampu membalikkan keadaan karena menemukan titik masuk yang tepat ke dalam psikologi publik.
Bahlil tampaknya sedang berada dalam fase itu. Ia tidak sepenuhnya keluar dari kritik, tetapi ia berhasil memanfaatkan sebagian kritik menjadi ruang komunikasi. Ketika publik mengejek, ia tidak selalu menjawab dengan jarak kekuasaan yang dingin. Ia masuk ke dalam bahasa publik. Ia tampak tidak terlalu kaku menghadapi meme, candaan, bahkan sindiran.
Di tengah masyarakat digital yang cepat bosan dengan gaya pejabat formal, respons semacam itu dapat menciptakan kesan baru: bahwa Bahlil bukan pejabat yang terlalu jauh dari rakyat, melainkan tokoh yang bisa “diajak bercanda”, bisa menerima tekanan, dan tidak selalu tampil defensif.
Dalam teori komunikasi politik, hal ini dekat dengan konsep framing. Robert M. Entman menjelaskan bahwa framing bekerja dengan cara memilih aspek tertentu dari realitas, lalu membuat aspek itu lebih menonjol sehingga publik terdorong melihat suatu peristiwa dari sudut tertentu. Artinya, satu peristiwa yang sama dapat dimaknai secara berbeda tergantung bagaimana ia dibingkai.
Bully bisa dibaca sebagai penghinaan, tetapi juga bisa dibingkai sebagai tanda bahwa seseorang sedang menjadi pusat perhatian publik. Ejekan bisa dibaca sebagai delegitimasi, tetapi juga bisa diolah menjadi bukti bahwa tokoh tersebut cukup populer untuk dibicarakan.
Di titik ini, Bahlil tampaknya berhasil menggeser bingkai. Dari “pejabat yang dibully” menjadi “pejabat yang santai menghadapi bully”. Dari “tokoh yang dipertanyakan kapasitasnya” menjadi “tokoh yang tetap bekerja meski diragukan”. Pergeseran kecil seperti ini dalam politik bisa berdampak besar, karena publik sering kali tidak hanya menilai apa yang dilakukan seorang tokoh, tetapi juga bagaimana tokoh itu membawa dirinya ketika diserang.
Dari Agenda Negatif ke Agenda Simpati
Fenomena Bahlil juga bisa dibaca melalui teori agenda-setting dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Teori ini menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan publik, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang dianggap penting untuk dipikirkan publik. Ketika sebuah isu terus dibicarakan, ia menjadi agenda. Ketika nama seorang tokoh terus muncul, ia menjadi bagian dari perhatian publik.
Awalnya, agenda tentang Bahlil banyak bergerak dalam nada negatif: soal kompetensi, soal kedekatan dengan kekuasaan, soal gaya komunikasi, dan soal posisi politiknya. Tetapi dalam politik digital, perhatian negatif tetaplah perhatian. Seorang tokoh yang terus dibicarakan memiliki bahan dasar popularitas. Masalahnya, apakah popularitas itu berhenti sebagai sentimen negatif, atau dapat diubah menjadi penerimaan?
Di sinilah letak menariknya. Popularitas saja tidak cukup. Dalam survei politik, kita mengenal perbedaan antara popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas. Popularitas berarti dikenal. Akseptabilitas berarti diterima atau disukai. Elektabilitas berarti dipilih. Seorang tokoh bisa sangat populer, tetapi tidak disukai. Ia bisa dikenal luas, tetapi dianggap tidak layak dipilih. Karena itu, tantangan terbesar dalam politik bukan hanya membuat seseorang dikenal, melainkan membuat orang yang sudah dikenal itu juga diterima.
Dalam kasus Bahlil, ruang bully justru membuat namanya semakin dikenal. Tetapi yang lebih penting, ia tampaknya sedang berusaha mengubah popularitas itu menjadi akseptabilitas. Caranya bukan semata-mata dengan pencitraan, tetapi dengan mengaitkan citra dirinya pada isu yang langsung menyentuh kehidupan publik: harga BBM subsidi.
Kementerian ESDM menyatakan pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak naik hingga akhir 2026. Dalam konteks ekonomi rumah tangga, isu seperti ini sangat sensitif. Harga BBM bukan hanya angka di SPBU. Ia berhubungan dengan ongkos transportasi, harga bahan pokok, biaya distribusi, daya beli, dan rasa aman ekonomi masyarakat. Karena itu, ketika Bahlil tampil dalam isu stabilitas BBM subsidi, ia sedang masuk ke wilayah yang sangat dekat dengan kebutuhan sehari-hari publik.
