Nasional

Ekonom Ingatkan Bahaya Karhutla di Tengah El Nino: Picu Beban Kesehatan hingga Inflasi Pangan

Network — Kaltim Today 24 Agustus 2026 07:44
Ekonom Ingatkan Bahaya Karhutla di Tengah El Nino: Picu Beban Kesehatan hingga Inflasi Pangan
Ilustrasi. (Miko/Kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah fenomena iklim El Nino dinilai berpotensi memicu dampak kerugian ekonomi berantai yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai fisik kawasan hutan yang terbakar.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menjelaskan, bencana karhutla memiliki efek pengganda (multiplier effect) sistemik yang berimbas langsung pada penurunan produktivitas tenaga kerja, gangguan layanan pendidikan, pembatalan transportasi, hingga pelambatan roda ekonomi.

“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah,” ujar Fakhrul, Minggu (23/8/2026).

Fakhrul memaparkan, kabut asap tebal memicu lonjakan penyakit saluran pernapasan yang berujung pada naiknya beban biaya medis masyarakat. Pada saat yang sama, jarak pandang yang terbatas turut melumpuhkan sektor penerbangan, distribusi logistik, dan perdagangan lokal.

Bagi daerah sentra pertanian, kondisi kekeringan panjang akibat El Nino yang diperparah oleh karhutla dapat menurunkan pasokan air irigasi serta menekan angka produksi komoditas pangan, yang pada akhirnya memicu lonjakan inflasi harga kebutuhan pokok.

Menurut Fakhrul, investasi pada pos mitigasi dan pencegahan bencana merupakan langkah vital untuk menjaga stabilitas ekonomi. Keberhasilan alokasi anggaran kebencanaan justru terbukti saat krisis berhasil dicegah sebelum eskalasi membesar.

“Kita sering dapat menghitung biaya sebuah bencana setelah terjadi. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” jelas Fakhrul.

Ia menegaskan, biaya kesiapsiagaan dan peringatan dini (early warning system) relatif terukur dan terencana, sedangkan biaya pemulihan pascabencana tak terkendali serta menuntut pengeluaran berkali-kali lipat.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun BPBD di daerah dinilai mendesak untuk memastikan kesiapan sistem pemantauan, ketersediaan logistik darurat, hingga pemeliharaan armada operasional.

“Kita tentu berharap risiko El Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Namun, harapan harus disertai kesiapan. Karena biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya ekonomi, kesehatan dan sosial ketika sebuah bencana sudah terlanjur membesar,” pungkasnya. 

[RWT] 



Berita Lainnya