Kaltim
Jatam Kaltim Tegaskan Tidak Terlibat Festival Sungai Santan III, Soroti Dugaan Pembajakan Agenda Warga
Kaltimtoday.co, Samarinda - Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim menegaskan tidak terlibat dalam Festival Sungai Santan III yang akan digelar 27 November 2025 di Marangkayu, Kutai Kartanegara. Jatam menyebut tidak pernah diundang maupun diberi informasi terkait penyelenggaraannya, sebab festival itu sejak awal merupakan ruang perjuangan warga dalam menolak tambang.
“Sejak awal, Festival Sungai Santan adalah wadah perjuangan warga yang lahir dari keresahan masyarakat terhadap kerusakan lingkungan,” ujar Dinamisator Jatam Kaltim, Mustari Sihombing dalam keterangan tertulisnya. Ia menilai penyelenggaraan festival tahun ini tidak lagi mencerminkan semangat tersebut.
Menurut Jatam, kegiatan yang dulu digagas oleh Kelompok Tani Muda Santan bersama warga serta aktivis lingkungan itu kini justru diduga kuat dibajak kepentingannya. Mustari menyebut adanya dugaan pendanaan dari PT Indominco Mandiri (IMM), perusahaan tambang batubara yang dianggap sebagai aktor utama kerusakan Sungai Santan.
“Kami perlu menegaskan bahwa Jatam tidak punya hubungan apa pun dengan kegiatan ini. Apalagi bila terdapat keterlibatan perusahaan yang selama ini kami nilai sebagai penyebab utama rusaknya sungai,” katanya.
Dalam rilis resminya, Jatam merujuk laporan “Membunuh Sungai” yang menunjukkan indikasi pencemaran berat di Sungai Palakan dan Sungai Santan. Hasil uji kualitas air memperlihatkan pH di bawah baku mutu, tingginya kandungan sedimen, serta hilangnya biota sungai yang menjadi sumber protein warga. Debit air bersih yang dulu menopang kehidupan masyarakat juga terus menurun.
Kerusakan ekologis juga diperkuat oleh berbagai riset akademik yang mencatat perubahan struktur sungai, banjir yang lebih sering terjadi, sedimentasi besar-besaran, serta banyaknya lubang tambang yang belum direhabilitasi. Dalam rentang 1997-2010, tercatat 11 warga tewas diterkam buaya akibat hewan tersebut kehilangan habitat dan mendekati permukiman.
Di sisi lain, perjuangan warga Santan telah berlangsung sejak awal 2010-an. Kelompok Tani Muda Santan secara konsisten melakukan aksi protes, mengirim surat keberatan, melakukan inspeksi lapangan mandiri, hingga mengorganisir warga untuk mempertahankan lahan dari ekspansi tambang. Berbagai upaya pendataan mandiri terhadap kebun mati, air tercemar, dan hilangnya mata pencarian juga terus dilakukan.
Dengan dasar perjuangan panjang itu, Jatam menyayangkan apabila festival justru dijadikan ruang pencitraan. “Jika benar kegiatan ini didanai perusahaan tambang, maka itu sangat berlawanan dengan tujuan awal festival. Ini rentan menjadi upaya greenwashing,” ucap Mustari.
Ia mengingatkan bahwa pada Agustus 2024, forum warga Desa Santan masih melakukan aksi menuntut PT Indominco menghentikan pembuangan limbah batubara dan pencemaran udara dari aktivitas conveyor. Menurut Jatam, kondisi ini menunjukkan masalah lingkungan belum pernah ditangani serius.
Jatam menegaskan tidak ingin dikaitkan dengan kegiatan yang berpotensi menutup-nutupi persoalan warga. “Komitmen kami tetap bersama masyarakat Santan. Kami akan terus memastikan perjuangan pemulihan sungai dan ruang hidup tidak dilemahkan oleh acara seremonial,” tutur Mustari.
Related Posts
- Koalisi Dosen Unmul Tolak Konsesi Tambang untuk Perguruan Tinggi
- JATAM Kecam Revisi UU Minerba: Perguruan Tinggi dan UMKM Jadi Tameng Baru Pemerintah untuk Eksploitasi Sumber Daya Alam
- Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Wacana DPR Berikan Izin Tambang untuk Perguruan Tinggi
- Gelar Festival Ibu Bumi Menggugat, Kader Hijau Muhammadiyah Bersama NGO Serukan Penolakan Ormas Keagamaan Terima Izin Usaha Pertambangan
- Baca Puisi hingga Demo Masak, Cara Kelompok Aksi Pejuang HAM di Samarinda Sindir Pemerintahan Prabowo-Gibran