Di sinilah kritik dapat bertemu dengan kinerja. Publik boleh saja sebelumnya meragukan kapasitas seorang pejabat, tetapi ketika kebijakan yang ia komunikasikan dianggap memberi rasa aman, ruang penilaian publik dapat berubah. Dalam politik, persepsi tidak hanya dibangun dari kata-kata, tetapi dari kombinasi antara komunikasi, momentum, dan manfaat yang dirasakan.
Kinerja sebagai Fondasi Citra
Penting untuk ditegaskan bahwa citra politik yang hanya dibangun dari gimmick biasanya tidak tahan lama. Ia bisa viral, tetapi mudah hilang. Ia bisa membuat orang tertawa, tetapi belum tentu membuat orang percaya. Karena itu, keberhasilan Bahlil mengolah ruang bully menjadi simpati akan sangat bergantung pada apakah ia mampu menjaga hubungan antara komunikasi publik dan kinerja nyata.
Dalam teori legitimasi politik Max Weber, kekuasaan tidak hanya bertahan karena jabatan formal, tetapi karena adanya penerimaan dari masyarakat. Weber membagi otoritas ke dalam beberapa bentuk, salah satunya otoritas karismatik, yaitu ketika publik menaruh kepercayaan kepada figur karena dianggap memiliki kualitas personal tertentu. Namun Weber juga mengingatkan bahwa karisma bersifat tidak stabil apabila tidak dilembagakan atau tidak dibuktikan secara terus-menerus.
Bahlil memiliki peluang membangun unsur karismatik itu melalui gaya komunikasi yang khas: lugas, kadang spontan, tidak terlalu teknokratis, dan mudah menjadi bahan percakapan. Tetapi karisma saja tidak cukup. Apalagi ia memimpin kementerian yang sangat teknis dan strategis. Energi bukan hanya soal komunikasi publik, tetapi soal pasokan, harga, subsidi, fiskal, investasi, produksi, transisi energi, dan kepentingan masyarakat luas.
Karena itu, jika Bahlil ingin mempertahankan momentum positif, ia tidak boleh berhenti pada keberhasilan mengubah bully menjadi bahan candaan. Ia harus mengubah simpati menjadi kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa dijaga melalui konsistensi kinerja.
Dalam politik elektoral, kinerja adalah bahan baku utama untuk membangun narasi. Tanpa kinerja, komunikasi hanya menjadi kosmetik. Tetapi tanpa komunikasi, kinerja sering kali tidak terbaca. Bahlil saat ini berada di persimpangan yang menarik: ia memiliki panggung, memiliki jabatan strategis, memiliki partai besar, dan memiliki ruang digital yang mulai memberinya perhatian dengan nada yang lebih lunak. Pertanyaannya, apakah ia mampu mengelola semua itu menjadi modal politik jangka panjang?
Panggung Depan dan Panggung Belakang Politik
Erving Goffman, melalui konsep dramaturgi, menjelaskan bahwa kehidupan sosial sering kali bekerja seperti panggung pertunjukan. Ada panggung depan, tempat seseorang menampilkan diri kepada publik. Ada panggung belakang, tempat strategi, persiapan, dan pengelolaan kesan dilakukan. Dalam politik modern, media sosial adalah panggung depan yang sangat terbuka. Setiap ekspresi pejabat dapat dipotong, diedit, diparodikan, lalu disebarkan ulang oleh publik.
Bahlil tampaknya memahami bahwa panggung depan politik hari ini tidak bisa sepenuhnya dikendalikan. Seorang pejabat tidak bisa memaksa netizen untuk selalu memuji. Tidak bisa pula memadamkan meme hanya dengan instruksi. Yang bisa dilakukan adalah mengolahnya. Ketika publik membuat candaan, seorang tokoh bisa memilih tersinggung, bisa memilih diam, atau bisa memilih masuk ke dalam candaan itu dan mengubah arahnya.
Strategi terakhir inilah yang tampak efektif dalam budaya digital. Masyarakat Indonesia sering kali tidak hanya menilai substansi, tetapi juga gestur. Pejabat yang terlalu kaku sering dianggap berjarak. Pejabat yang terlalu marah dianggap tidak siap dikritik. Sebaliknya, pejabat yang bisa menertawakan dirinya sendiri kadang justru dianggap lebih manusiawi.
