Kutim

Januari hingga Maret 2022, Kasus Kebakaran di Kutim Telan Kerugian Hampir Rp1,5 Miliar

Kaltim Today
21 April 2022 08:35
Januari hingga Maret 2022, Kasus Kebakaran di Kutim Telan Kerugian Hampir Rp1,5 Miliar

Kaltimtoday.co, Sangatta - Peristiwa kebakaran di Sangatta, Kutai Timur (Kutim) pada Januari hingga Maret 2022 mengalami penurunan dibanding periode yang sama 2021.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) dan Penyelamatan Kutai Timur (Kutim), Failu mengatakan, setidaknya terjadi 6 peristiwa kebakaran dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

“Kalau 2021 dari Januari sampai Maret ada 12 kasus, sementara dalam setahunnya ada 33 peristiwa,” kata Failu saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (20/4/2022).

Dari jumlah 33 kasus yang terjadi selama setahun di 2021 itu, kata Failu, 25 kasus di antaranya kebakaran bangunan, kemudian 3 kendaraan, dan selebihnya kebakaran lahan atau hutan.

“Sementara untuk di 2022, 6 peristiwa kebakaran semuanya kebakaran bangunan rumah,” sebutnya.

Akibat kebakaran yang terjadi dalam kurung waktu tiga bulan terakhir ini, kerugian yang ditanggung oleh pemilik rumah sekitar Rp 1,5 miliar. Sementara, untuk korban jiwa dalam peristiwa itu masih nihil.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Kaltim Today (@kaltimtoday.co)

“Meski sampai saat ini peralatan yang kami punya bisa dikata sangat kekurangan, APD seperti baju anti panas dan helm pun sudah tidak layak, personel kami hanya bermodal keberanian yang besar,” paparnya.

Failu menambahkan selain persoalan APD yang kekurangan, skill yang dimiliki tim pemadam pun belum ada yang sesuai SOP.

“Minimal mereka harus mengikuti Diklat tingkat I namun kembali lagi sampai saat ini petugas kami belum ada yang bersertifikat. Mereka hanya bermodal keberanian dan sudah tertanam di jiwanya bekerja dengan dasar kemanusiaan,” cerita Failu lagi.

Data dari Disdamkar dan Penyelamatan Kutim menyebutkam, penyebab kebakaran utama adalah hubungan arus pendek listrik atau konsleting, kompor, dan puntung rokok masih menyala dibuang sembarangan.

“Berdasarkan rekap data 2022 sampai bulan April ini kasus ke­bakaran yang diaki­batkan arus listrik tinggi, dan kelalaian saat memasak yang lupa mematikan kompor,” katanya.

Menurutnya, hampir semua wilayah di Kutim merupakan rawan kebakaran. Sementara, untuk kebakaran lahan, lebih disebabkan karena musim kemarau dan kurang pedulinya masyarakat. Seperti membiarkan banyaknya semak belukar atau membiarkan kebakaran lahan yang awalnya kecil.

“Kebakaran bangunan tidak mengenal musim,” terangnya.

Kaitan dengan maraknya bangunan yang terbakar, sambung dia, hal itu lebih dikarenakan dalam bangunan tidak tersedia alat proteksi kebakaran yang memadai. Sebab, selama ini bangunan-bangunan yang ada di Sangatta tidak ada sistem proteksi kebakaran. Kalau pun ada tidak memadai.

“Seharusnya syarat sebelum pembangunan harus ada rekomendasi dari Dinas Kebakaran, yakni layak fungsi proyeksi kebakaran,” tegasnya.

Dengan jumlah luas wilayah dan kepadatan penduduk serta bangunan di Kutim, masih belum ideal jumlah pos Damkar yang dimiliki instansinya. Bahkan, alat-alat pemadam kebakaran yang dimilikinya pun juga masih sangat jauh dari cukup.

“Kalau idealnya kita harus punya 15 pos Damkar. Tapi sekarang baru ada sepuluh pos Damkar,” sebutnya.

10 pos pemadam kebakaran yang ada di Kutim. Di antaranya, pos pemadam Jalan Pendidikan, Kecamatan Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Selatan, Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Wahau dan Kongbeng. Jumlah personel yang disiapkan sebanyak 245 orang tersebar di 10 pos di Sangatta maupun luar Sangatta.

Di antaranya, pos Jalan Pendidikan ada 3 mobil pemadam yang 1 mobil water tank (penyuplai air) dengan personel 28 orang. Kemudian, di pos stadion Jalan Soekarno-Hatta ada 1 mobil pemadam 17 personel, pos Sangatta Utara 1 mobil dan water  tank dan pos di Kecamatan Sangatta Selatan 1 mobil 24 personel. Selanjutnya, di Kecamatan Bengalon 1 mobil pemadam 13 personel.

“Di Kutim ini juga belum ada terbentuk tim relawan. Sebenarnya relawan itu sangat dibutuhkan namun saya berfikir kebutuhan seperti kelengkapan APD untuk personil kami sendiri saja masih kekurangan, setidaknya jika ada relawan kita beri modal APD untuk keselamatan jiwa,” harapnya.

Failu mengingatkan masyarakat harus berhati-hati, selama Ramadan dan Lebaran terutama dalam penggunaan listrik dan kompor.

“Seperti listrik stop kontaknya jangan sampai ada timpang tindih, kabelnya harus standar PLN. Kemudian, penyiapan buka puasa dan sahur jangan sampai lalai menggunakan kompor. Karena bahaya kebakaran sangat merugikan kita semua,” tutupnya.

[EL | NON]

 Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kaltimtoday.co. Mari bergabung di Grup Telegram "Kaltimtoday.co", caranya klik link https://t.me/kaltimtodaydotco, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Berita Lainnya