PEMKAB BERAU

Hadapi Kemarau Panjang, Warga dan Pemkab Berau Gelar Salat Istisqa di Masjid Baitul Hikmah

Kaltim Today
19 Agustus 2026 12:21
Hadapi Kemarau Panjang, Warga dan Pemkab Berau Gelar Salat Istisqa di Masjid Baitul Hikmah
Suasana salat Istisqa di Halaman Masjid Agung Baitul Hikmah, Berau. (Miko/kaltimtoday.co)

Kaltimtoday.co, Berau - Terik kemarau belum juga beranjak dari Berau. Di tengah kondisi yang semakin kering, halaman Masjid Agung Baitul Hikmah justru dipenuhi warga yang datang membawa satu harapan: hujan segera turun.

Suasana khidmat dan antusias mewarnai pelaksanaan Salat Istisqa yang berlangsung pada, Rabu (19/8/2026) tersebut.

Berbagai kalangan hadir, mulai dari pejabat daerah, tokoh masyarakat hingga kawula muda. Mereka berdiri dalam barisan yang sama, menundukkan kepala dan bersama-sama memanjatkan doa sebagai ikhtiar menghadapi kemarau yang berkepanjangan.

Bagi masyarakat, Salat Istisqa menjadi ruang untuk menyatukan harapan. Sebab, kemarau yang berlangsung tidak hanya membuat udara terasa semakin panas dan kering, tetapi juga membawa dampak lain yang mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tetap berbondong-bondong menghadiri pelaksanaan Salat Istisqa, meski pelaksanaannya diumumkan dalam waktu yang cukup mendadak.

“Saya rasa apabila diumumkannya beberapa hari sebelumnya, mungkin jemaah yang hadir bisa semakin membludak,” kata Gamalis

Menurutnya, tingginya kehadiran masyarakat menunjukkan adanya kesamaan harapan di tengah kondisi kemarau yang sedang dihadapi.

Ia meyakini, seluruh jemaah yang hadir datang dengan tujuan yang sama, yakni memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala agar hujan segera diturunkan.

“Kita semua tentu berharap hujan segera turun, sehingga dampak dari kemarau ini bisa segera berakhir,” ujarnya.

Gamalis menuturkan, persoalan kemarau menjadi semakin serius ketika turut memicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Ketika karhutla meluas, kata dia, dampaknya tidak hanya berhenti pada lahan yang terbakar. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan membuat kualitas udara menurun.

Di saat yang sama, risiko gangguan kesehatan, khususnya penyakit pernapasan, juga semakin besar.

“Ketika kemarau dan dampaknya yakni karhutla kian meluas, tidak dapat dipungkiri dapat menimbulkan efek yang kian pekat dan mengganggu aktivitas masyarakat, seperti kabut asap dan risiko gangguan penyakit pernafasan,” tuturnya.

[MGN | ADV PEMKAB BERAU]



Berita Lainnya