Tetapi di sinilah kehati-hatian diperlukan. Terlalu sering masuk ke ruang humor juga bisa membuat seorang tokoh kehilangan wibawa teknokratis. Terlalu banyak bermain di wilayah meme bisa membuat substansi kerja tertutup oleh hiburan. Karena itu, Bahlil perlu menjaga keseimbangan: cukup cair untuk diterima publik digital, tetapi tetap serius dalam isu kebijakan.
Popularitas Belum Tenu Kedisukaan
Dalam politik, banyak tokoh gagal membedakan antara dikenal dan disukai. Padahal dua hal itu berbeda. Seorang tokoh bisa dikenal karena kontroversi, tetapi tidak disukai karena dianggap arogan. Bisa viral karena pernyataan keras, tetapi tidak dipercaya sebagai pemimpin. Bisa sering muncul di media, tetapi tidak dianggap layak memimpin.
Di sinilah konsep kedisukaan menjadi penting. Dalam psikologi politik, pilihan politik tidak hanya dipengaruhi oleh kalkulasi rasional, tetapi juga oleh rasa. Pemilih tidak semata-mata bertanya, “Apakah tokoh ini mampu?” tetapi juga, “Apakah saya nyaman dengan tokoh ini?” “Apakah ia mewakili saya?” “Apakah ia terlihat tulus?” “Apakah ia dekat dengan kehidupan saya?”
Bahlil memiliki peluang pada titik ini. Latar belakangnya sebagai figur yang sering dikisahkan berasal dari perjalanan hidup keras, dari bawah, lalu naik ke posisi kekuasaan, dapat menjadi narasi sosial yang kuat. Narasi seperti ini mudah diterima dalam masyarakat yang masih menghargai cerita perjuangan personal. Namun narasi asal-usul tidak boleh berhenti sebagai cerita biografis. Ia harus diterjemahkan ke dalam sikap kebijakan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat luas.
Jika Bahlil mampu menjaga harga energi yang berdampak langsung pada rakyat kecil, memperkuat komunikasi publik yang tidak berjarak, dan menghindari kesan elitis dalam kekuasaan, maka tingkat kedisukaannya berpotensi tumbuh. Tetapi jika kinerja tidak konsisten, atau jika komunikasi berubah menjadi terlalu agresif, momentum positif itu bisa cepat berbalik. Media sosial sangat mudah memberi panggung, tetapi juga sangat cepat mencabutnya.
Ketua Umum Partai: Tubuh Personal Menjadi Tubuh Institusional
Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil tidak lagi hanya membawa nama dirinya sendiri. Ia membawa wajah partai. Setiap ucapan Bahlil akan dibaca sebagai sinyal Golkar. Setiap langkahnya akan dikaitkan dengan arah politik Golkar. Setiap keberhasilan personalnya dapat menjadi keuntungan elektoral partai, tetapi setiap kegagalannya juga dapat menjadi beban institusional.
Ini penting karena partai politik di Indonesia sering kali menghadapi krisis kedekatan dengan publik muda dan pemilih digital. Banyak partai masih berbicara dengan bahasa elite, sementara percakapan publik sudah bergerak dengan bahasa media sosial. Bahlil, dengan segala kontroversi dan spontanitasnya, justru memiliki peluang untuk menjadi jembatan antara elite partai dan ruang publik digital.
Namun peluang itu hanya akan menjadi modal jika dikelola secara disiplin. Partai politik tidak cukup hanya memiliki ketua umum yang viral. Partai membutuhkan figur yang dapat memperluas penerimaan, menjaga soliditas internal, membangun kaderisasi, dan mengubah perhatian publik menjadi kepercayaan politik.
Dalam konteks ini, Bahlil sedang diuji pada dua level sekaligus: sebagai pejabat publik dan sebagai pemimpin partai. Sebagai pejabat, ia harus membuktikan kapasitas teknokratis. Sebagai ketua umum partai, ia harus membuktikan kapasitas politik. Sebagai figur digital, ia harus membuktikan bahwa viralitas dapat diarahkan menjadi legitimasi.
Jalan Menuju Capres atau Cawapres?
Apakah Bahlil bisa menjadi figur yang diperhitungkan sebagai calon presiden atau calon wakil presiden ke depan? Secara politik, pertanyaan ini tidak berlebihan. Ia memimpin partai besar, berada di posisi kementerian strategis, memiliki akses ke panggung nasional, dan namanya sudah masuk dalam percakapan publik. Dalam politik Indonesia, kombinasi antara jabatan strategis, kendaraan partai, kedekatan dengan jaringan kekuasaan, dan kemampuan membangun penerimaan publik adalah modal yang tidak kecil.
Tetapi untuk menuju level capres atau cawapres, Bahlil membutuhkan lebih dari sekadar popularitas. Ia membutuhkan tiga hal.
Pertama, rekam kinerja yang kuat. Publik harus melihat bahwa ia bukan hanya komunikator yang cair, tetapi juga pengambil keputusan yang efektif. Isu energi dapat menjadi panggung besar jika ia berhasil menjaga stabilitas, transparansi, dan keberpihakan pada masyarakat.
Kedua, akseptabilitas lintas segmen. Bahlil tidak cukup hanya disukai oleh pendukung partai atau kelompok tertentu. Ia harus diterima oleh pemilih muda, kelas menengah, masyarakat daerah, pelaku usaha, kelompok pekerja, dan pemilih yang selama ini skeptis terhadap elite politik.
Ketiga, narasi kebangsaan yang lebih besar. Untuk menjadi figur nasional, seorang tokoh tidak boleh hanya dikenal karena jabatan atau kontroversi. Ia harus membawa gagasan. Ia harus memiliki tema besar: energi berkeadilan, ekonomi kerakyatan, hilirisasi yang menyejahterakan, atau mobilitas sosial bagi anak-anak dari daerah. Tanpa narasi besar, popularitas akan berhenti sebagai percakapan sesaat.
Bahlil punya bahan untuk itu. Tetapi bahan politik tidak otomatis menjadi bangunan politik. Ia harus dirancang, diuji, dan dijaga.
Mengolah Momentum, Menjaga Kepercayaan
Pelajaran penting dari fenomena Bahlil adalah bahwa dalam politik digital, sentimen negatif bukan akhir dari segalanya. Bully bukan selalu kuburan citra. Dalam kondisi tertentu, bully justru bisa menjadi pintu masuk popularitas, asalkan tokoh tersebut mampu merespons dengan tepat dan mengikatnya dengan kinerja.
Namun momentum tetaplah momentum. Ia tidak abadi. Hari ini publik bisa memuji karena merasa terhibur atau merasa terbantu. Besok publik bisa kembali mengkritik jika menemukan inkonsistensi. Karena itu, tugas Bahlil bukan hanya memanfaatkan momentum, tetapi menjaga hasil dari momentum tersebut.
Jika ia mampu terus bekerja di ruang publik, menjaga komunikasi yang manusiawi, membuktikan kapasitas di sektor energi, dan menjadikan posisinya sebagai Ketua Umum Golkar sebagai panggung konsolidasi politik yang produktif, maka bukan tidak mungkin Bahlil Lahadalia akan menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam kontestasi nasional ke depan. Tetapi jika momentum ini hanya berhenti sebagai viralitas, ia akan lewat begitu saja.
Politik pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling sering dibicarakan. Politik adalah tentang siapa yang paling mampu mengubah perhatian menjadi penerimaan, penerimaan menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi pilihan.
Dalam konteks itulah Bahlil sedang diuji. Ia telah berhasil masuk ke ruang percakapan publik. Ia mulai mengubah sebagian ejekan menjadi simpati. Kini pertanyaannya tinggal satu: apakah ia mampu menjadikan simpati itu sebagai fondasi kepemimpinan politik yang lebih besar? (*)
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi kaltimtoday.co
Related Posts
- Cuma 45 Menit! Wings Air Siap Buka Penerbangan Perdana Rute Samarinda–Melak 3 Kali Seminggu
- Tiket Pesawat Mahal, Penumpang Bandara Sepinggan Turun hingga 9 Ribu per Hari
- Hasil Piala Dunia 2026: Cetak Gol Comeback, Korea Selatan Bungkam Ceko 2-1
- Proyek Terowongan Samarinda Molor, Alarm Akuntabilitas APBD
- Wartawan Legend Bedapatan ke-4 Gelar Konvensi Media Siber di Samarinda, Bahas Peran Pers Merawat Harmoni di Kaltim








